Thursday, 21 November 2013

Abuya Mudawaly Al khalidy

    ABUYAMUDAWALY AL-KHALIDY





Abuya Muda Waly Setelah beberapa tahun belajar di Bustanul Huda, beliau mengungkapkan niatnya untuk melanjutkan pendidikannya kepesantren di Aceh Besar kepada ayahnya, Syekh H.Muhammad Salim. Ayah beliau sangat senang mendengarkan niat beliau. Apalagi Syekh H.Muhammad Salim telah mengetahui bahwa putranya ini telah menamatkan kitab-kitab agama yang dipelajari di Pesantren Bustanul Huda.

Sebagai bekal dalam perjalanan beliau dari Labuhan Haji, ayahanda beliau memberikan sebuah kalung emas yang lain merupakan milik kakak kandung Syekh Muda Waly, yaitu Ummi Kalsum. Beliau diantar oleh ayahanda beliau dari desanya sampai ke kecamatan Manggeng. Setelah sampai ke Manggeng, ayahanda beliau berkata”Biarkan aku antarkan engkau sampai ke Blang Pidie”. Sesampainya di Blang Pidie, Syekh Muhammad Salim berkata kepada putranya, Syekh Muda Waly”biarkan aku antarkan engkau sampai ke Lama Inong”. Pada kali yang ketiga ini Syekh Muda Waly merasa keberatan, karena seolah olah beliau seperti tidak rela melepaskan anaknya merantau jauh untuk menuntut ilmu. Syekh Muda Waly berangkat ke Aceh Besar ditemani seorang temannya yang juga merupakan tamatan dari pesantren Busranul Huda, namanya Teungku Salim, beliau merupakan seorang yang cerdas dan mampu membaca kitab-kitab agama dengan cepat dan lancer


Sesampainya di Banda Aceh, beliau berniat memasuki Pesantren di Krueng Kale yang dipimpin oleh Syekh H.Hasan Krueng Kale,ayahanda dari Syekh H.Marhaban, menteri muda pertanian Indonesia para masa Sukarno. Beliau sampai di Pesantren Krueng kale pada pagi hari, pada saat syekh Hasan Krueng Kale sedang mengajar kitab-kitab agama. Dianatar kiatabynag dibacakan adalah kitab Jauhar Maknun. Syekh Muda Waly mengikuti pengajian tersebut. Sebelum Dhuhur selesailah pembacaan kitab tersebut, dengan kalimat terkhit Wa huwa hasbi wa ni`mal wakil. Setelah selesai pengajian Syekh Muda Waly merasa bahwa syarahan syarahan yangdiberikan oleh Syekh Hasan Krueng Kaletidak lebihdari pengetahuan yang beliau miliki dan apabial beliau membacakan kitab tersebut maka beliau juag akan sanggup menjelaskan seperti syarahann yang dipaparkan oleh Syekh Hasan Basri. Walaupun demikian beliau tetang menganggap Syekh Hasan KruengKale sebagai guru beliau . Bagi Syekh Muda Waly, cukuplah sebagai bukti kebesaran Syekh Hasan Krueng Kale, apabila guru beliau Syekh Mahmud Blang Pidie adalah seorang alumnus Pesantren Kuerng Kale. Syekh Muda Waly hanya satu hari di Pesantren krueng Kale. Beliau bersama Tengku Salim mencari pesantren lain untuk menambah ilmu. Akhirnya merekapun berpisah. Pada saat itu ada seorang ulama lain di Banda Aceh yaitu Syekh Hasballah Indrapuri, beliau memiliki sebuah Dayah di Indrapuri. pesantren ini lebih menonjol dalam ilmu Al-Qur an yang berkaitan dengan qiraat dan lainnya. Syekh Muda Waly merasakan bahwa pengetahuan beliau tentang ilmu Al –Quran masih kurang. inilah yang mendorong beliau untuk memasuki Pesantren Indrapuri. Pesantren Indrapuri tersebut dalam simtem belajar sudah mempergunakan bangku, satu hal yang baru untuk kala itu. Pada saat mengikuti pelajaran, kebetulan ada seorang guru yang membacakan kitab-kitan kuning, Syekh Muda Waly tunjuk tangan dan mengatakan bahwa ada kesalahan pada bacaan dan syarahannya, maka beliau meluruskan bacaan yang benar beserta syarahannya. Dari situlah Ustad dan murid-murid kelas itu mulai mengenal anak muda yang baru datang kepesantren itu dan memiliki pengetahuan yang luas. Maka ustad tersebut mengajak beliau kerumahnya dan memerintahkan kepada pengurus pesantren untuk mempersiapakan asrama temapat tinggal untuk beliau, kebetulan sekali pada saat itu perbekalan yang dibawa Syekh Muda Waly sudah habis, maka dengan adanya sambutan dari pengurus pesantren tersebut beliau tidak susah lagi memikirkan belanja.


Pimpinan Pesantren Indrapuri tersebut, Teungku Syekh Hasballah Indrapuri sepakat untuk mengangkat Syekh Muda Waly sebagai salah satu guru senior di Pesantren tersebut. Semenjak saat itu Syekh muda Waly mengajar di pesantren tersebut tanpa mengenal waktu. Pagi, siangso, sore dan malam semua waktunya dihabiskan untuk mengajar. Tinggallah sisa waktu luang hanya antara jam dua malam sampai subuh. Waktu waktu itupun tetap diminta oleh sebagian santri untuk mengajar. Selama tiga bulan beliau mengajar di Dayah tersebut. Karena padatnya jadwal beliau dan beliau kelihatan kurus, tetapi alhamdulillah walaupun demikian beliau tidak sakit.


Setelah sekian lamanya di Pesantren Indrapuri, datanglah tawaran dari salah seorang pemimpin masyarakat yaitu Teuku Hasan Glumpang payung kepada Syekh Muda Waly untuk belajar ke sebuah perguruan di Padang, Normal Islam School yang didirikan oleh seorang ulama tamatan Al-Azhar, Mesir Ustad Mahmud Yunus. Teuku Hasan tersebut setelah memperhatikan pribadi syekh Muda Waly,timbullah niat dalam hatinya bahwa pemuda ini perlu dikirim ke Al-Azhar, Mesir. Tetapi karena di Sumatra Barat sudah terkenal ada seorang Ulama yang telah menamatkan pendidikannya di Al Azhar dan Darul Ulum di Cairo, Mesir yang bernama Ustad Mamud Yunus yag telah mendirikan sebuah perguruan di Padang yang bernama Normal Islam School yang sudah terkenal kala itu melebihi perguruan perguruan sebelumnya seperti Sumatra Thawalib. Oleh sebab itu Teuku Hasan mengirimkan Syekh Muda Waly ke pesantren tersebut sebagai jenjang atau pendahuluan sebelum melanjutkanke al Azhar.


Berangkatlah Syekh Muda Waly menuju Sumatra barat dengan kapal laut.Beliau sama sekali tidak mengetahui tentang Sumatra Barat sedikit pun,dimana letak Normal Islam School dan kemana beliau harus singgah.tiba tiba saja ada seorang penumpang yang telah lama memperhatikan tingkah laku dan gerak gerik Syekh Muda Waly selama di kapal ,bersedia membantu Syekh Muda Waly untuk bisa sampai ketempat yang beliau tuju.


Setelah sampai di Normal Islambeliau segera mendaftarkandiri di Sekolah tersebut. Lebih kurang tiga bulan beliau di Normal Islam dan akhirnya beliau mengundurkan diri dan keluar dengan hormat dari Lembaga pendidikan tersebut.Hal ini beliau lakukan dengan beberapa alasan :

1.Cita-cita melanjutkan pendidikan kemana saja termasuk ke Normal Islam dengan
tujuan memperdalm ilmu agama,karena cita-cita beliau mudah-mudahan beliau menjadi seorang ulama sperti ulama ulam besar lainnya.Tetapi rupanya ilmu agama yangdiajarkan di normal Islam amat sedikit.Sehingga seolah olah para pelajar disitu sudah dicukupkan ilmu agamanya dengan ilmu yang didapati sebelum memasuki pesantren tersebut.
2.Di normal Islam pelajaran umum lebih banyak diajrakan ketimbang pelajaran agama.Disana diajarkan ilmu matematika,kimia,biologi,ekonomi,ilmu falak,sejarah Indonesia,bahasa inggris.bahasa belanda,ilmu khat dan pelajaran olahraga.
3. Di normal Islam beliau harus menyesuaikan diri dengan peraturan peraturan di lembaga tersebut,Di situ para pelajar diwajibkan memakai celana ,memakai dasi,ikut olah raga disamping juga mengikuti pelajaran umum diatas.Menurut hemat Syekh Muda Waly,kalau begini,lebih baik beliau pulang ke Aceh mengamalkan dan mengembangkan ilmu yang telah beliau miliki daripada menghabiskan waktu dan usia di Sumatra Barat.


Setelah beliau keluar dari Normal Islam,beliau bertemu dengan salah seorang pelajar yang juga berasal dari Aceh dan sudah lama di Padang yaitu Ismail Ya`qub,penerjemah Ihya `ulumuddin .Bapak Ismail Ya`qub menyampaikan kepada Syekh Muda Waly supaya jangan cepat cepat pulang ke Aceh,tetapi menetaplah dulu di Padang,barangkali ada manfaatnya.
Pada suatu sore beliau mampir untuk berjamaah maghrib di sebuah surau yaitu di Surau Kampung Jao.Setelah shalat maghrib kebiasaan disurau itu diadakan pengajian dan seorang ustaz mengajar dengan membaca kitab berhadapan dengan para jamaah.rupanya apa yang di baca oleh ustaz itu beserta syarahan yang di sampaikan menurut Syekh Muda Waly tidak tepat,maka beliau membetulkan.sehingga ustaz itu dapat menerima.sedangkan jamaah para hadirin bertanya-tanya tentang anak muda yang berani bertanya dan membetulkan pendapat ustaz itu.

