Wednesday, 30 October 2013

Barra Bin Malik R.A

Barra bin Malik RA


            Barra bin Malik adalah seorang sahabat Anshar yang kurus dan bermata cekung. Ia masih saudara tua Anas bin Malik, sahabat sekaligus pelayan Nabi SAW yang banyak meriwayatkan hadits-hadist Nabi SAW. Barra bin Malik memiliki keberanian dan semangat juang sangat tinggi, kontras sekali dengan penampilan tubuhnya yang kurus kecil. Ia tidak takut kepada musuh apapun dan selalu merindukan untuk mati syahid. Karena itu ketika menjadi khalifah, Umar bin Khaththab pernah menulis surat pada wakil-wakilnya untuk tidak menjadikan Barra sebagai komandan pasukan, dikhawatirkan ia akan membawa pasukannya kepada kemusnahan, walau memang mati syahid, karena semangat jihadnya yang terlalu tinggi.
Pasukan yang dibentuk Khalifah Abu Bakar RA untuk menumpas pasukan Nabi Palsu Musailamah al Kadzab di Yamamah, pertama kali dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal, tetapi dapat dipukul mundur pasukan Musailamah. Pasukan kedua yang dipimpin oleh Khalid bin Walid juga sempat kocar-kacir, sebelum akhirnya Khalid merubah strategi dengan mengelompokkan pasukan sesuai kabilah dan golongannya, Barra diserahi untuk memimpin kaum Anshar. Riwayat lainnya menyebutkan dipimpin oleh Tsabit bin Qais bin Syammas, yang tidak lain masih pamannya sendiri. Atau bisa jadi, Barra sebagai komandannya dan Tsabit sebagai pembawa panji dari kelompok Anshar.
Dengan strategi ini pasukan Musailamah dipukul mundur dan berlindung dalam bentengnya yang kokoh, pasukan muslim sempat kesulitan menembus benteng karena dikelilingi tembok yang tinggi dan pintu yang terkunci rapat, sementara itu panah-panah menghujani mereka dari atas. Barra mengambil inisiatif beresiko tinggi untuk menjebol kebuntuan tersebut. Di dekat pintu gerbang benteng, ia duduk di atas sebuah perisai dan berkata kepada pasukannya, "Lemparkanlah aku ke dalam benteng dengan perisai ini, aku akan syahid, atau aku akan membukakan pintu gerbang ini untuk kalian!"
Sepuluh orang memegang perisai tersebut kemudian melemparkan Barra ke atas benteng. Tubuhnya yang kurus kecil dengan mudah melampaui dinding benteng, dan dengan pedang terhunus ia jatuh dikumpulan pasukan musuh yang menjaga   pintu gerbang. Dengan semangat tinggi Barra menyerang mereka dan setelah melumpuhkan sepuluh orang, ia berhasil membuka pintu gerbang benteng dan membuka jalan bagi pasukan muslim memasukinya.
Akhirnya Pasukan Musailamah dan Bani Hanifah dapat dikalahkan dan nabi palsu itu terbunuh oleh tombak Wahsyi bin Harb, tombak yang sama yang telah mengantarkan Hamzah kepada syahidnya di Perang Uhud. Sungguh suatu tebusan yang setimpal. Dalam pertempuran Yamamah ini, Barra berhasil membunuh seorang tokoh kepercayaan Musailamah yang dikenal sebagai Muhkam al Yamamah, atau Kaldai Yamamah, seorang lelaki tinggi besar dengan pedang berwarna putih. Atau mungkin juga mereka dua orang yang berbeda, yang keduanya dibunuh oleh Barra.
Ketika kembali ke kemahnya, Barra mengalami delapanpuluh lebih luka tusukan pedang dan anak panah. Namun dengan ijin Allah luka-luka itu akhirnya sembuh dalam waktu satu bulan.
Semangat Barra untuk memperoleh syahid terus berkobar, karena itu pertempuran demi pertempuran diikutinya. Tibalah pertempuran melawan tentara Persia di Tustar dimana ia juga terjun di dalamnya. Pasukan muslim berhasil memukul mundur pasukanPersia dan mengepung benteng kota Tustar, benteng pertahanan terakhir mereka.
Pasukan Persia bertahan dengan mengulurkan rantai--rantai besi panas yang ujungnya diberi pengait untuk menghalau pengepungnya, layaknya sedang memancing ikan. Mereka yang terkena kaitan dan ditarik ke atas benteng, nasibnya tidak akan beda jauh dengan ikan yang terkena pancingan nelayan. Beberapa orang muslim terkena kaitan dan ditarik ke atas, salah satunya adalah Anas bin Malik, saudara Barra bin Malik.
Melihat hal itu, Barra bergerak cepat untuk menyelamatkan saudaranya. Ia mencoba melompat dan memegang rantai besi tetapi tangannya jadi terbakar dan melepuh, namun demikian ia tidak berhenti berusaha sehingga akhirnya ia berhasil menaiki tembok dan memotong tali di atas rantai sehingga Anas bisa selamat.
Nabi SAW pernah bersabda, bahwa kadang-kadang ada orang yang berpakaian dua kain lusuh dan tidak diperdulikan (karena remeh keadaannya), tetapi jika dia bersumpah dengan nama Allah, maka Dia akan mengabulkannya, di antara mereka ini adalah Barra bin Malik.
Begitu kuatnya pertahanan benteng Tustar, kalau  terus berlarut-larut seperti itu, bisa-bisa tentara muslim akan kalah, maka beberapa sahabat yang menjadi saksi akan sabda Nabi SAW tersebut, segera meminta agar Barra berdoa dan bersumpah untuk kemenangan kaum muslimin. Barra memenuhi permintaan mereka ini. Ia berdoa, "Aku bersumpah kepadaMu, wahai Rabbku, berikanlah tengkuk-tengkuk mereka kepada kami, dan pertemukanlah aku dengan NabiMu…!”
Usai berdoa, bersama beberapa pasukan muslim lainnya, ia berusaha menyerang dan merusak pintu gerbang benteng yang begitu kokoh. Dan dengan pertolongan Allah mereka bisa menjebol benteng pertahanan Tustar, kemudian menyerang dan memporak-porandakan pasukan Persia. Barra sendiri berhasil berhadapan dengan Marzaban az Zarih, seorang pembesar dan pahlawan Persia yang telah terkenal, dan akhirnya ia berhasil membunuhnya. Tetapi keadaan Barra sendiri juga terluka parah, dan seperti permintaan doanya, ia gugur sebagai syahid dalam pertempuran ini.                                                                                                Peristiwa ini terjadi di masa khalifah Umar bin Khaththab.


