Monday, 30 September 2019

8 MACAM REZEKI DARI ALLAH سبحانه وتعالى  


8 MACAM REZEKI DARI ALLAH سبحانه وتعالى
 

1⃣ Rezeki Yang Telah Dijamin. 

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ.
 
"Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya." (QS. Hud : 6)

2⃣ Rezeki Karena Usaha. 

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى...

"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya."
(QS. An-Najm : 39). 

3⃣. Rezeki Karena Bersyukur. 

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ...

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim : 7)

4⃣. Rezeki Tak Terduga. 

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

"Barangsiapa yang bertakwa kepada ALLAH niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." 
(QS. At-Thalaq : 2-3).

5⃣. Rezeki Karena Istighfar. 

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا.

"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.”
(QS. Nuh : 10-11).

6⃣. Rezeki Karena Menikah. 

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ.

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka ALLAH akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya."
(QS. An-Nur : 32). 

7⃣. Rezeki Karena Anak. 

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ.

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (QS. Al-Israa' : 31). 

8⃣. Rezeki Karena Sedekah. 

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً.

"Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada ALLAH, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka ALLAH akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak." (QS. Al-Baqarah : 245)



Copyright © www.murtawafz.com2019

Sunday, 29 September 2019

RUBRIK ILMU HADIST



Jumlah Hadits Shahih

Pernahkah terlintas dalam pikiran kita mengira-ngira jumlah hadits yang shahih dari Nabi saw ?

Al-Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani dalam kitabnya: an Nakt ‘ala kitab Ibnish-Salah halaman 992 menuturkan: Abu Ja’far Muhammad bin al Husain dalam kitab at Tamyiiz dari Syu’bah, ats-Tsauri, Yahya bin Sa’id, Ibnul Mahdi, Ahmad bin Hanbal dll, bahwa jumlah hadits musnad dari Nabi saw (yakni yang shahih tanpa pengulangan) sebanyak 4.400 hadits saja.

Jumlah ini lebih banyak dari yang disebutkan al-Hafidz Ibnu Rajab dari Imam Abu Dawud yang menyebutkan hanya 4.000 saja (Jami’ al ulum wal hikam:9). Tentu yang dimaksudkan mereka, adalah hadits shahih seputar hukum.

Mari kita hitung sederhana,

📚Hadits dalam shahih Bukhari dan Muslim tanpa berulang semuanya sebanyak 2.980 hadits,
📚Hadits dalam sunan Abi Dawud selain yang sudah disebutkan dalam shahih Bukhari dan Muslim, tanpa pengulangan sebanyak 2450 hadits
📚Dalam Jami’ Tirmidzi selain yang terdapat dalam 2 kitab shahih dan sunan Abi Dawud, sebanyak 1350 hadits tanpa pengulangan.
📚Dalam sunan Nasa’i, selain yang terdapat dalam keempat kitab hadits diatas, sebanyak 2400 hadits tanpa pengulangan.
📚Hadits yang ada dalam sunan Ibnu Majah selain yang sudah disebutkan dalam 5 kitab diatas sebanyak 600 hadits marfu tanpa pengulangan dimana lebih dari 500 dari padanya yang dhaif.
📚Hadits dalam Kitab Muwaththa selain yang sudah disebutkan sebelumnya hanya 50 hadits
📚Hadits dalam musnad Imam Ahmad secara mandiri sekitar 1500 hadits
📚Kita tambahkan hadits dalam kitab Nailul Autar yang berasal dari sunan Daraquthni dan mu’jam Thabrani secara mandiri berjumlah 500 hadits.

Total keseluruhan dari 9 kitab hadits yang disebutkan berjumlah 11.830 hadits. Sedangkan yang shahih sebagaimana disebutkan dimuka hanya 4.400 hadits.

Betapa lebih banyak hadits dhaif dan maudhu' yaitu 62.8% dari pada hadits yang shahih yaitu 37.2%.


Jumlah total hadits diatas belum lagi ditambah hadits mandiri dalam kitab shahih Ibnu Khuzaimah, shahih Ibnu Hibban dll.


Syeikh al-Ghumari berpendapat, pernyatan ulama mutaqoddimin yang menghitung hadits shahih sekitar 5.000 an itu hanya yang shahih lidzatih belum mencakup yang hasan. Adapun bila gabungan keduanya tanpa berulang menurut beliau mencapai 30.000 hadits sedangkan yang dlhaif dan maudhu' mencapai 70.000 hadits. Dua kali lipat lebih, hadits dhaif dan palsu melebih jumlah hadits yang shahih. Masya’ Allah


Paparan sederhana diatas cukup menjadi penyemangat para thullab ilmu hadits, berupaya maksimal untuk memilah hadits shahih dan hadits dhaif demi menjaga keaslian Sunnah yang telah diajarkan oleh Rasulillah saw 14 abad yang lalu.


Wallahu A’lam.




Copyright © www.murtawafz.com2019


Saturday, 28 September 2019

KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU SELAMA HAYAT

PERTANYAAN :
 
Assalamu'alaikum, adakah keterangan yang menerangkan tentang kewajiban menuntut ilmu seumur hidup?
 
JAWABAN :
 
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh. Dalam kitab Qaami' thughyan disebutkan :
 
وقال  رسول الله صلى الله عليه وسلم: اطلب العلم ولو بينك وبينه بحر من نار،  وقال صلى الله عليه وسلم: اطلب العلم من المهد إلى اللحد أي إن تعلم العلم  فرض في جميع الأوقات والحالات.
 
Rasulullah SAW bersabda : Carilah ilmu, walaupun di antara kamu dan ilmu terpisah lautan api. Sabdanya : Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat (Artinya menuntut ilmu hukumnya fardhu disetiap waktu dan kesempatan.
Selengkapnya dipetikkan dari kitab Qaami' Thughyaan :
 
MATERI KE TUJUH BELAS "MENUNTUT ILMU"
 
الشعبة السابعة عشرة  طلب العلم
     عن عبد الله بن مسعود قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من تعلم  بابا من العلم ينتفع به في آخرته ودنياه كان خيرا له من عمر الدنيا سبعة  آلاف سنة صيام نهارها وقيام ليالها مقبولا غير مردود.
 
Rasulullah  SAw bersabda : Barangsiapa yang belajar satu bab dari ilmu kemudian  dimanfaatkan untuk urusan akhirat dan dunianya,maka hal itu lebih baik  dari umur dunia tujuh ribu tahun,siangnya berpuasa dan malamnya  digunakan untuk Shalat sunah yang kesemua ibadah itu diterima,tidak  tertolak.
 
وعن معاذ بن جبل قال قال رسول الله صلى الله  عليه وسلم: تعلموا العلم فإن تعلمه لله حسنة ودراسته تسبيح والبحث عنه  جهاد وطلبه عبادة وتعليمه صدقة وبذله لأهله قربة والفكر في العلم يعدل  الصيام ومذاكرته تعدل القيام.
 
Rasulullah SAW bersabda  : Pelajarilah ilmu.karena sesungguhnya belajar ilmu karena Allah adalah  kebaikan,menderes ilmu bernilai tasbih,membahasnya bernilai  jihad,mencarinya adalah ibadah,mengajarkannya bernilai  shadaqah,menyampaikanilmu kepada ahlinya bernilai qurbah/ibadah,berfikir  dalam ilmu menandingi ibada puasa,dan mudzakarah dalam ilmu menandingi  Shalat malam.
 
وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اطلب  العلم ولو بينك وبينه بحر من نار، وقال صلى الله عليه وسلم: اطلب العلم من  المهد إلى اللحد أي إن تعلم العلم فرض في جميع الأوقات والحالات.
 
Rasulullah SAW bersabda : Carilah ilmu,walaupun diantara kamu dan ilmu terpisah lautan api.
Sabdanya : Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat (Artinya menuntut ilmu hukumnya fardhu disetiap waktu dan kesempatan.
 
و  في حديث عبد الله بن عمرو رضي الله عنه في الصحيحين : إن الله لا يقبض  العلم انتزاعا ينتزعه من الناس و لكن يقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالم  اتخذ الناس رؤساء جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا و أضلوا.
 
Diriwayatkan  Abdillah bin 'Amr r.a dalam shahih Bukhari dan muslim :  Sesungguhnya  Allah tidak mengambil ilmu dengan mencabutnya dari sekalian  manusia, tetapi dengan mewafatkan Ulama sehingga tidak tersisa seorang  alim, maka pada saat itu manusia mengangkat pemimpin yang bodoh dalam hal  agama,maka ketika mereka ditanya, maka mereka memberikan fatwa tanpa  didasari ilmu, maka mereka tersesat dan menyesatkan.
 
وقال بعض السلف العلوم أربعة الفقه للأديان والطب للأبدان والنجوم للأزمان والنحو للسان
 
Telah  berkata sebagian ulama salaf : Ilmu itu ada empat macam,Fiqh untuk  agama,ilmu pengobatan untuk badan,ilmu nujum/falaq untuk mengetahui  zaman,dan nahwu untuk lisan.
 
(واعلم) أن تحصيل العلم  على نوعين كسبي وسماعي فالكسبي هو العلم الحاصل بمداومة الدرس والقراءة على  الأستاذ، والسماعي هو التعلم من العلماء بالسماع في أمور الدين والدنيا  وهذا لا يحصل إلا بمحبة العلماء والإختلاط معهم والمجالسة لهم والإستفسار  منهم.
 
Ketahuilah,bahwa keberhasilan ilmu dapat diraih dengan dua cara : Dengan cara Kasbiy dan sama'iy. Cara  kasab adalah ilmu yang dihasilkan dengan cara melanggengkan deres dan  membacakannya disepan guru (dalam pesantren dikenal sistem sorogan dan  bandungan). Cara sama'i adalah belajar ilmu dari ulama  dengan cara mendengarkannya baik urusan dunia maupun akhirat,Dan cara  ini tidak akan berhasil kecuali dengan adanya mahabah (kecintaan) pada  ulama,dan bergaul bersamanya,dan duduk belajar bersamanya serta  mendengarkan penafsiran dan penjabaran darinya.
 
ويجب  على المتعلم أن ينوي بتحصيل العلم رضا الله تعالى والدار الآخرة وإزالة  الجهل عن نفسه وعن سائر الجهال وإحياء الدين وإبقاء الإسلام بالعلم وينوي  به الشكر على نعمة العقل وصحة البدن ولا ينوي به إقبال الناس إليه واستجلاب  متاع الدنيا والإكرام عند السلطان وغيره.
 
Dan wajib  atas orang yang belajar (yang belajar ilmu) menanamkan niat dengan  menghasilkan ilmu itu untuk menggapai ridha Allah dan kebahagian di  akhirat,menghilangkan kebodohan dari dirinya,dan juga orang  lain,menghidupkan syi'ar agama,mengokokan islam dengan ilmu,dan  bersyukur atas ni'mat diberikan akal yang sempurna ketika menghasilkan  ilmu,juga atas kesehatan badan/tubuh. Dan jangan punya  niat/keinginan dan ambisi dijadikan tokoh oleh manusia,dan menarik  keuntungan duniawi atau materi,dan keinginan diberikan kedudukan dalam  kepemerintahan,dan tujuan-tujuan lainya yang menyalahi tujuan menuntut  ilmu yang sebagaimana dimaksud oleh syara'.
Allah berfirman :
قال  تعالى : يرفع الله الذين آمنوا منكم و الذين أوتوا العلم درجات و الله بما  تعملون خبير.  و قوله هل يستوى الذين يعلمون و الذين لا يعلمون إنما يتذكر  أولوا الالباب[38].
 

 

 
Copyright © www.murtawafz.com 2019

KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU SELAMA HAYAT

PERTANYAAN :
 
Assalamu'alaikum, adakah keterangan yang menerangkan tentang kewajiban menuntut ilmu seumur hidup?
 
JAWABAN :
 
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh. Dalam kitab Qaami' thughyan disebutkan :
 
وقال  رسول الله صلى الله عليه وسلم: اطلب العلم ولو بينك وبينه بحر من نار،  وقال صلى الله عليه وسلم: اطلب العلم من المهد إلى اللحد أي إن تعلم العلم  فرض في جميع الأوقات والحالات.
 
Rosulullah SAW bersabda : Carilah ilmu, walaupun di antara kamu dan ilmu terpisah lautan api. Sabdanya : Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat (Artinya menuntut ilmu hukumnya fardhu disetiap waktu dan kesempatan.
Selengkapnya dipetikkan dari kitab Qaami' Thughyaan :
 
MATERI KE TUJUH BELAS "MENUNTUT ILMU"
 
الشعبة السابعة عشرة  طلب العلم
     عن عبد الله بن مسعود قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من تعلم  بابا من العلم ينتفع به في آخرته ودنياه كان خيرا له من عمر الدنيا سبعة  آلاف سنة صيام نهارها وقيام ليالها مقبولا غير مردود.
 
Rasulullah  SAw bersabda : Barangsiapa yang belajar satu bab dari ilmu kemudian  dimanfaatkan untuk urusan akhirat dan dunianya,maka hal itu lebih baik  dari umur dunia tujuh ribu tahun,siangnya berpuasa dan malamnya  digunakan untuk Shalat sunah yang kesemua ibadah itu diterima,tidak  tertolak.
 
وعن معاذ بن جبل قال قال رسول الله صلى الله  عليه وسلم: تعلموا العلم فإن تعلمه لله حسنة ودراسته تسبيح والبحث عنه  جهاد وطلبه عبادة وتعليمه صدقة وبذله لأهله قربة والفكر في العلم يعدل  الصيام ومذاكرته تعدل القيام.
 
Rosulullah SAW bersabda  : Pelajarilah ilmu.karena sesungguhnya belajar ilmu karena Allah adalah  kebaikan,menderes ilmu bernilai tasbih,membahasnya bernilai  jihad,mencarinya adalah ibadah,mengajarkannya bernilai  shadaqah,menyampaikanilmu kepada ahlinya bernilai qurbah/ibadah,berfikir  dalam ilmu menandingi ibada puasa,dan mudzakarah dalam ilmu menandingi  Shalat malam.
 
وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اطلب  العلم ولو بينك وبينه بحر من نار، وقال صلى الله عليه وسلم: اطلب العلم من  المهد إلى اللحد أي إن تعلم العلم فرض في جميع الأوقات والحالات.
 
Rosulullah SAW bersabda : Carilah ilmu,walaupun diantara kamu dan ilmu terpisah lautan api.
Sabdanya : Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat (Artinya menuntut ilmu hukumnya fardhu disetiap waktu dan kesempatan.
 