Akhirnya para jamaah beserta ustaz tersebut meminta beliau supaya datang kesurau itu untuk menjadi imam solat dan mengajarkan ilmu agama . Begitulah dari hari ke hari,ayahku mulai dikenal dari satu surau ke surau yang lain , dan dari satu mesjid ke mesjid yang lain. Apalagi beliau bukan orang padang, tetapi dari daerah Aceh dan nama Aceh sangat harum dalam pandangan ummat islam Sumatra barat. Dan yang lebih mengagumkan lagi ialah kemahiran beliau dalam ilmi fiqh, tasawwuf, nahu dan lain. Barulah sejak itu beliau dipangil oleh masyarakat dengan Angku Mudo atau Angku Aceh.

Pada masa itu pula sedang hangat-hangatnya di Sumatra Barat tentang masalah- masalah keagamaan yang sifatnya adalah sunat-sunat’ seperti masalah usalli,masalah hisab dalam memulai puasa Ramadan,hari raya ‘Id al –fitr dan lain lain.Terjadilah perdebatan antara kelompok kaum tua dengan kelompok kaum muda.

Syekh Muda Waly berasal dari Aceh dalam kelahiran,dan pendidikannyai,tentu saja berpendirian dalam semua masalah masalah itu seperti pendirian para ulama Aceh sejak zaman dahulu,karena semua ulama Aceh khususnya dalam bidang syari’at dan fiqh islam tidak ada bertentangan antara yang satu dengan yang lain.Apalagi ulama ulama Aceh zaman dahulu seperti syeikh Nuruddin al-Raniri,Syeikh Abdul Rauf al-fansuri al-singkili [Syiahkuala],Ssyeikh Hamzah Fansuri,Syekh Syamsuddin Sumatrani dan lain lain.Semuanya bermazhab Syafi`I dan antara mereka tidak terjadi pertentangaan dalam syari``at dan fiqh Islam kecuali hamya perbedaan pendapat dalam masalah tauhid yang pelikdan sangat mendalam ,yaitu masalah Wahdah al-Wujud,juga masalah hukum Islam yang berkaitan dengan politik,seperti masalah wanita menjadi raja.
Karena itulah maka semua masalah masalah kecil di atas sangat dikuasai oleh Syekh Muda Waly dalil dalil hukum dan alasan alasannya ,al Qur’an dan hadist ,dan juga dari kitab kitab kuning. Karena itulah ,maka terkenallah beliau di kota padang dan mulai dikenal pula oleh seorang ulama besar di kota padang itu,yaitu syeikh Haji Khatib Ali,ayahandanya Prof.Drs.H. Amura.Syeikh Khatib Ali ulama besar ahli al-sunnah wa al-jama’ah dipadang .Murid daripada Syeikh Ahmad Khatib di Mekkah Al- Mukarramah.beliu mendapat ijazah ilmu agama dari Syeikh Ahmad Khatib dan mendapat pula ijazah Tariqat Naqsyabandiyah daripada Syeikh Ustman Fauzi Jabal Qubais Mekkah al-mukarramah.Yang menjadikan beliu terkenal di padang karena kegigihannya mempertankan `aqidah ahli al-sunnah wa al-jama`ah dan mazhab syafi`i, di samping pula beliu adalah menantu seorang ulama besar dalam ilmu syari`at dan tariqat,yaitu Syeikh sa`ad Mungka. Syeikh sa`ad Mungka .Syekh Khatib Ali sangat tertarik kepada Syekh muda Waly sehingga beliau menjodohkan Syekh Muda Waly dengan seorang family beliau yaitu Hajjah Rasimah,yang akhirnya melahirkan Syekh prof.Muhibbuddin Waly.Sejak itulah kemasyhuran Syekh Muda Wali semakin meningkat dan terus ditarik oleh ulama-ulama besar lainnya dalam kelompok para ulama kaum tua,tetapi beliau secara tidak langsung juga mengambil hal-hal hal yang baik dari ulama-ulama lainnya, seperti orahg tuanya Buya Hamka,Haji rasul.

Kemudian Syekh Muda waly juga berkenalan dengan Syekh Muhammad Jamil Jaho. Maka beliau mengikuti pengajian yang diberikan oleh Ulama besar Padang tersebut. Hubungan beliau dengan Syekh Muda Waliy pada mulanya hanya sekadar guru dan murid. Syekh Jamil Jaho adalah seorang Ulama Minangkabau,murid Syekh Ahmad Khatib. Beliau diakui kealimannya oleh ulama lainnya terutama dalam ilmu bahasa arab. Di Pesantren jaho itulah Syekh Muhammad Jamil Jaho mengumpulkan murid muridnya yang pintar untuk mencoba pengetahuan Syekh Muda Waly pada lahiriyahnya mereka seperti mengaji pada Syekh Muda Waly tapi pada hakikatnya adalah untuk menguji dan mencoba Syekh Muda Waly dengan berbagai ilmu alat. Rupanya semua debatan tersebut dapat dijawab oleh Syekh Muda Waly. Dari situlah, Syekh Muda Waly semakin terkenal dikalangan para ulama Minangkabau. Akhirnya Syekh Muda Waly dinikahkan dengan putri Syekh Muhammada Jamil Jaho yaitu dengan seorang putrinya yang juga alim, Hajjah Rabi`ah yang akhirnya melahirkan Syekh H.Mawardi Waly. Akhirnya syekh Muda Waly menempati rumah pemberian paman istri beliau yang pertama, Hajjah Rasimah. Rumah itu terdiri dari dari dua tingkat. Pada bagian bawahnya di gunakan sebagai madrasah tempat majlis ta`lim

Apabila datang hari hari besar islam ummat Islam di Kota Padang beramai ramai datang kerumah tersebut. Para Ulama Kota Padang khususnya sering berdatangan ke rumah tersebut karena bila tak ada undangan Syekh Muda Waly sibuk mengajar dan berdiskusi dengan para ulama lainnya Apalagi dalam rumah itu juga tinggal seorang ulama besar lain, Syekh Hasan Basri, menantu dari Syekh Khatib `Ali Padang dan suami dari Hajjah Aminah, ibunda dari istri beliau Hajjah Rasimah. Pada tahun 1939 Syekh Muda Waly menunaikan ibadah haji ketanah suci bersama salah seorang istri beliau Hajjah rabi`ah. Selama di Makkah beliau tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan .Selain menunaikan ibadah haji, beliau juga memanfaatkan waktu untuk menimba ilmu pengetahuan dari ulama ulama yang mengajar di Masjidil Haram antara lain Syekh Ali Al Maliki, pengarang Hasyiah al - Asybah wan nadhaair bahkan beliau mendapat ijazah kitab kitab hadis dari Syekh Ali Al Maliki .


Selama di Makkah Syekh Muda Waly seangkatan dengan Syekh Yasin Al fadani,seorang ulaam besar keturunan Padang yang memimpin Lembaga Pendidikan Darul Ulum di Makkah al mukarramah
.

Pada waktu Syekh Muda Waly berada di Madinah pada setiap saat shalat beliau selalu menziarahi kuburan yang mulia Rasulullah Saw.Pada waktu itu siapa saja yang menziarahi kuburan Nabi secara dekat, akan dipukul oleh polisi dengan tongkatnya.tetapi pada saat Syekh Muda Waly sedang bermunujat dekat makam Rasullualah,beliau didekati oleh polisi,ingin memukul beliau,maka Syekh Muda Waly langsung berbicara dengan polisi tersebut dengan bahasa arab yang fasih sehingga polisi tersebut tertarik dengan beliau dan membiarkan beliau duduk lama didekat maqam Nabi SAW.Di Madinah Syekh Muda Waly berdiskusi dengan para ulama ulama dari negeri lain terutama dari Mesir.Beliau tertarik dengan dengan perkembangan ilmu pengetahuan di negeri Mesir,sehingga beliau sudah bertekat menuju ke Mesir,tetapi beliau lupa bahwa pada saat itu beliau membawa istri beliau Hajjah Rabi`ah.Istri beliau keberatan ditinggalkan untuk pulang ke Indonesia.akhirnya beliau urung berangkat ke Mesir.
Selama beliau di Makkah ataupun Madinah beliau tak sempat mengambil ijazah dalam Tahariqat apapun.Hal ini kemungkinan besar karena dua hal :


1.Karena beliau berada di tanah suci lebih kurang hanya tiga bulan ,waktu yang sangat singkat bagi beliau yang mempunyai cita-cita besar untuk menggali ilmu dari berbagai ulama.Sehingga habislah waktu beliau hanya untuk menemui dan berdiskusi dengan para ulama lainnya.


2.pada umumnya para pelajar yang datang ke Tanah suci untuk mengamalkan thariqat,mengambil ijazah, dan berkhalwat harus berada di tanah suci pada bulan Ramadan.Karena pada bualn Ramadan halaqah pengajian sepi bahkan libur.Semua waktu dalam bulan Ramadhan dutujukan untuk beribadah.Sedangkan Syekh Muda Waly berada di Tanah suci bukan dalam bulan Ramadhan .
 