MurtawaFz

Hakam Bin Kaisan R.A

Hakam bin Kaisan RA


            Dalam Perang Badar, Hakam bin Kaisan yang berperang di pihak kaum kafir Quraisy ditawan oleh Miqdad bin Amr. Pimpinan Miqdad ingin memenggal kepala Hakam, tetapi Miqdad memutuskan untuk menyerahkannya pada Rasullullah SAW. Beliau mengajak Hakam untuk memeluk Islam, tetapi Umar bin Khaththab yang saat itu bersama Rasullulah pun pesimis akan Islamnya Hakam, melihat bagaimana kerasnya permusuhannya kepada Islam selama ini. Karena itu ia juga menyarankan untuk membunuh Hakam saja. 
Tetapi Nabi SAW, dengan pandangan beliau yang jauh menembus waktu dan tempat, mengabaikan saran Umar tersebut. Dengan sabar beliau menjelaskan tentang Islam, dan akhirnya Hakam masuk Islam. Maka Rasulullah bersabda, "Kalau saja aku memenuhi keinginan kalian beberapa saat yang lalu, tentu ia masuk neraka!"
Itulah salah satu bentuk kecintaan Rasulullah SAW kepada umat beliau, jauh lebih besar daripada kecintaan seorang ibu terhadap anak kandungnya sendiri. Hakam pun selalu memperbaiki keislamannya, sehingga akhirnya ia menjadi salah satu sahabat yang hafal Al Qur'an.
Waktupun berlalu, suatu ketika datang seseorang bernama Abu Bara' Amir bin Malik ke Madinah, Nabi SAW menyerunya untuk masuk Islam tetapi ia menolak. Namun demikian dia menyarankan Nabi SAW mengirim rombongan dakwah ke daerah Najd untuk menyeru kepada Islam. Tetapi Nabi khawatir akan keselamatan mereka karena daerah tersebut memang masih sangat rawan kejahatan. Tetapi Abu Bara' meyakinkan beliau, dan dengan segala pengaruhnya di sana, ia akan menjamin keselamatan rombongan dakwah tersebut. Karena itu beliau mengirim tujuhpuluh orang sahabat pilihan penghafal Qur'an dipimpin oleh Mundzir bin Amr, dan salah satunya adalah Hakam bin Kaisan.
Rombongan ini kemudian dikhianati dan dibantai oleh Amir bin Thufail dan sekutunya di Bi'r Ma'unah tanpa tersisa, termasuk Hakam bin Kaisan, kecuali satu orang, Ka'ab bin Zaid bin An Najjar yang pura-pura mati walau terluka terkena tombak. 
            Sungguh beruntung nasib Hakam bin Kaisan, dari calon penduduk neraka karena melawan Nabi SAW di Perang Badar, kemudian menjadi penduduk surga karena syahid di Bi’r Ma’unah.