و  في حديث عبد الله بن عمرو رضي الله عنه في الصحيحين : إن الله لا يقبض  العلم انتزاعا ينتزعه من الناس و لكن يقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالم  اتخذ الناس رؤساء جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا و أضلوا.
 
Diriwayatkan  Abdillah bin 'Amr r.a dalam shahih Bukhari dan muslim :  Sesungguhnya  Allah tidak mengambil ilmu dengan mencabutnya dari sekalian  manusia, tetapi dengan mewafatkan Ulama sehingga tidak tersisa seorang  alim, maka pada saat itu manusia mengangkat pemimpin yang bodoh dalam hal  agama,maka ketika mereka ditanya, maka mereka memberikan fatwa tanpa  didasari ilmu, maka mereka tersesat dan menyesatkan.
 
وقال بعض السلف العلوم أربعة الفقه للأديان والطب للأبدان والنجوم للأزمان والنحو للسان
 
Telah  berkata sebagian ulama salaf : Ilmu itu ada empat macam,Fiqh untuk  agama,ilmu pengobatan untuk badan,ilmu nujum/falaq untuk mengetahui  zaman,dan nahwu untuk lisan.
 
(واعلم) أن تحصيل العلم  على نوعين كسبي وسماعي فالكسبي هو العلم الحاصل بمداومة الدرس والقراءة على  الأستاذ، والسماعي هو التعلم من العلماء بالسماع في أمور الدين والدنيا  وهذا لا يحصل إلا بمحبة العلماء والإختلاط معهم والمجالسة لهم والإستفسار  منهم.
 
Ketahuilah,bahwa keberhasilan ilmu dapat diraih dengan dua cara : Dengan cara Kasbiy dan sama'iy. Cara  kasab adalah ilmu yang dihasilkan dengan cara melanggengkan deres dan  membacakannya disepan guru (dalam pesantren dikenal sistem sorogan dan  bandungan). Cara sama'i adalah belajar ilmu dari ulama  dengan cara mendengarkannya baik urusan dunia maupun akhirat,Dan cara  ini tidak akan berhasil kecuali dengan adanya mahabah (kecintaan) pada  ulama,dan bergaul bersamanya,dan duduk belajar bersamanya serta  mendengarkan penafsiran dan penjabaran darinya.
 
ويجب  على المتعلم أن ينوي بتحصيل العلم رضا الله تعالى والدار الآخرة وإزالة  الجهل عن نفسه وعن سائر الجهال وإحياء الدين وإبقاء الإسلام بالعلم وينوي  به الشكر على نعمة العقل وصحة البدن ولا ينوي به إقبال الناس إليه واستجلاب  متاع الدنيا والإكرام عند السلطان وغيره.
 
Dan wajib  atas orang yang belajar (yang belajar ilmu) menanamkan niat dengan  menghasilkan ilmu itu untuk menggapai ridha Allah dan kebahagian di  akhirat,menghilangkan kebodohan dari dirinya,dan juga orang  lain,menghidupkan syi'ar agama,mengokokan islam dengan ilmu,dan  bersyukur atas ni'mat diberikan akal yang sempurna ketika menghasilkan  ilmu,juga atas kesehatan badan/tubuh. Dan jangan punya  niat/keinginan dan ambisi dijadikan tokoh oleh manusia,dan menarik  keuntungan duniawi atau materi,dan keinginan diberikan kedudukan dalam  kepemerintahan,dan tujuan-tujuan lainya yang menyalahi tujuan menuntut  ilmu yang sebagaimana dimaksud oleh syara'.
Allah berfirman :
قال  تعالى : يرفع الله الذين آمنوا منكم و الذين أوتوا العلم درجات و الله بما  تعملون خبير.  و قوله هل يستوى الذين يعلمون و الذين لا يعلمون إنما يتذكر  أولوا الالباب[38].
 

 

 
Copyright © www.murtawafz.com 2019

Sunday, 22 September 2019

34 SEBAB MENJADIKAN ANDA FAKIR

34 SEBAB MENJADIKAN ANDA FAKIR

1. Tidur dalam keadaan telajang
2. Kencing dalam keadaan telanjang
3. Makan dalam keadaan berjunub
4. Makan sambil tiduran
5. Membiarkan berserakannya sisa makanan.
6. Membakar kulit bawang merah dan bawang putih.
7. Menyapu lantai dengan sapu tangan.
8. Menyapu rumah di malam hari
9. Membiarkan sampah mengotori rumah.
10. Memanggil orangtua dengan nama keduanya.
11. Mencongkel gigi dengan benda kasar.
12. Mencuci tangan dengan lumpur dan debu.
13. Duduk di beranda pintu.
14. Besandar pada kaki gawang pintu.
15. Berwudhu’ di tempat Qada hajat (Buang air besar dan kecil).
16. Menjahit pakaian yang sedang dipakai.
17. Mengelap wajah dengan kain.
18. Membiarkan sarang laba-laba dirumah.
19. Meremehkan shalat.
20. Bersegera keluar dari mesjid sesudah shalat subuh.
21. Pergi ke pasar di pagi buta.
22. Berlama-lama di pasar.
23. Membeli potongan makanan dari fakir yang meminta (mengemis).
24. Berdoa keburukan kepada anak.
25. Mematikan lampu (lilin) dengan cara meniup.
26. Menulis dengan pena rusak.
27. Menyisir rambut dengan sisir rusak.
28. Tidak mau berdoa dengan kebagusan bagi orang tua.
29. Memakai sorban sambil duduk.
30. Memakai celana sambil berdiri.
31. Bersikap kikir.
32. Terlalu hemat.
33. Berlebihan dalam kehidupan.
34. Suka menunda dan meremehkan pekerjaan.

{ Sumber : Kitab Ta’lim Muta'alim Hal.43-44 }
.

Copyright © www.murtawafz.com2019

Thursday, 19 September 2019

NAMA 'ULAMA SYAFI'IYAH

NAMA 'ULAMA SYAFI'IYAH




Beberapa singkatan nama-
nama ulama Syafi’iyah
yang sering digunakan
dalam kitab-kitab mazhab
Syafi’i yang dikutip dari
risalah al-Ishtilahati al-
Kalamiyah wal Harfiyah fi
Kutub al-Syafi’iyah, karya
Nu’man Jaghim :

1. ﻕ ﻝ :

Qalyubi, nama lengkap
beliau adalah Syihabuddin
Abu al-Abbas Ahmad bin
Ahmad bin Salamah al-
Qalyubi (w. 689 H).
Diantara karya beliau :
Syarah Tanbih, Manhaj al-
Wushul fi Ilmi al-Ushul,
Tazkirah Al-Qalyubi fi al-
Thab, Hasyiah ‘ala Syarh al-
Jarumiyah fi al-nahwi dan
Hasyiah ‘ala Syarh Minhaj
al-Thalibin

2. ﺏ ﺭ :

Al-Barmawi, nama lengkap
beliau adalah Syamsuddin
Muhammad bin Abd al-
Dayim bin Isa bin Faris aL-
Barmawi (w. 831 H).
Diantara karya beliau :
Syarah al-Bukhari dan
Nadham Alfiah fi Ushul
Fiqh. Ada juga yang
mengisyarahkan kepada :
al-Barlasi, nama lengkap
beliau : Syihabuddin
Ahmad al-Barlasi yang
digelar dengan ‘Amirah (w.
957 H). Diantara karya
beliau Hasyiah ‘ala Kunz al-
Raghibin (Hasyiah ‘ala
Syarh al-Mahalli ‘ala Minhaj
al-Thalibin) dan Hasyiah
‘ala Syarh al-Jam’u al-
Jawami’ karya al-Subki

3. ﺣﺞ :

Ibnu Hajar, nama lengkap
beliau adalah Ahmad bin
Muhammad bin Ali bin
Muhammad bin Ali bin
Hajar al-Haitamy al-Sa’adi
al-Anshary (w. 974 H).
Diantara karya beliau :
Tuhfah al-Muhtaj.