MurtawaFz

silsilah Nabi dan Rasul

KETURUNAN NABI MUHAMMAD S.A.W

Friday, 8 November 2013

Ummul mukminin Ummu Salamah RA

Ummul Mukminin Ummu Salamah RA


          Ummu Salamah RA, atau nama aslinya Hindun binti Abu Umayyah, berasal dari Bani Makhzum, ayahnya termasuk seorang bangsawan Arab yang ternama dan dermawan. Ia dinikahi Rasulullah SAW dalam keadaan janda. 
            Pernikahan pertamanya dengan Abu Salamah, atau Abdullah bin Abdul Asad, didasari dengan rasa saling mencintai seolah tak bisa dipisahkan. Suatu ketika ia berkata kepada suaminya, "Aku pernah mendengar bahwa jika seorang menikah dan saling mencintai, kemudian suaminya meninggal dan istrinya tidak menikah lagi dengan siapapun, maka istrinya akan masuk surga dan mendapatkan lelaki yang diinginkannya. Begitu juga jika istri yang meninggal dahulu, kemudian suaminya tidak menikah lagi dengan wanita lainnya, maka ia akan masuk surga dan memperoleh wanita yang diidamkannya. Oleh karena itu marilah kita saling berjanji untuk tidak menikah lagi jika salah satu dari kita meninggal dunia."
         Mendengar pernyataan istrinya ini, Abu Salamah berkata, "Apakah engkau mau mentaati perintah saya?"                                                                        
           "Ya," Kata Ummu Salamah, "Karena itu aku bermusyawarah denganmu agar aku bisa menaatimu."  
           "Jika aku meninggal dahulu, menikahlah engkau,'" Kata Abu Salamah.
Kemudian ia berdoa, "Ya Allah, apabila saya meninggal nanti, nikahkanlah Ummu Salamah dengan lelaki yang lebih baik daripada saya, yang tidak akan menjadikan hatinya bersedih, yang tidak akan memberikan kesulitan kepadanya."
Allah mengabulkan doa Abu Salamah ini, dan sepeninggalnya ternyata Nabi SAW berkenan untuk menikahi Ummu Salamah.                                                                                           
            Suami istri ini telah memeluk Islam pada masa awal Islam didakwahkan. Dalam perjalanan hijrah ke Madinah bersama suami dan anaknya, kerabatnya dari Bani Mughirah tidak merelakan kepergiannya dan mereka merebut kendali onta yang membawanya. Anaknya, Salamah bin Abu Salamah yang dalam gendongannya direbut oleh kerabat suaminya dari Banu Abdul Asad, tetapi tidak membiarkan suaminya, Abu Salamah untuk membawanya hijrah ke Madinah.
Tinggallah Ummu Salamah bersama kaumnya, tetapi ia selalu dalam keadaan sedih karena jauh dari orang-orang yang dicintainya, suami dan anaknya serta saudara-saudaranya sesama muslim. Setiap sore Ummu Salamah keluar, duduk di atas batu sambil menangis hingga larut malam. Keadaan yang menyedihkan ini berlangsung hingga setahun, sampai akhirnya salah satu kerabatnya meminta kepada pemuka Bani Mughirah untuk melepaskan dan membiarkannya hidup bersama suaminya, dan permintaan ini disetujui. Saat itu Bani Abdul Asad pun memberikan kembali anaknya. Ia pun menyusul suaminya berhijrah ke Madinah.                                                
Ummu Salamah menunggang unta hanya berdua dengan anaknya. Sampai di Tan'im, tidak  jauh dari Makkah, ia berjumpa dengan Utsman bin Thalhah (saat itu belum memeluk Islam), yang kemudian bertanya kepadanya, "Mau kemana engkau, berjalan sendirian?"                                                     
"Saya akan menemui suamiku di Madinah?"                                                                         
            "Apakah tidak ada yang menemanimu?" Utsman setengah tidak percaya, karena Madinah jaraknya jauh sekali, sekitar limaratus kilometer mengarungi padang pasir dan memerlukan waktu berhari-hari.
Tetapi dengan mantap Ummu Salamah berkata, “Tidak ada siapa-siapa lagi selain Allah!"      
Utsman mengambil kendali unta yang ditunggangi Ummu Salamah dan membawanya berjalan ke arah Madinah. Jika tiba waktunya istirahat, ia merendahkan unta di dekat sebuah pohon dan menjauh, sehingga Ummu Salamah bisa turun dengan mudah. Setelah akan berangkat lagi, ia merendahkan unta sampai Ummu Salamah naik, dan memegang lagi kendalinya ke arah Madinah. Begitulah terjadi berulang-ulang dalam beberapa hari. Ketika telah sampai di Quba, Utsman bin Thalhah berkata, "Suamimu berada di sini,"                                                                                
Utsman membiarkan Ummu Salamah mengendalikan untanya sendiri, dan ia berjalan kembali ke arah Makkah.
Ketika telah bertemu dengan suaminya, Abu Salamahia menceritakan perjalanannya, dan kemudian berkata, “Demi Allah, selama setahun saya mengalami berbagai kesusahan dan penderitaan, belum pernah saya bertemu orang sebaik dia (Utsman bin Thalhah)."                      
Abu Salamah, suami Ummu Salamah wafat pada bulan Jumadil Akhir tahun 4 Hijriah, akibat luka parah yang diperolehnya pada perang Uhud, dan kambuh lagi ketika ia memimpin pasukan untuk memerangi Bani Asad. 
Setelah menjadi janda, iapun teringat akan pesan dan juga doa suaminya, agar ia menikah lagi. Untuk itu, ia dengan tekun melafalkan doa yang pernah diajarkan Rasulullah SAW, doa ketika mendapat musibah, yaitu : Allahumma Ajirnii fii mushiibatii, wakhlufnii khoiron minha  (Ya Allah, berilah pahala atas musibah yang saya alami ini, dan gantilah dengan yang lebih baik)                  
Namun disela-sela doanya, ia sering berfikir, siapakah lelaki yang lebih baik daripada Abu Salamah? Pernah Abu Bakar menyatakan keinginan untuk menikahinya, tetapi Ummu Salamah menolak. Begitu juga ketika Umar bin Khaththab bermaksud menikahinya
Ketika Nabi SAW meminangnya, ia bertanya dalam hati, inikah pengabulan doa Abu Salamah dan doaku? Namun demikian ia berkata kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, anak saya banyak, dan saya mempunyai sifat cemburu yang besar. Selain itu, tidak ada wali yang akan menikahkan saya..!"
Mendengar alasan ini, dengan senyum Nabi SAW bersabda, "Yang menjaga anak-anak adalah Allah SWT, dan insya Allah sifat cemburu itu akan berangsur hilang, karena seseorang tidak akan terus-menerus marah. Mengenai wali, Salamah adalah walimu…!"
Ummu Salamah akhirnya menerima pinangan Nabi SAW ini. Pernikahan ini terjadi pada bulan Syawal tahun 4 Hijriah. Ummu Salamah lahir sekitar sembilan tahun sebelum kenabian, jadi ia berusia sekitar 26 tahun ketika menikah dengan Nabi SAW, wafat pada usia 84 tahun pada tahun 62 hijriah. 
Ummu Salamah dinikahi Nabi SAW setelah wafatnya Zainab binti Khuzaimah, dan ia menempati rumah yang sebelumnya ditinggali Zainab. Ketika Aisyah RA mendengar pernikahan ini, ia ingin melihat wajah Ummu Salamah, karena kabar yang didengarnya, Ummu Salamah ini seorang wanita yang sangat cantik. Secara diam-diam ia berusaha agar bisa melihat wajahnya. Setelah berhasil, ia berkata, "Ternyata memang benar, dia lebih cantik daripada berita yang saya dengar…!"
Ketika bertemu Hafshah, dan menceritakan tentang Ummu Salamah, dan Hafshah berkata, Menurut saya, dia tidaklah secantik apa yang dikatakan orang-orang…!"