MurtawaFz

Thulaib Bin Umair R.A

Thulaib bin Umair RA


          Thulaib bin Umair masih saudara sepupu Nabi SAW, ia memeluk Islam ketika Nabi SAW masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi di Darul Arqam, sehingga bisa dikatakan ia sebagai kelompok as Sabiqunal Awwalin. Setelah keislamannya, ia menemui ibunya, Arwa binti Abdul Muthalib, dan mengatakan kalau dirinya telah menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW dan berserah diri kepada Allah. Menanggapi pengakuannya tersebut, sang ibu berkata, "Sesungguhnya yang lebih berhak kamu bantu adalah anak pamanmu itu (Muhammad SAW), demi Allah jika kami mampu melakukan seperti yang dilakukan oleh kaum lelaki, sudah pasti aku akan mengikuti dan melindunginya." 
Saat itu Nabi SAW memang banyak mengalami halangan, cacian dan penyiksaan dalam mendakwahkan Islam. Mendengar jawaban ibunya tersebut, Thulaib berkata, "Apakah yang menghalangi ibu mengikutinya, padahal saudara laki-laki ibu, Hamzah, telah memeluk Islam?"
"Aku akan menunggu apa yang dilakukan oleh saudara-saudara perempuanku, kemudian aku akan menjadi seperti mereka," Kata Arwa.
Tetapi Thulaib tidak puas dengan jawaban ibunya ini, ia terus mendesak dan berkata, "Sesungguhnya aku meminta dengan nama Allah, agar ibu menemuinya (yakni Nabi SAW), mengucapkan salam dan membenarkannya, dan mengucapkan kesaksian kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah."
Melihat tekad dan kesungguhan Thulaib dalam mengajaknya kepada Islam, akhirnya Arwa luluh juga. Pada dasarnya ia memang ingin membela Nabi SAW yang masih keponakannya sendiri, ketika begitu banyak orang yang memusuhi dan menyakitinya. Ia akhirnya berkata, "Jika memang begitu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh-Nya."
            Thulaib merasa gembira dengan keputusan ibunya, apalagi ia selalu didorong untuk membantu Nabi SAW dan juga menyiapkan kebutuhan Nabi SAW dalam perjuangannya.