4. ﻡ ﺭ :

Muhammad al-Ramli, nama
lengkap beliau adalah
Syamsuddin anak dari
Muhammad bin Ahmad bin
Ahmad bin Hamzah al-
Ramli (w. 1004 H). Diantara
karya beliau : Nihayah al-
Muhtaj dan al-Fatawa. Ada
juga yang mengisyarahkan
kepada Ahmad al-Ramli,
nama lengkap beliau
adalah Syihabuddin ayah
dari Syamsuddin al-Ramli
di atas. Untuk
membedakan dengan
anaknya di atas, kadang-
kadang penulis kitab
menyebutnya dengan
ﺍﻟﺸﻬﺎﺏ ﻡ ﺭ . Diantara karya
beliau :

Syarah Zubad karya Ibnu
Ruslan, Syarah
Mandhumah al-Baidhawi fi
al-Nikah dan Risalah fi
Syuruth al-Imamah.

5. ﺥ ﻁ :

al-Khatib al-Syarbaini,
nama lengkap beliau
adalah Muhammad bin
Ahmad al-Syarbaini (w. 977
H). Diantara karya beliau
Mughni al-Muhtaj, al-Siraj
al-Munir




Copyright © www.murtawafz.com 2019

Tuesday, 17 September 2019

HUKUM AZAN SAMBIL DUDUK

Ditujukan kepada semua muazzin, istimewa kepada Tgk Jufri Keude Krueng.

 Sudah maklum diketahui bahwa selama ini azan di masjid dan mushalla umumnya dilakukan dalam posisi berdiri. Lalu bagaimana hukumnya melakukan azan sambil duduk?


Kebanyakan ulama Syafiiyah sepakat bahwa berdiri saat mengumandangkan hukumnya adalah sunah. Ketentuan ini berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda;


يَا بِلاَلُ ، قُمْ فَأَذِّنْ

“Wahai Bilal, berdirilah kemudian azan.”


Dalam kitab Alijma’ Libnil Munzir disebutkan, bahwa melalui hadis ini para ulama telah sepakat tentang kesunahan berdiri saat mengumandangkan azan.


وأجمعوا على أن من السنة أن يؤذن المؤذن قائمًا

“Ulama sepakat bahwa bagian dari sunah adalah mengumandangkan azan sambil berdiri.”


Bagaimana jika seseorang azan dalam posisi duduk, apakah sah?


Mengumandangkan azan dalam posisi duduk tetap dinilai sah meskipun hukumnya makruh jika masih mampu untuk berdiri. Bahkan Imam Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim menyebutkan, azan sambil duduk jika dilakukan tanpa uzur, maka hukumnya makruh dan tidak mendapat keutamaan azan.


فلو أذن قاعدا بغير عذر صح أذانه لكن فاتته الفضيلة

“Jika seseorang mengumandangkan azan sambil duduk tanpa adanya uzur, maka azannya sah tapi tidak mendapat keutamaan azan.”


Adapun jika ada uzur, seperti kaki terkena luka hingga tidak bisa berdiri, maka diperbolehkan azan sambil duduk. Hal ini berdasarkan hadis yang disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya Almushannaf dari Alhasan Al’abdi, dia berkata;


رَأَيْتُ أَبَا زَيْدٍ، صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ رِجْلُهُ أُصِيبَتْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، يُؤَذِّنُ وَهُوَ قَاعِدٌ

Aku pernah melihat Abu Zaid, salah satu sahabat Rasulullah Saw., azan sambil duduk ketika kakinya terluka karena perang fi sabilillah.”


Copyright © www.murtawafz.com 2019

Monday, 16 September 2019

KISAH SEORANG PEMUDA MELAMAR WANITA

KISAH SEORANG PEMUDA MELAMAR WANITA

Seorang pemuda datang melamar wanita cantik dan kaya , akhirnya terjadilah kesepakatan.

Namun tatkala si wanita mengetahui profesi ibunda si pria, maka si wanita memberi syarat, "pada waktu resepsi pernikahan, ibumu tidak boleh datang"

Setelah berfikir, demi untuk mewujudkan pernikahannya, si pemuda dgn terpaksa menyetujuinya.
Namun sebelumnya ia menjumpai salah seorang guru spiritualnya untuk meminta pendapatnya.

Sang guru bertanya, "apa pekerjaan ibumu?

"Aku ditinggal mati ayahku saat umurku 1 tahun, akhirnya untuk membesarkanku, ibuku bekerja sebagai tukang cuci pakaian dan dia berhasil mengantar saya sampai jadi sarjana ".
Jawab pemuda itu.

"Begini, hari ini kau pulang, dan kau cuci kedua tangan ibumu, besok kau kembali lagi kesini, aku akan kasih pendapatku" jawab sang guru.

Pulanglah pemuda itu, dan dia mendekati ibunya dan mencuci kedua tangannya, dia melihat begitu kasarnya tangan ibunya, ada bekas2 luka dan kulit yg terkelupas, ia melihat pemandangan itu sambil mencucurkan air mata.

Dan akhirnya ia tidak tahan untuk menunggu hari esok, dia datangi lagi sang guru dan si pemuda berkata;

"AKU TIDAK AKAN MENGORBANKAN BUNDAKU UNTUK SIAPAPUN".

Banyak di antara kita yg sering melupakan budi baik ibu kita. Demi kenikmatan semu.

Maka saatnya kita mencuci kedua tangan ibu kita yg selalu membelai kita dan membersihkan kita, Karena suatu saat belaian itu akan pergi dan kau akan kehilangan tiket masuk surgamu.

Sekarang Anda mempunyai dua pilihan:

1. Biarkan info ini tetap dalam blogs ini.
2. Share info ini ke sejumlah orang yang Anda kenal dan Insya Allah ridha
Allah akan anugerahkan kepada setiap orang yang Anda kirim dan insyaaAllah anda dapat pahala krn telah mau berbagi untuk seksama

Subhanallah...

Semoga yg berkomentar Aamiin dijauhkan dari segala penyakit, diberi sehat wal'afiat, rezekinya melimpah ruah, dan keluarganya bahagia Dan bisa masuk Surga melalui pintu mana saja. Aamiin ya Rabbal'alamiin..

Semoga bermanfaat.Aamiin

Copyright © www.murtawafz.com 2019

PERBEDAAN ORANG MUNAFIQ DAN RIYA'

PERBEDAAN ORANG MUNAFIQ DAN RIYA'

 
المنافق : هو الذى يضمو الكفر اعتقادا , ويظهر الايمان قولا.
الرياء : ترك الاخلاص فى العمل بملاحظة غير الله فيه
 
Dilihat dari ta'rifnya sudah beda, perbedaan antara orang munafiq dan orang riya' bahwa orang munafiq memperlihatkan keimanan menyembunyikan kekufurannya, sedangkan orang riya' memperlihatkan apa yang tidak ada di dalam hatinya misalnya tambahnya kekhusyu'an agar diyakini oleh orang yang melihat bahwa dia orang yang beragama. Orang munafiq tidak Shalat sembunyi-sembunyi, orang yang riya' Shalatnya lebih bagus ketika ada orang-orang. Wallahu a'lam.
 