MurtawaFz

Ummul mukminin shafiyah binti huyyai RA

Ummul Mukminin Shafiyah binti Huyyai RA


Shafiyah binti Huyyai bin Akhthab RA adalah seorang wanita Bani Israel, masih keturunan Nabi Musa dan Nabi Harus AS. Dia adalah putri salah satu pemimpin Yahudi Khaibar, Huyyai bin Akhthab. Ia telah menikah dua kali sebelum pernikahannya dengan Nabi SAW. Suaminya yang pertama adalah Salam bin Masykam. Setelah berpisah dengan Salam, ia dinikahi oleh Kinanah bin Abul Huqaiq ketika mulai berlangsungnya Perang Khaibar.
Ia pernah bermimpi melihat pecahan bulan jatuh ke pangkuannya. Ketika mimpi ini diceritakan kepada ayahnya, dengan marah Huyyai menamparnya dan berkata, "Apakah engkau ingin menikah dengan raja Madinah??"
            Ketika menjadi istri Kinanah, ia juga pernah bermimpi melihat matahari berada di dadanya. Mimpi ini diceritakan pada suaminya, lagi-lagi ia hanya mendapat kemarahan dan ucapan yang sama, "Sepertinya engkau ingin menikah dengan raja Madinah..!!"
Ketika perang Khaibar berakhir dengan menyerahnya orang-orang Yahudi, Shafiyah menjadi salah satu tawanan. Suaminya, Kinanah dibunuh karena melakukan pengkhianatan atas perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Ketika sahabat Dihyah al Kalbi datang kepada Nabi SAW meminta hamba sahaya wanita, beliau memberikan Shafiyah kepadanya.
Beberapa sahabat Anshar yang melihat hal ini, datang kepada Nabi SAW dan memberikan pendapat dan pandangannya, "Wahai Rasulullah, Bani Nadhir dan Bani Quraizhah (Dua kabilah Yahudi di Madinah), akan merasa sangat tersinggung jika putri pemimpin Yahudi dijadikan seorang hamba sahaya, karena itu, sebaiknya engkau menikahi Shafiyah saja."       
Nabi SAW memahami maksud sahabat-sahabatnya tersebut. Ia memanggil kembali Dihyah al Kalbi dan Shafiyah, beliau memberikan uang tebusan kepada Dihyah untuk kebebasan Shafiyah. Dalam riwayat lain, beliau memberikan atau menyuruh Dihyah memilih wanita lain sebagai hamba sahayanya. Kemudian Nabi SAW bersabda kepada Shafiyah, "Wahai Shafiyah, engkau sekarang bebas. Engkau boleh kembali kepada kaummu, atau kalau engkau bersedia, masuklah ke dalam agama Islam, dan aku akan menikahimu..!"
            Mendengar penawaran ini, dengan sukacita Shafiyah berkata, "Wahai Rasulullah, sudah lama aku ingin menjadi istrimu sejak aku masih beragama Yahudi. Karena itu bagaimana mungkin aku akan bisa berpisah denganmu, sedangkan saat ini aku telah memeluk Islam..!"  
          Nabi SAW pun menikahi Shafiyah, dengan mas kawin pembebasan dirinya status sahaya. Dalam perjalanan pulang ke Madinah, di suatu tempat bernama Ash Shahba', Nabi SAW mengadakan walimah atas pernikahannya dengan Shafiyah. Ummu Sulaim merias Shafiyah dalam acara walimah ini. Nabi bersabda pada sahabat-sahabatnya, "Barang siapa memiliki makanan, hendaklah dibawa kesini..!"
            Para sahabat  datang dengan berbagai makanan, seperti kurma, buah pir, manisan, minyak zaitun, makanan dari tepung dan keju, dan lain-lain. Mereka menempatkan pada sebuah alas makan dari kulit. Inilah yang menjadi hidangan acara walimah tersebut. Nabi SAW tinggal Ash Shahba' selama tiga hari sebelum meneruskan perjalanan pulang ke Madinah.  
            Diriwayatkan dari Shafiyah sendiri, bahwa ia dinikahi Nabi SAW ketika usianya belum genap 17 tahun, yakni pada tahun 7 hijriah, dan meninggal pada bulan Ramadhan tahun 50 hijriah, dalam usia 60 tahun.


MurtawaFz

Dikafani Jubah Rasulullah SAW

Dikafani Jubah Rasulullah SAW


Seorang lelaki dari suatu kabilah Arab datang untuk beriman dan mengikuti Nabi SAW. Ia juga berkata, "Aku akan berhijrah bersamamu!"
Nabi SAW menyerahkan lelaki tersebut pada para sahabat untuk diajari seluk-beluk Islam. Pada perang Khaibar, lelaki ini ikut serta dan diberi tugas untuk memelihara dan merawat unta-unta. Ketika perang berlangsung, beberapa rampasan perang telah didapat, dan Nabi SAW membaginya kepada para sahabat, termasuk lelaki tersebut. Tetapi ketika harta tersebut diantarkan kepadanya oleh seorang sahabat, ia bertanya, "Apakah ini?"  
"Bagian dari rampasan perang yang dibagikan Rasulullah SAW untukmu!!" Kata sahabat tersebut.
Seketika ia pergi menemui Nabi SAW sambil membawa harta bagiannya tersebut, dan berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh aku mengikuti engkau bukan karena ini, tetapi aku mengikuti engkau agar aku dipanah disini…,"
Lelaki tersebut menunjuk ke arah leher atau kerongkongannya, kemudian ia berkata lagi, "Lalu aku mati dan bisa masuk surga."
Nabi SAW tersenyum mendengar penuturannya tersebut, kemudian beliau bersabda, "Sekiranya engkau berkata jujur, Allah pasti akan membenarkanmu."
Lelaki ini bangkit, dan bergabung di barisan depan untuk memerangi kaum Yuhadi yang masih mempertahankan benteng Khaibar. Tidak lama kemudian, beberapa sahabat mendatangi Rasulullah SAW sambil membawa lelaki tersebut yang telah tewas, anak panah menancap di kerongkongannya, tepat di tempat ia menunjuknya. Nabi SAW bertanya, "Dia lelaki itu?"
Para sahabat mengiyakan. Nabi SAW bersabda, "Dia telah jujur kepada Allah sehingga Allah membenarkannya."
           Nabi SAW mengkafaninya dengan jubah beliau, meletakkan di depannya dan dishalatkan. Sebagian dari doa beliau untuk lelaki ini adalah, "Ya Allah, ini adalah hambaMu, ia telah keluar berhijrah di jalanMu, kemudian terbunuh sebagai syahid dan aku sebagai saksi baginya.



MurtawaFz

Thufail bin Amr ad Dausi RA

Thufail bin Amr ad Dausi RA


        Thufail bin Amr ad-Dausi, seorang bangsawan yang mulia dan bijaksana sekaligus penyair cendekiawan dari bani Daus di Yaman. Ketika ia datang di Mekah, segera saja orang-orang Quraisy menemuinya dan memperingatkannya dari Nabi SAW, dari kata-kata beliau yang mempesonakan, yang dianggapnya sebagai sihir yang hendak memecah-belah seseorang dengan keluarganya. Memisahkan seorang ayah dari anaknya, seorang istri dari suaminya, bahkan dirinya sendiri dari kaumnya. Mereka menyarankan agar Thufail tidak berbicara dan mendengarkan ucapan Nabi SAW. Mereka khawatir kalau peristiwa yang terjadi di Mekah itu akan menimpa Bani Daus, kaumnya Thufail.
            Orang-orang Quraisy begitu gencar mengingatkannya sehingga ia menetapkan diri untuk tidak menemui Nabi SAW. Tetapi ternyata takdir menentukan nasibnya, suatu hari Thufail pergi ke Ka'bah, dan pada saat yang sama, Nabi SAW sedang berada di sana. Tanpa sengaja ia mendengarkan kata-kata Rasulullah SAW, dan itu amat berkesan di hatinya.
Hati kecilnya terusik, "Bagaimanapun aku seorang cendekiawan dan penyair, aku dapat mengenal mana yang baik dan mana pula yang buruk. Apa salahnya kalau aku mendengarkan sendiri apa yang akan dikatakan orang itu! Jika ternyata baik akan kuterima, kalau buruk akan kutinggalkan."
Ia mengikuti Rasulullah SAW sampai ke rumah beliau dan bertamu, kemudian menceritakan tentang apa dikatakan kaum Quraisy kepadanya dan apa yang terlintas dalam hatinya itu. Nabi SAW memaklumi sikap orang-orang Quraisy tersebut, dan menjelaskan tentang risalah  Islam kepadanya. Beliau juga membacakan beberapa ayat-ayat Quran. Akal sehatnya tidak bisa lagi tertutup dari kebenaran, Thufail langsung memeluk Islam saat itu juga.
Thufail adalah seorang tokoh yang ditaati oleh kaumnya, Bani Daus, ia meminta ijin Nabi SAW untuk mendakwahkan Islam kepada kaumnya, dan beliau menyetujuinya. Ia juga meminta Nabi SAW mendoakannya agar Allah SWT memberikan suatu tanda sebagai penolong dalam usaha dakwahnya, dan beliau juga mendoakannya.
Dalam perjalanan pulang ke kaumnya, ia kemalaman di suatu tempat di antara dua gunung. Dalam kegelapan malam itu, tiba-tiba muncul sinar di antara dua matanya. Thufail merasa ini adalah pengabulan doa Nabi SAW atas tanda yang dimintanya. Tetapi ia khawatir kalau adanya sinar di wajahnya justru dianggap kaumnya sebagai hukuman karena ia memecah belah kaumnya dengan dakwah islamnya itu, karena itu ia berdoa kepada Allah agar sinar itu dipindahkan dari wajahnya. Allah mengabulkan doanya, dan sinar itu berpindah ke ujung cambuknya.
Ketika sampai di kalangan kaumnya, pertama kali ia mendakwahi keluarganya. Ayah dan istrinya menyambut ajakannya memeluk Islam, sedang ibunya menundanya. Tidak mudah bagi Thufail mengajak kaumnya memeluk  Islam, beberapa orang bahkan mendustakan dan memusuhinya karena dakwahnya tersebut.
Setelah beberapa waktu lamanya berdakwah hanya beberapa orang saja menyambut ajakannya memeluk Islam, sebagian besar malah memusuhinya. Ia kembali menemui Nabi SAW di Makkah, dan berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah kebinasaan untuk Bani Daus, karena kebanyakan dari mereka mendustakanmu…!!”
Nabi SAW tersenyum mendengar permintaan Thufail tersebut, kemudian mengangkat tangan beliau dan berdoa, "Ya Allah, berilah hidayah kepada Daus.."
Setelah itu beliau berpaling kepada Thufail dan bersabda, "Kembalilah engkau kepada kaummu, serulah mereka kepada Islam dengan lemah lembut."
Thufail sangat terkesan dengan sikap beliau tersebut. Ia segera kembali ke kampungnya, dan mendakwahi kaumnya dengan sabar dan lemah lembut. Pada tahun 7 hijriah, ia berhijrah ke Madinah dengan tujuhpuluh atau delapanpuluh keluarga yang semuanya telah memeluk Islam, termasuk di antaranya Abu Hurairah. Saat itu Nabi SAW dan sahabat-sahabat beliau sedang dalam peperangan Khaibar, maka mereka, kecuali wanita dan anak-anak, segera menyusul dan ikut terjun dalam pertempuran melawan kaum Yahudi tersebut.
            Thufail meninggal pada masa kekhalifahan Abu Bakar ash Shididiq, ia syahid dalam perang Yamamah, peperangan dalam rangka menumpas nabi palsu, Musailamah al Kadzdzab.