MurtawaFz

Khalid Bin Sa'id Bin Ash R.A

Khalid bin Sa'id bin Ash RA


            Khalid bin Sa'id bin Ash RA  termasuk dalam kelompok awal yang memeluk Islam (as Sabiqunal Awwalun). Uniknya, yang memotivasi dirinya memeluk Islam adalah sebuah mimpi. Khalid bermimpi sedang berada di sebuah tepian nyala api yang begitu besar. Ayahnya yang hadir saat itu, bukannya menolong keluar dari jilatan api tapi justru mendorongnya. Untunglah ada Nabi SAW yang menahan kain ikat pinggangnya hingga ia tidak jatuh ke dalam api.
Setelah bangun, Khalid meyakini bahwa mimpinya itu benar. Ia menemui sahabatnya, Abu Bakar dan menceritakan mimpinya. Abu Bakar pun menyatakan, kalau hanya kebaikan yang dikehendaki bagi Khalid dengan mimpinya itu. Ia diajak menemui Rasulullah SAW, dan bertemu dengan beliau di suatu tempat bernama Ajyad di Mekkah. Beliau menjelaskan risalah Islam yang beliau dakwahkan, dan mengajak Khalid memeluk Islam. Khalid menerima ajakan Nabi SAW karena keyakinan akan kebenaran mimpinya tersebut.
Setelah keislamannya, Khalid pergi menghilang. Ayahnya, Sa'id bin Ash yang mengetahui anaknya memeluk Islam, menyuruh orang-orang untuk mencarinya. Setelah ditemukan ia memaki-maki anaknya tersebut dan mencambuknya, serta mengancam tidak akan memberinya makan. Tapi sebagai cermin keimanan di hatinya, Khalid berkata, "Jika engkau tidak memberiku makan, maka sungguh Allah yang mengaruniakan rezeki padaku, akan membuatku bisa terus hidup." 
Mendengar jawaban tersebut sang ayah langsung mengusirnya. Khalid memutuskan menemui Rasulullah SAW dan akan selalu mengiring beliau, walaupun ia harus kehilangan banyak sekali fasilitas dan kenyamanan dalam hidupnya sebelum itu. Ketika Nabi SAW menghimbau sahabatnya untuk hijrah ke Habasyah, Khalid memenuhi anjuran beliau, mengikuti rombongan yang dipimpin oleh Ja'far bin Abu Thalib.
Khalid baru bertemu lagi dengan Nabi SAW ketika beliau telah memerintahkan agar para sahabat di Habasyah berhijrah ke Madinah, saat itu Nabi SAW dan para sahabat dalam perjalanan pulang setelah selesainya perang Khaibar. Setelah itu Khalid senantiasa mengikuti pertempuran bersama Nabi SAW. Bahkan sebelum wafatnya, beliau mengangkatnya menjadi gubernur Yaman.  
Ketika ia mendengar Nabi SAW wafat dan Abu Bakar dikukuhkan sebagai khalifah, ia menjadi salah satu orang yang tidak setuju. Ia sangat mengenal berbagai kelebihan Abu Bakar dan kedudukannya di sisi Nabi SAW karena ia memang salah seorang sahabat Abu Bakar di masa jahiliah. Hanya saja ia berpendapat bahwa yang paling berhak memegang jabatan khalifah adalah Bani Hasyim, misalkan Ali bin Abi Thalib atau Abbas. Karena itu ia meninggalkan jabatannya di Yaman, dan kembali ke Madinah, tetapi ia tidak mau berba'iat kepada Abu Bakar.
Berlalulah waktu, Abu Bakar tetap menghargainya walaupun ia menolak berba'iat. Sampai suatu ketika Khalid menerobos barisan atau shaf-shaf di masjid menuju Abu Bakar yang berdiri di atas mimbar, ia memegang tangan Abu Bakar dan berba'iat dengan segala ketulusan hatinya.  
Suatu ketika Abu Bakar mempersiapkan pasukan ke Syria, dan ia menyerahkan salah satu panji-panji pertempuran kepada Khalid. Tetapi sebelum pasukan berangkat, Umar menyarankan untuk mengganti Khalid sebagai pemegang panji, dan Abu Bakar bisa menerima alasan Umar.  Khalid menerima kabar tersebut dengan biasa, dan ketika Abu Bakar hadir di rumahnya untuk meminta maaf, ia berkata, "Demi Allah, tidaklah saya gembira dengan pengangkatan anda, dan tidak juga bersedih dengan pemberhentian anda dari jabatan tersebut….!!"       
Abu Bakar membebaskannya untuk memilih di pasukan mana ia akan bergabung, Amr bin Ash yang masih anak pamannya, atau Syurahbil bin Hasanah, atau lainnya lagi. Khalid-pun berkata, "Anak pamanku aku sukai karena ia masih kerabatku, tetapi Syurahbil lebih kucintai karena agamanya!"
Khalid bergabung dengan pasukan yang dipimpin Syurahbil, sedang yang menjadi komandan dari seluruh kesatuan adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.
Khalid menikahi janda Ikrimah bin Abu Jahal, Ummu Hakim di perjalanan jihad melawan tentara Romawi, di suatu tempat bernama Marjush Shafar. Setelah pernikahan itu, Khalid ingin beristirahat berduaan dengan istrinya sebagaimana pengantin baru, tetapi Ummu Hakim berkata, "Sekarang kita sedang diserang musuh dari segala arah, sebaiknya kita melawan mereka dahulu!!"
"Saya yakin," Kata Khalid, "Saya akan menemui syahid pada pertempuran ini..!!”
Mendengar penuturan suaminya itu, Ummu Hakim memenuhi permintaan Khalid. Mereka menghabiskan malam pengantin di tenda sederhana, sementara musuh siap menyerang. Keesokan harinya, Khalid menerjunkan diri dalam pertempuran, menyerang dan menerjang musuh dengan perkasa, sehingga akhirnya gugur sebagai syahid.
             Ketika masih bersama Nabi SAW di Madinah, ia pernah membawa putrinya yang masih kecil, Ummu Khalid menghadap Nabi SAW dengan memakai baju kuning. Beliau memuji keindahan baju tersebut dan menyuruhnya untuk tetap memakainya sampai habis/rusak. Khalid sempat memarahi putrinya tersebut karena bermain-main dengan cincin kenabian, tetapi beliau menyuruh membiarkannya.