- kitab tafsir al kabir, surat al ma'un ayat 6 :
 
أما قوله تعالى : ( الذين هم يراءون ) فاعلم أن الفرق بين المنافق والمرائي : أن المنافق هو المظهر للإيمان المبطن للكفر ، والمرائي المظهر ما ليس في قلبه من زيادة خشوع ليعتقد فيه من يراه أنه متدين ، أو تقول : المنافق لا يصلي سرا والمرائي تكون صلاته عند الناس أحسن .
 
- kitab tafsir al khazin (6/312) :
 
والفرق بين المنافق ، والمرائي أن المنافق هو الذي يبطن الكفر ويظهر الإيمان ، والمرائي يظهر الأعمال مع زيادة الخشوع ليعتقد فيه من يراه أنه من أهل الدّين والصّلاح أما من يظهر النّوافل ليقتدى به ويأمن على نفسه من الرّياء ، فلا بأس بذلك وليس بمراء
 
Perbedaan antara orang munafiq dan orang riya', bahwa orang munafiq adalah orang yang menyembunyikan kekufuran dan memperlihatkan keimanan, sedangkan orang yang riya' memperlihatkan amalan-amalan beserta tambahnya khusyu' agar di yakini oleh orang yang melihatnya bahwa dia adalah orang yang ahli agama dan shaleh. Adapun orang yang memperlihatkan amalan-amalan sunnah agar diikuti dan aman dari riya' terhadap dirinya sendiri maka tidak apa-apa dan tidak termasuk orang yang riya.
 

Copyright © www.murtawafz.com 2019

Sunday, 15 September 2019

Hal² yang terjadi pada bulan Muharram


Hal² yang terjadi pada bulan Muharram



Pertama, yaitu bertobatnya Nabi Adam AS kepada Allah dari dosa-dosanya. Tobat tersebut pun diterima oleh-Nya. Kedua, berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS di Bukit Zuhdi dengan selamat. Hal itu setelah terjadi banjir yang membinasakan umat Manusia. Peristiwa ketiga, selamatnya Nabi Ibrahim AS dari siksa Namrud. Sang Nabi dapat bebas dari kobaran api yang hendak membakar tubuhnya.


Keempat, Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara Mesir karena terkena fitnah. Kelima, Nabi Yunus AS berhasil keluar dari perut ikan hiu. Adapun peristiwa keenam, yakni disembuhkanya Nabi Ayyub AS oleh Allah dari penyakitnya yang menjijikkan. Terakhir, selamatnya Nabi Musa AS bersama umatnya kaum Bani Israil dari kejaran Fir'aun di Laut Merah.


Sejarah menyebutkan, bangsa Arab pun sudah menghormati Muharram sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Istri Rasulullah Aisyah mengatakan, hari Asyura atau 10 Muharram merupakan hari orangorang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah, Rasulullah juga turut menjalankannya.


Setelah Baginda Nabi hijrah ke Madinah, beliau terus mengerjakan amalan tersebut. Bahkan, Rasulullah memerintahkan para sahabat supaya berpuasa Asyura pula. Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang menghendaki berpuasa Asyura, puasalah. Dan siapa yang tidak suka, boleh meninggalkannya."


Sahabat Rasul Ibnu Abbas meriwayatkan, ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi di sana menjalankan puasa Asyura. Rasul lalu menanyakan alasan mereka. Puasa Asyura memiliki beberapa keutamaan. Dalam sebuah Hadis Riwayat (HR) Muslim, Rasulullah bersabda, "Nabi SAW ditanya tentang puasa hari Asyura, beliau menjawab: Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun lalu."



Copyright © www.murtawafz.com2019

Thursday, 12 September 2019

ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT JUM'AT TANPA UDZUR

ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT JUM'AT TANPA UDZUR

PERTANYAAN :

Assalamu'alaykum, Ketika saya berkata : satu kali seorang laki laki meninggalkan shalat jum'at maka itu seperti pezina.
 
JAWABAN :
 
barang siapa meninggal shalat jum'at dengan tanpa udzur sampai 3 X secara berturut-turut maka Allah menutup pintu hati sehingga tidak bisa menerima perkara haq dan mau'izhah.riwayat mengatakan orang tersebut membuang / meninggalkan syari'at , dicap / dicatat sebagai orang munafiq, bukan sebagai penzina :
 
.من ترك ثلاث جمع تهاونا بها طبع الله على قلبه
من ترك الجمعة ثلاث جمع متواليات فقد الإسلا وراء ظهره يعني بلا عذر شرعي
من ترك ثلاث جمعات من غير عذر كتب من المنافقين
 
Orang yang meninggalkan shalat jum'at dengan tanpa adanya udzur maka disunahkan bersedekah sebanyak 1 dinar atau 1/2 dinar. :
 
.قال في المجموع يستحب لمن ترك الجمعة بلا عذر أن يتصدق بدينار أو نصفه لخبر أبي داود وغيره.إعانة الطالبين ٢/٥٢
 
Allah berfirman : "Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingatkan Allah dan tinggalkan jual beli" (QS. Al-Jumu'ah:9)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Sungguh suatu kaum berhenti dari meninggalkan shalat Jum'at atau sungguh Allah akan mematri hati mereka kemudian mereka berubah menjadi yang orang yang lalai" (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum'at tanpa sebuah catatan sebagai orang munafik yang tidak akan di hapus dan di tukar" (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang meninggalkan tiga kali shalat Jum'at sebab menyeleweng, maka ia akan di kunci mata hatinya" (HR. Ahmad)
 
Berdasarkan firman Allah dan beberapa sabda Rasululah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di atas difahami bahwa shalat Jum'at merupakan amal ibadah yang wajib dikerjakan pada setiap hari Jum'at dan baik yang meninggalkan tanpa ada halangan yang dibenarkan oleh agama maka ia berdosa dan menjadi orang munafik serta mata hatinya akan ditutup, maka tidak ada seorangpun yang dapat membukanya dalam rangka menerima lagi petunjuk yang benar. WAllahu A'lam
 

Copyright © www.murtawafz.com 2019

TIDAK SHALAT JUM'AT KARENA KETIDURAN ATAU ADA DI PERJALANAN

TIDAK SHALAT JUM'AT KARENA KETIDURAN ATAU ADA DI PERJALANAN

PERTANYAAN :

Bagaimana hukum nya jika saya tidak shalat jum'at karena waktu diperjalanan / ketiduran , tapi ketika sampai tujuan / ketika bangun dari tidur jam 2 apakah saya melakukan shalat dzuhur saja / bagaimana dengan mengganti shalat jum'at yang tertinggal ?
 