MurtawaFz

MUSH'AB BIN UMAIR RA

Mush'ab bin Umair RA


Islamnya Mush'ab bin Umair
Masa remaja Mush'ab bin Umair adalah masa remaja yang paling diidamkan oleh umumnya remaja, hidup berlimpah kekayaan, tampan, cerdas, dimanjakan orang tua, diinginkan oleh banyak wanita dan dihargai oleh lingkungannya karena dari keluarga terpandang dan banyak memberikan solusi dalam majelis-majelis.
Namun semua kelebihan dan fasilitas yang dipunyainya jadi tak berarti ketika ia mulai mendengar adanya dakwah yang dibawa Nabi SAW. Tekanan dan siksaan yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap pemeluk Islam tidak membuatnya gentar untuk mengenal lebih jauh ajaran agama baru ini. Akhirnya cahaya hidayah membawanya ke rumah Arqam bin Abil Arqam (Darul Arqam), dimana biasanya Rasulullah SAW mengajar sahabat-sahabat beliau, dan ia berba’iat memeluk Islam. Lantunan ayat-ayat Al Qur'an membuat hatinya bergemuruh, penuh gairah dan haru yang membludak, sampai akhirnya Rasullullah SAW mengusap dadanya, sehingga hatinya menjadi tenang dan damai bagaikan lubuk sungai yang dalam.
Hal yang ditakutkan setelah menjadi Islam adalah ibunya. Ibunya, Khunas binti Malik adalah sosok yang dominan, berkepribadian kuat, berpendirian yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena itu Mush'ab menyembunyikan keislamannya dari ibunya, dan diam-diam ia selalu pergi ke rumah Arqam untuk memperdalam keislamannya. Namun pada akhirnya ibunya tahu juga perubahan keyakinan anaknya dari seseorang bernama Utsman bin Thalhah.
Tak pelak lagi, Mush'ab diinterogasi ibunya di depan pembesar-pembesar Quraisy, namun kekuatan iman telah menyatu-padu dalam hatinya sehingga tak mungkin ia kembali ke kepada agama jahiliah. Bahkan ia berdiri tegar di depan ibunya yang selama ini dihormati dan ditakutinya sambil membacakan ayat-ayat Al Qur'an. Dalam puncak kemarahannya, ibunya mengurung Mush'ab dalam ruangan sempit dan terpencil dengan penjagaan ketat.
Ketika Nabi SAW menitahkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Habsyi, Mush'ab berhasil memperdaya penjaganya dan lolos untuk mengikuti beberapa sahabat hijrah ke Habsyi. Sungguh harga yang mahal untuk mempertahankan keimanan. Kemewahan dan kemegahan masa remaja ditukar dengan hidup merana dan terlunta di negeri orang. Memang kenikmatan batin karena manisnya iman tidak akan bisa dijual dengan sebanyak apapun kemewahan dunia ini.
Beberapa waktu kemudian Mush'ab hadir dalam majelis Nabi SAW bersama sahabat-sahabatnya, mereka menundukkan dan memejamkan mata, sebagian menangis haru melihat penampilan Mush'ab yang memakai jubah usang bertambal-tambal. Rasanya belum lama berselang ketika mereka melihat Mush'ab yang bagaikan bunga di taman, begitu cemerlang memikat dan menebarkan aroma wewangian di sekitarnya. Tetapi justru inilah yang memunculkan pujian Rasulullah SAW atas dirinya, Beliau    bersabda, "Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya tetapi semua itu ditinggalkan karena cintanya pada Allah dan RasulNya."

Muballigh Pertama di Kota Madinah
            Dakwah Nabi SAW pada beberapa kelompok suku yang sedang melaksanakan haji, kebanyakan mengalami penolakan. Tetapi enam orang dari Suku Khazraj yang dipimpin oleh As'ad bin Zurarah dari Bani Najjar menerima ajakan Rasulullah dengan baik. Pada musim haji berikutnya, dua belas orang datang lagi dan berba'iat pada Nabi SAW, tujuh orang di antaranya baru masuk silam. As'ad bin Zurarah yang juga memimpin rombongan ini meminta Rasullullah SAW mengirim seseorang yang mampu memberikan pengajaran dan memimpin dakwah di Madinah.
Pilihan Nabi SAW jatuh pada Mush'ab bin Umair. Walaupun masih muda, pengalamannya di masa jahiliah dalam majelis-majelis dan kepandaiannya saat berguru pada Rasullullah tentunya menjadi pertimbangan Nabi untuk memilihnya dalam tugas mulia ini. Ia tinggal bersama As'ad bin Zararah.
Bersama As'ad, Mush’ab mendatangi berbagai kabilah, rumah-rumah dan mejelis-majelis untuk mengajak mereka memeluk Islam. Saat berdakwah pada kabilah Abdul Asyhalia sempat disergap oleh Usaid bin Hudlair, pemuka kabilah tersebut karena dianggap mengacau dan membuat anak buahnya menyeleweng dari agamanya Tetapi dengan kemampuan diplomasinya dan wajahnya yang teduh serta tenang, Mush’ab mampu meredam kemarahan Usaid, dan memaksanya untuk duduk mendengarkan.
Mush'ab pun membacakan ayat-ayat Qur'an dan menjelaskan risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dengan gaya bahasa yang halus penuh ketulusan, Mush'ab mampu menyentuh hati nurani Usaid yang terdalam, dan membawanya pada hidayah Allah untuk memeluk Islam, yang dalam beberapa jam kemudian disusul dengan keislaman Sa’ad bin Mu’adz, tokoh Bani Abdul Asyhal lainnya. Keislaman dua pemukanya ini dikiuti oleh hampir seluruh anggota kabilah tersebut.
Tersebarnya kabar  tentang keislaman Usaid bin Hudlair dan Sa’ad bin Mu’adz membuat tokoh-tokoh Madinah lainnya mencari tahu tentang agama baru ini. Beberapa pemuka kabilah di Madinah akhirnya memeluk Islam, antara lain Sa'ad bin Ubadah dan Amr bin Jamuh, dimana tokoh ini membuat pemusnahan banyak berhala yang selama ini dijadikan sesembahan.
Masyarakat Madinahpun makin banyak yang masuk Islam menyusul tokoh-tokohnya. Mereka berpendapat, "Kalau Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu? Marilah kita datang ke Mush'ab untuk menyatakan keislaman."

Syahidnya Mush'ab bin Umair
Pada Perang Uhud, Mush'ab bin Umair dipilih oleh Rasulullah sebagai pembawa bendera. Dengan strategi yang jitu dan pengaturan pasukan yang sempurna oleh Nabi, pasukan Quraisy pun kocar-kacir berlarian meninggalkan harta benda di medanpertempuran. Tetapi ketidak-disiplinan sebagian besar dari 50 pasukan pemanah yang ditempatkan Nabi di atas bukit, membuat situasi berbalik. Hampir 40 orang turun untuk mengambil ghanimah dan membiarkan pertahanan dari bukit terbuka. Peringatan Abdullah bin Jubair, komandan pasukan pemanah untuk tetap tinggal di atas bukit diabaikan begitu saja.
Khalid bin Walid yang memimpin satu kelompok pasukan Qureisy melihat situasi ini, dan ia bergerak menaiki bukit. Sekitar sepuluh orang yang bertahan di atas bukit tak mampu menahan gempuran Khalid dan mereka syahid semua. Kemudian Khalid menggempur pasukan Islam di bawahnya, bahkan serangan-pun mengarah pada Nabi SAW. Mush'ab melihat keadaan bahaya yang mengancam Nabi SAW, ia bergerak cepat dengan bendera di tangan kiri yang diangkat tinggi, tangan kanan mengayun pedang dan mulutnya bergemuruh dengan takbir, mencoba membendung arus musuh yang mendatangi Rasullullah.
Tetapi kekuatan yang tidak berimbang mematahkan serangan Mush’ab, tangan kanannya ditebas Ibnu Qumai'ah hingga putus, Mush'ab hanya berkata, "Muhammad tidak lain hanya seorang Rasul, sebagaimana Rasul-rasul yang telah mendahuluinya."
Kemudian bendera dikepit dengan sisa lengan kanannya, dan tangan kirinya mengayun pedang menyerang musuh yang terus berdatangan. Ketika tangan kiri itu ditebas juga hingga putus dan bendera jatuh. Lagi-lagi Umair mengulang ucapannya, "Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rasul, sebagaimana Rasul-rasul yang telah mendahuluinya."
Namun demikian dengan kedua pangkal lengannya, Mush’ab masih berusaha menegakkannya bendera itu, sampai akhirnya sebuah tombak menusuk tubuhnya hingga patah, dan gugurlah Mush'ab sebagai syahid.
Setelah perang Uhud berakhir, Nabi berdiri di dekat jasad Mush'ab dengan mata berkaca. Sesosok tubuh yang masa mudanya dibalut dengan pakaian halus, mahal dan wangi, kini jasadnya hanya tertutup kain burdah yang begitu pendek, jika ditutup kepalanya, kakinya akan terbuka, jika ditutup kakinya, kepalanya yang terbuka. Maka Nabi bersabda, "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan tutupilah kakinya dengan rumput idzkir."


MurtawaFz

Urwah bin Mas'ud ats Tsaqafi RA

             Urwah bin Mas'ud masih kafir ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, bahkan ia menjadi utusan kaum kafir Quraisy untuk mencegah niat Nabi SAW dan para sahabat yang akan melaksanakan umrah. Ketika berbincang dengan Nabi SAW, ia berusaha memegang janggut beliau, suatu kebiasaan orang arab ketika sedang bercakap-cakap. Tetapi ada seorang lelaki yang selalu memukul tangannya dengan sarung pedang, ketika ia mengulurkan tangannya, sambil berkata, "Undurkan tanganmu dari janggut Rasulullah SAW!"
             Ketika ia tahu orang tersebut adalah Mughirah bin Syu'bah, ia menjadi marah, karena pada masa jahiliah ia pernah membantu Mughirah ketika ia mengalami permasalahan yang bisa membuat nyawanya melayang. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak, karena ia melihat begitu kuatnya ikatan persaudaraan orang muslim saat itu. Bahkan    Rasulullah SAW sendiri menyatakan pembelaannya atas Mughirah, terlepas dari apa yang dilakukannya pada masa jahiliah.
             Urwah bin Mas'ud RA adalah salah satu pemuka bani Tsaqif di Thaif, satu kabilah yang terlibat dalam sekutu untuk memerangi Nabi SAW di perang Hunain, yang sangat dicintai dan ditaati kaumnya. Usai peperangan yang dimenangkan oleh kaum muslimin, hatinya tergerak untuk memeluk Islam, iapun berusaha menemui Nabi SAW, tetapi beliau     sudah berangkat meninggalkan Makkah.
Tekadnya yang sudah menguat membuat Urwah memacu untanya untuk mengejar rombongan kaum muslimin, dan berhasil menyusul beliau di suatu tempat dekat Madinah. Di hadapan Nabi SAW, ia berba'iat memeluk Islam dan dengan gembira Nabi SAW menerimanya. Urwah meminta ijin untuk kembali kepada kaumnya untuk mendakwahkan Islam, tetapi Rasulullah SAW melarangnya. Beliau tahu betul bahwa kabilah tsb. sangat kuat penolakannnya kepada penyeru dari kaumnya sendiri, beliau mengkhawatirkan keselamatan Urwah.
Urwah bin Mas’ud yang telah merasakan manisnya iman, merasakan sejuknya jiwa bersama Rasulullah SAW, ingin sekali mengajak serta kaum kerabatnya yang mencintai dan dicintainya, merasakan hal yang sama. Karena itu dengan agak memaksa ia tetap meminta ijin kepada  Nabi SAW. Ia berdalih kepada beliau, "Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang sangat disukai oleh mereka, lebih besar daripada kecintaan mereka pada anak-anak perempuannya sendiri..!"
Melihat begitu besar keinginannya untuk menyeru kaumnya kepada kebenaran, Nabi SAW akhirnya mengijinkannya. Urwah segera memacu tunggangannya  kembali ke keluarganya di Thaif. Ketika sampai di rumahnya pada waktu isya', beberapa orang menyambutnya dan mengucapkan salam dengan salam jahiliah sebagaimana biasanya, tetapi Urwah tidak menjawab salam itu, ia justru berkata, "Hendaklah kalian mengucapkan salam dengan ucapan salam ahli jannah, yakni Assalamualaikum…"
Mendengar ucapannya itu, mereka menjadi marah dan menyakitinya, tetapi Urwah tetap memperlakukan mereka dengan lembut. Beberapa tokoh bani Tsaqif berkumpul untuk menentukan tindakan selanjutnya terhadap Urwah yang dianggapnya telah murtad.
Ketika fajar menyingsing, Urwah berdiri di bagian atas rumahnya dan beradzan untuk shalat subuh. Orang-orang keluar menuju rumah Urwah, mereka melempari dan memanah ke arah Urwah, seseorang dari bani Malik bernama Aus bin Auf berhasil memanahnya sehingga Urwah terluka parah. Melihat keadaan ini, beberapa kerabat Urwah menyiapkan senjata untuk membalas bani Malik, di antaranya adalah Ghailan bin Salamah, Kinanah bin Abdul YaLil, Hakim bin Amru  dan beberapa orang dari bani Ahlaf. Tetapi Urwah mencegah niat mereka, ia berkata, "Janganlah membunuh mereka karena aku, sesungguhnya aku bersedekah dengan darahku ini untuk memperbaiki hubungan di antara kalian!!"
Seseorang bertanya kepadanya, "Apa pendapatmu mengenai darahmu yang mengalir ini?
"Ini adalah kemuliaan, yang Allah telah memuliakan aku, dan persaksian yang Allah berikan kepadaku. Tiada sesuatupun pada diriku melainkan apa yang ada pada mereka yang syahid bersama Rasulullah SAW, karena itu kuburkanlah aku bersama mereka." Kata Urwah pada detik-detik terakhir sebelum kematiannya. 
Memang, setelah kekalahannya di perang Hunain, sebagian besar pasukan musyrik lari ke Thaif dan bertahan di sana. Nabi SAW memimpin pengepungan benteng Thaif selama beberapa hari dan melakukan penyerangan. Lebih kurang duapuluh orang muslim mati syahid dan dimakamkan disana. Bersama mereka inilah Urwah bin Mas'ud ingin dimakamkan.
Ketika peristiwa pembunuhan Urwah bin Mas’ud ini sampai kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan Urwah di antara kaumnya adalah seperti sahabat Yasin di antara kaumnya."
Yang dimaksud Nabi SAW dengan sahabat Yasin adalah Habib (Khubaib) An Najjar, yang menyeru penduduk kota Thakiyyah agar mereka beriman kepada utusan Nabi Isa AS, tetapi mereka justru membunuhnya. Suatu peristiwa yang diabadikan Allah dalam Al Qur'an Surah Yasin ayat 20-21.


MurtawaFz

Ubay Bin Ka'ab R.A

Ubay bin Ka'ab RA

            Ubay bin Ka'ab adalah seorang sahabat Anshar dari suku Khazraj, ia memeluk Islam pada masa awal yakni ketika terjadinya Ba'iatul Aqabah. Ia juga aktif berbagai pertempuran bersama Nabi SAW seperti Badar, Uhud, dan lain-lainnya, sebagaimana kebanyakan sahabat Anshar lainnya. Tetapi kekhususan Ubay bin Ka'ab di sisi Rasulullah SAW adalah tentang Al Qur'an.
Ubay bin Ka’ab termasuk dalam jajaran sahabat penulis dan penghafal wahyu-wahyu yang turun, dan beliau pernah bersabda kepadanya, "Hai Ubay bin Ka'ab, saya diperintahkan untuk menyampaikan al Qur'an kepadamu…!!"
Antara senang dan cemas kalau "kepedean", ia bertanya, "Wahai Rasulullah, ibu bapakku menjadi tebusan anda, benarkah namaku disebut oleh Allah…?"
"Benar," Kata Nabi SAW, "Namamu dan keturunanmu di tingkat tertinggi…!!"
Suatu ketika Nabi SAW sedang mengimami shalat jamaah, dan terselip satu ayat yang beliau tidak membacanya. Ubay yang berada di belakang Nabi SAW berbisik perlahan kepada Nabi SAW. Usai shalat, beliau bertanya "Siapakah yang tadi membetulkan bacaanku?"
Orang-orangpun menunjuk kepada Ubay bin Ka'ab. Nabi SAW tersenyum dan berkata, "Aku telah menduga, pasti Ubaylah orangnya…"
Suatu ketika ada seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi SAW tentang penyakit yang dialaminya, dan apa yang akan diterimanya karena penyakitnya tersebut. Nabi SAW bersabda, "Itu adalah penghapus dosa (kaffarah)."
Ubay yang saat itu hadir, seketika bertanya, "Walau sakit yang sedikit, wahai Rasulullah!”
"Ya," Kata Nabi SAW, "Walau hanya tertusuk duri, atau yang lebih ringan dari itu."
Suatu ketika Ubay bin Ka'ab merasakan demam, ia teringat akan sabda Nabi SAW tersebut, maka iapun berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta, agar Engkau tidak menghilangkan demam panas ini dari tubuh Ubay bin Ka'ab, hingga aku bertemu denganMu. Tetapi janganlah demam ini menghalangi aku dari shalat, puasa, haji dan jihad di jalanMu."
             Maka sakit demamnya berkepanjangan, hingga tiada seorang yang memegangnya kecuali merasakan panas tubuhnya. Namun  demikian ia tetap bisa beribadah dan berjuang tanpa kesulitan, hingga ajal menjemputnya. 