JAWABAN :
 
1. Kalau berangkatnya sebelum subuh maka tidak apa-apa / tidak berdosa asalkan bukan perjalanan ma'shiyat :
 
.فلا تجب الجمعة على كافر أصلي إلى أن قال ومسافر أى سفرا مباحا ولو قصيرا لاشتغاله بأحوال السفر وقد روي مرفوعا لا جمعة على مسافر لكن قال البيهقي الصحيح وقفه على ابن عمر ويحرم على من تلزمه الجمعة السفر بعد فجر يومها الا إذا أمكنه فعلها في مفصده أو طريقه أو تضرر بتخلفه عن الرفقة وإنما حرم قبل الزوال مع أنه لم يدخل وقتها لأنها منسوبة الى اليوم ولذلك يجب السعي لها على بعيد الدار قبل الزوال.الباجوري ١/٢١٣
 
2. Tidak berdosa bila tidurnya sebelum masuk waktunya shalat jum'at / sebelum waktu zhuhur :
 
.وحاصله أنه لا إثم على من نام قبل الوقت ففاتته الصلاة وإن علم أنه يستغرق الوقت ولو جمعة على الصحيح ولا يلزمه القضاء فورا. إنارةالدجى ص : ٨٦ (سئل) عمن نام قبل دخول وقت فريضة كالصبح وغلب على ظنه بمقتضى عادته أنه لا يستيقظ إلا بعد خروجه هل يحرم نومه المذكور أم لا ؟ فأجاب بأنه لا يحرم نومه المذكور لعدم خطابه بفعلها أما قبل وقتها فظاهر وأما بعده حال نومه فلرفع القلم عنه حينئذ بخلاف نومه فيه فإنه يحرم إلا إن غلم أو ظن تيقظه وفعلها فيه. فتاوى الإمام الرملي ١/١١٤-١١٥
 