MurtawaFz

Zaid Bin Harist Ash Shada'i R.A

Ziad bin Harits ash Shada'i RA


Ziad bin Harits adalah pemuka Bani ash Shada’i yang tinggal di Yaman. Ia mendatangi Nabi SAW untuk memeluk Islam, tetapi ternyata beliau telah terlanjur mengirimkan pasukan menuju perkampungannya. Ziad berkata kepada beliau, "Ya Rasulullah, tariklah kembali pasukan itu, dan aku akan bertanggung jawab untuk mengajak mereka memeluk Islam, dan ketaatan mereka kepada engkau."
Nabi SAW memenuhi permintaan Ziad, dan menyuruhnya untuk menyusul pasukan tersebut, tetapi Ziad mengatakan kalau tunggangannya kelelahan sehingga tak mungkin ia bisa menyusulnya. Beliaupun mengirim seorang utusan kepada pasukan tersebut dan memintanya kembali. Setelah pasukan kembali, Ziad menulis surat untuk kaumnya dan mengirimkannya melalui seorang utusan.
Beberapa waktu kemudian datanglah serombongan orang untuk memeluk Islam, mereka adalah kaumnya Ziad as Shada'i. Nabi SAW sangat gembira, dan bersabda kepada Ziad, "Wahai as Shada'i, sungguh engkau orang yang ditaati di kalangan kaummu!"
Mendengar pujian ini, Ziad tahu diri, iapun berkata, "Allah-lah yang telah mengaruniakan kepada mereka hidayahNya sehingga mereka memeluk Islam."
Nabi SAW tersenyum mendengar jawaban Ziad. Beliau menawarkan untuk mengangkatnya sebagai Amir bagi kaumnya, dan Ziad bersedia. Beliaupun memerintahkan juru tulisnya untuk menulis surat pengangkatan Ziad sebagai Amir bagi kaumnya. Sekali lagi beliau memerintahkan untuk menulis surat bagi pengangkatan sebagai amil untuk mengambil zakat dari kaumnya, sehingga Ziad mengantongi dua jabatan sekaligus.
Ziad tidak langsung kembali kepada kaumnya di Yaman, tetapi ia menyertai rombongan Rasulullah SAW beberapa waktu lamanya. Suatu ketika beliau singgah di suatu perkampungan yang penduduknya telah memeluk Islam. Tiba-tiba para penduduknya mendatangi Nabi SAW dan mengadukan perilaku amil mereka yang bertindak semena-mena ketika mengambil harta mereka dengan dalih zakat.
"Benarkah ia melakukan hal itu?" Tanya Rasulullah SAW menegaskan.
Mereka mengiyakan. Beliau berpaling kepada para sahabatnya dan bersabda, "Tidak ada kebaikan bagi seorang lelaki beriman jika ia memiliki imarah (pengangkatan sebagai amir, termasuk amil)." 
Beberapa orang mendatangi Nabi SAW untuk meminta bagian zakat, tetapi beliau tidak mengabulkannya, tetapi justru beliau bersabda, "Barang siapa meminta-minta kepada manusia sedangkan ia berkecukupan, maka hal itu akan membuatnya sakit kepala dan sakit perut, tanpa sebab yang jelas."
Pada yang lainnya beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak ridha zakat-zakat ini dibagikan mengikuti keputusan Nabi atau yang lainnya, tetapi Allah sendiri yang membaginya. Jika engkau termasuk dalam delapan golongan yang berhak menurut Allah, aku akan memberikan bagian kepadamu."               
Peristiwa demi peristiwa tersebut seolah menjadi pengajaran bagi Ziad, dan ternyata membawa kesan yang sangat kuat bagi dirinya. Usai shalat, ia membawa suratpengangkatannya sebagai amir dan amil bagi kaumnya kepada Nabi SAW dan berkata, "Ya Rasulullah, cabutlah pengangkatan jabatan ini dariku."
"Apa yang terlintas dalam pikiranmu?" Dengan heran beliau bertanya kepada Ziad.
Ia menceritakan apa yang dilihat dan juga dirasakannya ketika Rasulullah SAW menyampaikan kepada penduduk perkampungan itu. Ia ingin menjadi seseorang yang benar-benar beriman, karenanya ia khawatir jika masih memegang keamiran. Begitu juga, ia termasuk orang yang berkecukupan, sehingga ia khawatir dengan jabatan amilnya.
Nabi SAW tersenyum dengan penjelasannya tersebut dan bersabda, "Begitulah yang sebenarnya. Tetapi jika engkau mau, terimalah pengangkatan itu dan engkau jaga amanahnya, jika tidak, maka tinggalkan saja."  
"Aku memilih melepaskan jabatan-jabatan ini, ya Rasulullah!!" Kata Ziad dengan tegas.
Nabi SAW menerima pengunduran dirinya, dan memintanya untuk menunjukkan seseorang dari kaumnya untuk memegang jabatan tersebut. Ziadpun menunjukkan seseorang yang layak untuk jabatan-jabatan tersebut.



MurtawaFz

Nu'man bin Muqarrin R.A

Nu'man bin Muqarrin RA


          Suatu ketika Nu'man sedang mengerjakan shalat di masjid, tiba-tiba khalifah Umar mendatangi dan duduk di sebelahnya menunggunya selesai shalat. Setelah ia mengucap salam, Umar berkata, 
"Aku ingin memberimu tugas.
"Aku menolak kalau menjadi pemungut zakat dan jizyah (pajak)," Kata Nu'man, "Aku ingin menjadi pejuang di medan pertempuran!"
Umarpun menjelaskan kalau memang tugas itulah yang akan diberikan kepadanya. Ia ditugaskan memimpin pasukan untuk memperkuat tentara muslim yang berperang melawan pasukan Persia di Ashbahan, pemimpinnya adalah  Mughirah bin Syu'bah. Ia pun segera berangkat bersama pasukannya.
Ketika Mughirah melihat kedatangan Nu’man dan pasukannya, ia segera menyambutnya dan berkata, "Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya pasukan muslim diserang dengan panah oleh pasukan Persia. Maka majulah (untuk memimpin pasukan)"
Nu'man menerima amanah tersebut dari Mughirah. Ia berkata, "Sesungguhnya aku telah menyertai Rasulullah SAW dalam banyak peperangan. Kebiasaan beliau, jika tidak berperang pada pagi hari, beliau akan mengundurnya hingga tergelincir matahari, angin bertiup dan turunlah pertolongan Allah."
Kemudian Nu'man menghadap ke pasukan yang telah bergabung untuk menjelaskan strateginya. Ia memutuskan untuk mengikuti kebiasaan Nabi SAW, memundurkan penyerangan hingga diperoleh waktu yang tepat untuk berperang. Nantinya, ia akan menggerakkan panji tiga kali. Pada gerakan pertama, hendaknya seseorang yang berhajat, melaksanakan hajatnya kemudian berwudlu. Pada gerakan kedua, hendaknya memeriksa kesiapan senjatanya dan tali sandalnya. Pada gerakan ketiga, hendaklah mereka menggempur dan jangan seorangpun menoleh kepada sahabatnya. Walau Nu'man sendiri yang terluka dan terbunuh, jangan menoleh kepadanya, teruslah menggempur musuh.                                                                                      
            Mereka memahami strategi yang dijabarkan Nu’man. Ketika pasukan muslim telah siap, Nu'man menghadapkan wajah ke pasukannya, ia meminta mereka mengaminkan karena ia akan berdoa. Ia mengangkat tangannya dan berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku memintaMu untuk menyejukkan mataku pada hari ini dengan kemenangan yang memuliakan Islam dan merendahkan orang-orang kafir. Kemudian ambillah nyawaku sebagai syahid…."
Mereka mengaminkannya dengan rasa haru, bahkan sebagian ada yang menangis. Nu'man kembali menghadapkan wajah ke musuh, ia menggerakkan panjinya sekali, beberapa saat kemudian yang kedua. Kemudian Nu'man melepas baju besinya, dan ia menggerakkan panjinya untuk ketiga kalinya, dan mereka menghambur ke arah pasukanPersia dengan Nu'man pada posisi terdepan.
Pertempuran berlangsung sengit. Nu'man menjadi orang pertama yang jatuh terkapar bersimbah darah dari pasukan muslim setelah ia berhasil memporak-porandakan garis pertahanan pasukan Persia. Ma'qil bin Yasar sempat melihatnya roboh, dan ia bermaksud menolongnya tetapi dibatalkan karena teringat pesan Nu'man tadi. Ia hanya meninggalkan tanda dan kembali bertempur.
Dengan pertolongan Allah, pasukan muslim akhirnya memperoleh kemenangan. Ma'qil bin Yasar mendatangi Nu'man yang sedang sekarat, ia membersihkan tanah dari wajahnya dengan air yang dibawanya. Nu'man memandangnya, tampaknya pandangannya telah kabur sehingga ia tidak bisa mengenali, karena itu ia bertanya tentang siapa dirinya dan bagaimana keadaan peperangan. Ma'qil menjelaskan siapa dirinya dan mengabarkan kalau Allah telah memberikan kemenangan kepada mereka. Nu'man memerintahkan Ma'qil untuk menulis surat  kepada Umar melaporkan jalannya pertempuran tersebut, kemudian ia meninggal.

MurtawaFz

Nudhair Bin Harist Al Abdari R.A

Nudhair bin Harits al Abdari RA


          Nudhair bin Harits termasuk orang yang berilmu dari kaum Quraisy, tetapi ia juga bersemangat memacu kendaraannya bersama kaum Quraisy memusuhi Islam. Setelah Fathul Makkah, ia belum juga memeluk Islam, tetapi ia menyertai Rasulullah SAW dalam Perang Hunain dengan niat akan menolong pasukan Islam jika mengalami kekalahan. Niat ini tidak kesampaian karena pasukan Islam memperoleh kemenangan. 
Usai peperangan, ketika masih berada di Ji'ranah, Nabi SAW menghampiri Nudhair dan menyapanya. Nudhair mendekati Nabi SAW dan beliau bersabda, "Ini adalah lebih baik daripada apa yang engkau niatkan pada perang Hunain."
Setelah Nudhair makin dekat, beliau bersabda lagi, "Telah sampai waktunya bagimu untuk melihat keadaan dimana kamu berada di dalamnya."
"Aku telah melihatnya, Ya Muhammad," Kata Nudhair.
Mendengar ini, Nabi SAW kemudian berdoa, "Ya Allah, tambahkanlah baginya keyakinan yang kokoh."
Selesai beliau membaca doa tersebut, hati Nudhair seperti terbuka, terasa hatinya begitu kokoh berada di jalan Islam dan menguat semangatnya untuk menjadi pembela kebenaran Islam. Iapun bersyahadat menyatakan Islam di depan Nabi SAW, beliau menyambutnya dengan gembira.
Beberapa saat kemudian ketika ia telah sampai di rumahnya di Makkah, seorang lelaki dari bani Daul datang dan berkata, "Hai Abu Harits, Rasulullah memerintahkan untuk memberimu seratus ekor unta dari ghanimah perang Hunain, karena itu berilah aku beberapa ekor karena aku mempunyai hutang." 
Mendengar berita ini, Nudhair berkata, "Tidak lain ini adalah ta'alluf, aku tidak mau disuap untuk memeluk Islam. Demi Allah, aku tidak pernah menuntut dan tidak pernah meminta unta-unta ini karena keputusanku memeluk Islam."
Ta'alluf adalah hadiah yang diberikan untuk menyenangkan orang yang baru memeluk Islam. Jika yang dibagikan zakat, mereka termasuk kelompok mu'allaf. Nudhair berkehendak untuk tidak mengambil pemberian ini, karena keislamannya tidaklah karena harta.
Tetapi kemudian ia sadar, apa yang diputuskan Rasulullah SAW harus ditaatinya walaupun mungkin ia tidak sependapat. Apalagi dilihatnya lelaki bani Daul itu juga sangat membutuhkan dan sangat berharap dari bagian yang diberikan Rasulullah SAW untuknya dari ghanimah perang Hunain. Karena itu ia mengambil unta-unta bagian ghanimah itu, dan memberikan sepuluh ekor kepada lelaki bani Daul tersebut.

MurtawaFz

Shuhaib Bin Sinan R.A

Shuhaib bin Sinan RA


          Shuhaib bin Sinan memeluk Islam pada masa awal didakwahkan sehingga ia termasuk dalam kelompok as Sabiqunal Awwalin. Ia bertemu dengan Ammar bin Yasir di pintu rumah al Arqam untuk menemui Nabi SAW dan memeluk Islam bersamaan dengannya, sekaligus juga menerima siksaan dan cacian ari orang kafir Quraisy sebagaimana yang dialami oleh Ammar.  
Ketika ia memutuskan untuk hijrah ke Madinah, kaum kafir Quraisy mengirim satu pasukan untuk menghalanginya, Shuhaib memasang panahnya dan berkata, "Kalian semua tahu aku pemanah yang handal, selama aku memiliki anak panah, kalian tidak akan mampu mendekati aku, dan jika anak panahku telah habis, pedang ini yang akan melawan kalian,"
Sambil menunjuk pada pedang yang disandangnya. Kemudian ia berkata lagi, "Jika kalian bersedia, biarkanlah aku pergi ke Madinah, dan akan aku tunjukkan tempat penyimpanan hartaku, dan ambillah itu berikut dua hamba wanita yang kutinggalkan di Makkah sebagai penebus diriku!”
Ternyata orang kafir Quraisy menyetujui pertukaran ini, sehingga Shuhaib bisa meneruskan perjalanan hijrahnya ke Madinah, dan berhasil menyusul Nabi SAW yang telah berada di Quba. Ketika bertemu Nabi SAW, beliau bersabda, "Perniagaan yang sungguh menguntungkan, wahai Abu Yahya...!"
Beliau mengulang sabdanya tersebut sampai dua kali.
"Wahai Rasulullah SAW," Kata Shuhaib, "Tidak ada orang yang mendahuluiku untuk mengabarkan peristiwa ini kepadamu. Pastilah Jibril AS yang memberitahumu..." 
Nabi SAW hanya tersenyum, dan peristiwa ini menjadi Asbabun Nuzul dari ayat 207 dari surah Al Baqarah.
Shuhaib cukup akrab dengan Nabi SAW, hal ini tampak ketika Shuhaib sedang sakit mata. Saat itu bersama Rasulullah dan sahabat lainnya mereka menyantap kurma. Tiba-tiba Nabi SAW nyeletuk, "Hai Shuhaib, engkau memakan kurma sedangkan matamu sakit?"
"Tetapi saya memakan kurma dengan mata saya yang sehat, ya Rasulullah…!" Kata Shuhaib.
Nabi SAW jadi tersenyum mendengar jawaban Shuhaib ini.
Ketika Umar bin Khaththab hampir meninggal, ia mewasiatkan agar Shuhaib bin Sinan yang menjadi imam shalat sebagai pengganti dirinya.


MurtawaFz

Hakim Bin Hizam R.A

Hakim bin Hizam RA


Suatu ketika Hakim bin Hizam mendatangi Rasulullah SAW, dan meminta agar beliau memberinya sesuatu, Nabi SAW memenuhi permintaannya. Pada kesempatan lainnya, Hakim meminta sesuatu lagi, dan beliau memberikannya. Pada ketiga kalinya, ketika Hakim meminta sesuatu pada Nabi SAW, beliau masih memberinya, tetapi kemudian bersabda, "Wahai Hakim, harta memang bagaikan tanaman yang menghijau, sepintas dia adalah sesuatu yang manis. Harta merupakan keberkahan jika kita merasa cukup dan qanaah. Sebaliknya, ia tidak akan memberikan keberkahan jika kita mempunyai sifat serakah."
Mendengar nasehat ini, Hakim berjanji kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, mulai saat ini aku tidak akan pernah meminta sesuatu apapun kepada siapapun."
Janji ini dipegang teguh oleh Hakim bin Hizam, bahkan setelah Nabi SAW telah wafat. Saat Abu Bakar menjadi khalifah, beliau memberikan harta dari Baitul Mal kepada ibnu Hizam, sebagaimana yang dibagikan kepada orang muslim lainnya yang berhak, tetapi Hakim menolaknya. Begitu juga ketika Umar bin Khaththab menjadi Amirul Mukminin, dimana harta melimpah ruah memenuhi Baitul Mal, Hakim menolak ketika ia akan diberi pembagian sesuai dengan haknya. 
            Ia pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang kebaikan yang pernah dilakukannya semasa jahiliah seperti sedekah, memerdekakan budak dan silaturahmi, beliau bersabda, "Kamu telah Islam dengan memperoleh kebaikan yang engkau lakukan di masa lalu.."


MurtawaFz

Hathib Bin Abi Balta'a R.A

Hathib bin Abi Balta'ah RA


Hathib bin Abi Balta'ah RA diutus oleh Nabi SAW membawa surat  ajakan memeluk agama Islam kepada penguasa Iskandariah di Mesir, Muqauqis. Kehadirannya disambut dengan baik oleh Muqauqis, ia dipersilahkan untuk menginap di istananya. Muqauqis mengumpulkan pembesar dan ahli perangnya untuk menemui Hathib. Setelah membacasurat dari Nabi SAW, terjadilah beberapa pembicaraan di antara mereka.
"Beritahukanlah kepadaku tentang sahabatmu itu, bukankah ia seorang nabi?" Tanya Muqauqis.
"Beliau adalah seorang utusan Allah," Kata Hathib mengawali, kemudian ia memberikan penjelasan lagi tentang Nabi SAW dan risalah Islam yang dibawa beliau.
Muqauqis bertanya lagi, "Mengapa ia -dalam kedudukannya sebagai seorang nabi- tidak berdoa supaya kaumnya dibinasakan karena mereka telah mengusirnya dan orang-orang yang mempercayainya dari kampung halamannya?"
"Bukankah engkau percaya Isa bin Maryam seorang utusan Allah?" Kata Hathib diplomatis.
Ketika Muqauqis mengiyakan, ia berkata lagi, "Mengapakah ia -ketika kaumnya ingin menyiksa dan menyalibnya- tidak mau berdoa untuk  keburukan kaumnya, dengan memohon agar Allah membinasakan mereka, malah Allah mengangkatnya ke langit dunia?"
Muqauqis tidak berkutik ketika pertanyaannya menjadi senjata makan tuan bagi dirinya sendiri. Kemudian ia berkata, "Engkau adalah orang yang bijaksana, datang dari sisi orang yang sangat bijaksana."
Muqauqis belum bersedia memeluk Islam, tetapi tidak menghalangi dakwah Islam di Iskandariah dan sekitarnya. Ia memberikan hadiah untuk Nabi SAW berupa kain, baghal dan tiga hamba sahaya, dua di antarannya wanita, yakni Mariyah al Qibtiyah yang dinikahi Rasulullah SAW, dan satunya lagi dihadiahkan Nabi SAW kepada Hassan bin Tsabit al Anshari. Sedangkan hamba lelaki bernama Sirin, dihadiahkan Nabi kepada Muhammad bin Qais al Abdi. 
             Nabi SAW membalas dengan memberikan hadiah-hadiah lebih baik dan menakjubkan kepada Muqauqis.


MurtawaFz

RUMUS MENGETAHUI JATUHNYA MALAM LAILATUL QADAR

Menurut Imam Al Ghazali Cara Untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari permulaan/hari pertama bulan Ramadhan : 1. Jika hari pertama ...