Copyright © www.murtawafz.com 2019

Saturday, 7 September 2019

BAB NADZAR

BAB NADZAR


PENGERTIAN NADZAR
Nudzur adalah bentuk jama’ dari nadzar, berasal dari akar kata indzar yang berma’na takhwif (memberi ancaman). Nadzar secara bahasa adalah janji secara mutlak baik berupa perbuatan baik atau buruk. Sedangkan menurut syara’ adalah mewajibkan diri untuk melaksanakan suatu qurbah (ibadah) yang bukan fardhu ‘ain dengan sighat tertentu. Nadzar hanya berlaku pada ibadah sunnah (seperti shalat/puasa sunnah) atau fardhu kifayah (seperti shalat jenazah, jihad fi sabilillah, dll), sehingga tidak sah nadzar pada ibadah fardhu ‘ain (seperti shalat 5 waktu, puasa ramadhan, dll) atau yang bukan ibadah, baik pekerjaan mubah (seperti makan, tidur,dll), makruh (seperti puasa dahr bagi orang yang khawatir sakit) ataupun haram (seperti minum khamr, berjudi, dll).
وَ مَا اَنْفَقْتُمْ مّنْ نَفَقَةٍ اَوْ نَذَرْتُمْ مّنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللهَ يَعْلَمُهُ وَ مَا لِلظّلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ. البقرة
"Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat dhalim tidak ada seorang penolongpun baginya." [QS. Al-Baqarah : 270]
Kalau sudah bernadzar, kita wajib melaksanakannya. Rasulullah saw. bersabda :
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ نَذَرَ اَنْ يُطِيْعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ، وَ مَنْ نَذَرَ اَنْ يَعْصِىَ اللهَ فَلاَ يَعْصِهِ. ابو داود و البخارى و الترمذى و النسائى و ابن ماجه
Dari Aisyah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bernadzar untuk thaat kepada Allah, hendaklah ia mentaati-Nya. Dan barangsiapa bernadzar untuk mendurhakai Allah, maka janganlah ia mendurhakai-Nya”. [HR. Abu Dawud, Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah]
PEMBAGIAN NADZAR.
Nadzar terbagi menjadi dua :
1. Nadzar lajaj, yaitu : nadzar yang berupa anjuran pada diri sendiri untuk melakukan sesuatu, atau pencegahan dari melakukan sesuatu atau karena marah dengan mewajibkan pada dirinya untuk melakukan sesuatu. Misalnya : pernyataan “jika aku berbicara dengan Zaid, maka aku akan berpuasa satu hari”, dalam pernyataannya “jika aku berbicara dengan Zaid” bisa karena didasari marah kepadanya, atau ingin mencegah dirinya dari berbicara dengannya atau hanya karena ingin mendorong dirinya untuk berpuasa.
2. Nadzar tabarrur, yaitu : nadzar yang tidak digantungkan dengan sesuatu apapun atau digantungkan dengan sesuatu yang disukai. Misalnya pertama : “aku nadzar puasa hari senin dan kamis” , contoh kedua : “ jika aku sembuh dari penyakitku, maka aku akan bersedekah”
Syarat-syarat nadzir (orang yang nadzar) :
- Beragama islam (khusus untuk nadzar tabarrur, sedangkan nadzar lajaj tidak disyaratkan muslim).
- Atas kehendak sendiri (bukan terpaksa).
- Orang yang sah tasharrufnya (baligh dan berakal ).
- Memungkinkan untuk melaksanakan nadzarnya.
Maka tidak sah nadzar anak kecil, orang gila, dalam keadaan dipaksa, melakukan perkara yang tidak memungkinkan untuk melaksanakannya seperti nadzar puasa bagi orang yang sakit parah dan nadzar orang kafir (khusus nadzar tabarrur)
DENDA BAGI YANG TIDAK MELAKUKAN NADZAR
Nadzar wajib untuk dilakukan dan bagi orang yang meninggalkan : jika berupa nadzar lajaj, si nadzir boleh memilih antara mengerjakan apa yang dinadzari atau membayar kafarah yamin yaitu : mengerjakan salah satu dari tiga pilihan berikut :
1.membebaskan budak muslim, memberi makan 10 orang miskin setiap orang satu mud (± 7,5 ons)
2. atau memberi pakaian kepada 10 orang miskin.
3. Namun jika tidak mampu melaksanakan salah satu dari tiga pilihan di atas, maka wajib puasa tiga hari.
Jika nadzar tabarrur, maka wajib melaksanakan apa yang telah dinadzari (tanpa ada pilihan mengerjakan kafarah yamin).  
الياقوت النفيس /214-217
النذر لغة : الوعد بخير او شرّ، وشرعا : التزام قربة لم تتعين بصيغة
اقسام النذر اثنان : نذر لجاج ، ونذر تبرر. فالأول : هو الحث او المنع او تحقيق الخبر غضبا بالتزام قربة, والثاني : هو التزام قربة بلا تعليق او بتعليق بمرغوب فيه ويسمى نذر المجازاة ايضا.
حكم نذر اللجاج : تخيير الناذر بين ما التزمه وكفارة اليمين، وحكم نذر التبرر : تعين ما التزمه الناذر.
شروط الناذر اربعة : الإسلام في نذر التبرر، والإختيار ، ونفوذ التصرف فيما ينذره، وامكان فعله للمنذور.
مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج – (ج 18 / ص 456)
( وَهُوَ ) أَيْ النَّذْرُ ( ضَرْبَانِ ) أَحَدُهُمَا : ( نَذْرُ لَجَاجٍ ) بِفَتْحِ أَوَّلِهِ بِخَطِّهِ ، وَهُوَ التَّمَادِي فِي الْخُصُومَةِ ، سُمِّيَ بِذَلِكَ لِوُقُوعِهِ حَالَ الْغَضَبِ ، وَيُقَالُ لَهُ يَمِينُ اللَّجَاجِ ، وَالْغَضَبِ وَيَمِينُ الْغَلَقِ ، وَنَذْرُ الْغَلَقِ بِفَتْحِ الْغَيْنِ وَاللَّامِ ، وَالْمُرَادُ بِهِ مَا خَرَجَ مَخْرَجَ الْيَمِينِ بِأَنْ يَقْصِدَ النَّاذِرُ مَنْعَ نَفْسِهِ أَوْ غَيْرِهَا مِنْ شَيْءٍ أَوْ يَحُثُّ عَلَيْهِ أَوْ يُحَقِّقُ خَبَرًا أَوْ غَضَبًا بِالْتِزَامِ قُرْبَةٍ ( كَإِنْ كَلَّمْتُهُ ) أَيْ زَيْدًا مَثَلًا ، أَوْ إنْ لَمْ أُكَلِّمْهُ ، أَوْ إنْ لَمْ يَكُنْ الْأَمْرُ كَمَا قُلْته ( فَلِلَّهِ عَلَيَّ ) أَوْ فَعَلَيَّ ( عِتْقٌ أَوْ صَوْمٌ ) أَوْ نَحْوُهُ كَصَدَقَةٍ وَحَجٍّ وَصَلَاةٍ ( وَفِيهِ ) عِنْدَ وُجُودِ الْمُعَلَّقِ عَلَيْهِ ( كَفَّارَةُ يَمِينٍ ) لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ يَمِينٍ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ ، وَلَا كَفَّارَةَ فِي نَذْرِ التَّبَرُّرِ قَطْعًا فَتَعَيَّنَ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهِ اللَّجَاجُ ، وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ عُمَرَ وَعَائِشَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ عُمَرَ وَحَفْصَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ( وَفِي قَوْلٍ ) يَجِبُ عَلَى النَّاذِرِ فِي ذَلِكَ ( مَا الْتَزَمَ ) لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { مَنْ نَذَرَ وَسَمَّى فَعَلَيْهِ مَا سَمَّى } وَلِأَنَّهُ الْتَزَمَ عِبَادَةً عِنْدَ مُقَابَلَةِ شَرْطٍ فَتَلْزَمُهُ عِنْدَ وُجُودِهِ ( وَفِي قَوْلٍ أَيُّهُمَا ) أَيْ الْأَمْرَيْنِ ( شَاءَ ) أَيْ النَّاذِرُ فَيَخْتَارُ وَاحِدًا مِنْهُمَا مِنْ غَيْرِ تَوَقُّفٍ عَلَى قَوْلِهِ اخْتَرْت ، حَتَّى لَوْ اخْتَارَ مُعَيَّنًا مِنْهُمَا لَمْ يَتَعَيَّنْ وَلَهُ الْعُدُولُ إلَى غَيْرِهِ ( قُلْت ) هَذَا ( الثَّالِثُ ) كَمَا قَالَ الرَّافِعِيُّ فِي الشَّرْحِ ( أَظْهَرُ ، وَرَجَّحَهُ الْعِرَاقِيُّونَ ) بَلْ لَمْ يُورِدْ أَبُو الطَّيِّبِ مِنْهُمْ غَيْرَهُ ( وَاَللَّهُ أَعْلَمُ ) لِأَنَّهُ يُشْبِهُ النَّذْرَ مِنْ حَيْثُ إنَّهُ الْتِزَامُ قُرْبَةٍ ، وَالْيَمِينُ مِنْ حَيْثُ الْمَنْعُ ، وَلَا سَبِيلَ إلَى الْجَمْعِ بَيْنَ مُوجِبَيْهِمَا وَلَا إلَى تَعْطِيلِهِمَا فَوَجَبَ التَّخْيِيرُ ….. ( وَ ) الضَّرْبُ الثَّانِي ( نَذْرُ تَبَرُّرٍ ) وَهُوَ تَفَعُّلٌ ، مِنْ الْبِرِّ ، سُمِّيَ بِذَلِكَ لِأَنَّ النَّاذِرَ طَلَبَ بِهِ الْبِرَّ وَالتَّقَرُّبَ إلَى اللَّهِ تَعَالَى ، وَهُوَ نَوْعَانِ كَمَا فِي الْمَتْنِ . أَحَدُهُمَا : نَذْرُ الْمُجَازَاةِ وَهُوَ الْمُعَلَّقُ بِشَيْءٍ ( بِأَنْ يَلْتَزِمَ ) النَّاذِرُ ( قُرْبَةً إنْ حَدَثَتْ ) لَهُ ( نِعْمَةٌ أَوْ ذَهَبَتْ ) عَنْهُ ( نِقْمَةٌ كَإِنْ شُفِيَ مَرِيضِي ) أَوْ ذَهَبَ عَنِّي كَذَا ( فَلِلَّهِ عَلَيَّ أَوْ فَعَلَيَّ كَذَا ) مِنْ عِتْقٍ أَوْ صَوْمٍ أَوْ نَحْوِهِ ( فَيَلْزَمُهُ ذَلِكَ إذَا حَصَلَ الْمُعَلَّقُ عَلَيْهِ ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى : { وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إذَا عَاهَدْتُمْ } وَقَدْ ذَمَّ اللَّهُ أَقْوَامًا عَاهَدُوا وَلَمْ يُوفُوا ، فَقَالَ : { وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ } الْآيَةَ ، وَلِلْحَدِيثِ الْمَارِّ { مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ } .
تَنْبِيهٌ : أَطْلَقَ الْمُصَنِّفُ النِّعْمَةَ .وَخَصَّصَهَا الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ بِمَا يَحْصُلُ عَلَى نُذُورٍ ، فَلَا يَصِحُّ فِي النِّعَمِ الْمُعْتَادَةِ كَمَا لَا يُسْتَحَبُّ سُجُودُ الشُّكْرِ لَهَا .قَالَ الْإِمَامُ : وَوَافَقَهُ طَائِفَةٌ مِنْ الْأَصْحَابِ ، لَكِنَّ الْقَاضِيَ الْحُسَيْنَ طَرَدَهُ فِي كُلِّ مُبَاحٍ وَهُوَ أَفْقَهُ ا هـ .وَخَرَجَ بِالْحُدُوثِ اسْتِمْرَارُ النِّعْمَةِ وَهُوَ قِيَاسُ سُجُودِ الشُّكْرِ كَمَا قَالَهُ الزَّرْكَشِيُّ ، وَهَذَا يُؤَيِّدُ مَا قَالَهُ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ ، وَيَجُوزُ تَقْدِيمُ الْمَنْذُورِ عَلَى حُصُولِ الْمُعَلَّقِ عَلَيْهِ إنْ كَانَ مَالِيًّا كَمَا قَالَاهُ فِي الْبَابِ الثَّانِي مِنْ أَبْوَابِ الْأَيْمَانِ ، وَإِنْ كَانَا صَحَّحَا عَدَمَ الْجَوَازِ فِي بَابِ تَعْجِيلِ الزَّكَاةِ .فَرْعٌ : لَوْ نَذَرَ شَيْئًا إنْ شَفَى اللَّهُ مَرِيضَهُ فَشُفِيَ ….ثُمَّ شَرَعَ فِي النَّوْعِ الثَّانِي مِنْ الضَّرْبِ الثَّانِي بِقَوْلِهِ ( وَإِنْ لَمْ يُعَلِّقْهُ ) النَّاذِرُ ( بِشَيْءٍ كَلِلَّهِ ) أَيْ كَقَوْلِهِ ابْتِدَاءً لِلَّهِ ( عَلَيَّ صَوْمٌ ) أَوْ حَجٌّ أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ ( لَزِمَهُ ) مَا الْتَزَمَهُ ( فِي الْأَظْهَرِ ) لِعُمُومِ الْأَدِلَّةِ الْمُتَقَدِّمَةِ ، وَالثَّانِي لَا ، لِعَدَمِ الْعِوَضِ …فَائِدَةٌ : الصِّيغَةُ إنْ احْتَمَلَتْ نَذْرَ اللَّجَاجِ وَنَذْرَ التَّبَرُّعِ رَجَعَ فِيهَا إلَى قَصْدِ النَّاذِرِ ، فَالْمَرْغُوبُ فِيهِ تَبَرُّرٌ وَالْمَرْغُوبُ عَنْهُ لَجَاجٌ ، وَضَبَطُوا ذَلِكَ بِأَنَّ الْفِعْلَ إمَّا طَاعَةٌ أَوْ مَعْصِيَةٌ أَوْ مُبَاحٌ ، وَالِالْتِزَامُ فِي كُلٍّ مِنْهَا تَارَةً يَتَعَلَّقُ بِالْإِثْبَاتِ ، وَتَارَةً بِالنَّفْيِ بِالْإِثْبَاتِ فِي الطَّاعَةِ كَقَوْلِهِ : إنْ صَلَّيْت فَعَلَيَّ كَذَا يُحْتَمَلُ التَّبَرُّرُ بِأَنْ يُرِيدَ إنْ وَفَّقَنِي اللَّهُ لِلصَّلَاةِ فَعَلَيَّ كَذَا ، وَاللَّجَاجُ بِأَنْ يُقَالَ لَهُ : صَلِّ فَيَقُولَ : لَا أُصَلِّي وَإِنْ صَلَّيْت فَعَلَيَّ كَذَا ، وَالنَّفْيُ فِي الطَّاعَةِ كَقَوْلِهِ : وَقَدْ مُنِعَ مِنْ الصَّلَاةِ إنْ لَمْ أُصَلِّ فَعَلَيَّ كَذَا لَا يُتَصَوَّرُ إلَّا لَجَاجًا فَإِنَّهُ لَا يَبِرُّ فِي تَرْكِ الطَّاعَةِ ، وَالْإِثْبَاتِ فِي الْمَعْصِيَةِ كَقَوْلِهِ وَقَدْ أُمِرَ بِشُرْبِ الْخَمْرِ : إنْ شَرِبْت الْخَمْرَ فَعَلَيَّ كَذَا يُتَصَوَّرُ لَجَاجًا فَقَطْ ، وَالنَّفْيُ فِي الْمَعْصِيَةِ كَقَوْلِهِ : إنْ لَمْ أَشْرَبْ الْخَمْرَ فَعَلَيَّ كَذَا يَحْتَمِلُ التَّبَرُّرَ بِأَنْ يُرِيدَ إنْ عَصَمَنِي اللَّهُ مِنْ الشُّرْبِ فَعَلَيَّ كَذَا ، وَاللَّجَاجُ بِأَنْ يُمْنَعَ مِنْ الشُّرْبِ ، فَيَقُولَ : إنْ لَمْ أَشْرَبْ فَعَلَيَّ كَذَا يُرِيدُ إنْ أَعَانَنِي اللَّهُ عَلَى كَسْرِ شَهْوَتِي فَعَلَيَّ كَذَا ، وَفِي الْإِثْبَاتِ كَقَوْلِهِ : إنْ أَكَلْت كَذَا فَعَلَيَّ كَذَا يُرِيدُ : إنْ يَسَّرَ اللَّهُ لِي فَعَلَيَّ كَذَا ، وَاللَّجَاجُ فِي النَّفْيِ كَقَوْلِهِ : وَقَدْ مُنِعَ مِنْ أَكْلِ الْخُبْزِ إنْ لَمْ آكُلْهُ فَعَلَيَّ كَذَا ، وَفِي الْإِثْبَاتِ كَقَوْلِهِ وَقَدْ أُمِرَ بِأَكْلِهِ : إنْ أَكَلْته فَعَلَيَّ كَذَا .
مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج – (ج 18 / ص 321)
( يَتَخَيَّرُ ) الْمُكَفِّرُ ( فِي كَفَّارَةِ الْيَمِينِ بَيْنَ عِتْقٍ ) فِيهَا ( كَالظِّهَارِ ) أَيْ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ كَفَّارَتُهُ بِالصِّفَةِ السَّابِقَةِ فِي بَابِهِ مِنْ كَوْنِهَا رَقَبَةً مُؤْمِنَةً بِلَا عَيْبٍ يُخِلُّ بِعَمَلٍ أَوْ كَسْبٍ ( وَ ) بَيْنَ ( إطْعَامِ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ لِكُلِّ مِسْكِينٍ مُدُّ حَبٍّ ) أَوْ غَيْرِهِ ( مِنْ غَالِبِ قُوتِ بَلَدِهِ ) كَالْفِطْرَةِ كَمَا مَرَّ فِي كِتَابِ الْكَفَّارَاتِ ، وَصَرَّحَ بِهِ جَمَاعَةٌ هُنَا ( وَ ) بَيْنَ ( كِسْوَتِهِمْ بِمَا يُسَمَّى كِسْوَةً ) مِمَّا يُعْتَادُ لُبْسُهُ ( كَقَمِيصٍ ، أَوْ عِمَامَةٍ ؛ أَوْ إزَارٍ )…. ( فَإِنْ عَجَزَ عَنْ ) كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ ( الثَّلَاثَةِ لَزِمَهُ صَوْمُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى : ( فَكَفَّارَتُهُ إطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ ) . تَنْبِيهٌ : الْمُرَادُ بِالْعَجْزِ أَنْ لَا يَقْدِرَ عَلَى الْمَالِ الَّذِي يَصْرِفُهُ فِي الْكَفَّارَةِ كَمَنْ يَجِدُ كِفَايَتَهُ وَكِفَايَةَ مَنْ تَلْزَمُهُ مُؤْنَتُهُ فَقَطْ ، وَلَا يَجِدُ مَا يَفْضُلُ عَنْ ذَلِكَ . قَالَا : وَمَنْ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ سَهْمِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ مِنْ الزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَاتِ لَهُ أَنْ يُكَفِّرَ بِالصَّوْمِ ؛ لِأَنَّهُ فَقِيرٌ فِي الْأَخْذِ ، فَكَذَا فِي الْإِعْطَاءِ ، وَقَدْ يَمْلِكُ نِصَابًا وَلَا يَفِي دَخْلُهُ بِخَرْجِهِ فَتَلْزَمُهُ الزَّكَاةُ ، وَلَهُ أَخْذُهَا ، وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْبَابَيْنِ أَنَا لَوْ أَسْقَطْنَا الزَّكَاةَ خَلَا النِّصَابُ عَنْهَا بِلَا بَدَلٍ ، وَالتَّكْفِيرُ بِالْمَالِ لَهُ بَدَلٌ وَهُوَ الصَّوْمُ
Copyright © www.murtawafz.com 2019

RUMUS MENGETAHUI JATUHNYA MALAM LAILATUL QADAR

Menurut Imam Al Ghazali Cara Untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari permulaan/hari pertama bulan Ramadhan : 1. Jika hari pertama ...