MurtawaFz

Wanita Pembawa Air

Wanita Pembawa Air


          Kisah ini diriwayatkan dari sahabat Imran bin Hushain al Khuza'i RA. Suatu ketika Nabi SAW bersama rombongan pasukan kehabisan air dan beberapa orang kehausan. Beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib dan seorang sahabat lainnya untuk mencari air. Mereka berdua bertemu seorang wanita yang mengendarai untanya dengan membawa dua mazadah (tempat air dari kulit). Ali meminta air padanya atau diberitahukan tempat memperoleh air, tetapi wanita tersebut berkata, "Kemarin aku telah berjanji untuk membawakan air pada kaumku, dan saat ini mereka telah menunggu!!" 
           Bukan maksudnya ia menolak menunjukkan dimana mata air itu berada, tetapi jika harus mengantar sampai kesana, ia akan terlambat memenuhi janjinya kepada kaumnya. Ali memakluminya, tetapi ia menyuruh wanita tersebut untuk berjalan terus sehingga bertemu Rasulullah SAW. Wanita itu berkata, "Apakah yang kalian maksudkan adalah orang yang disebut ash Shabi (pembawa agama baru) itu?" 
Mereka membenarkan, kemudian mengiring wanita tersebut menemui Nabi SAW. Setelah menceritakan keadaan wanita tersebut, beliau menyuruh wanita tersebut turun. Beliau minta dibawakan bejana-bejana persediaan air dan beliau mengisinya dengan air dari satu mazadah. Dengan mazadah yang lain, beliau menyuruh seluruh rombongan untuk minum dan memberi minum binatang-binatang mereka. Sungguh suatu mu'jizat, air dalam mazadah yang sebenarnya tidak seberapa banyaknya seakan tidak ada habisnya. Kemudian Nabi SAW mengisikan air pada bejana lainnya untuk mandi bagi orang yang sedang berjunub.
Wanita pembawa air yang masih musyrik tersebut hanya berdiri tercengang memperhatikan semua peristiwa tersebut. Setelah semua anggota pasukan menyelesaikan keperluannya dengan air tersebut, dua mazadah itu diletakkan kembali di unta sang wanita, keadaannya tidak berkurang, bahkan lebih penuh daripada sebelumnya.
Nabi SAW menyuruh orang-orang untuk mengumpulkan makanan sebagai pemberian kepada wanita tersebut. Wanita tersebut dinaikkan ke atas onta, dan makanan yang terkumpul, seperti tamar, tepung dan susu dibungkus dengan kain dan diletakkan di depannya. Nabi SAW bersabda kepadanya, "Engkau tahu, kami tidak mengurangi sedikit pun air milikmu, hanya Allah yang memberi minum kepada kami…" 
Ketika sampai kepada kaumnya, wanita tersebut ditegur karena keterlambatannya. Ia pun menceritakan apa yang dialaminya, kemudian ia berkata, "Demi Allah, sesungguhnya ia seorang tukang sihir yang pandai di antara ini (ia menunjuk langit dan bumi) atau ia memang seorang Rasulullah…"
Akhirnya pasukan muslimin menyerang dan menaklukan kaum musyrikin, tetapi kampung tempat tinggal wanita tersebut dikecualikan, hanya dilewati tetapi tidak diserang atau didatangi. Maka wanita tersebut berkata kepada kaumnya, "Saya kira kaum muslimin dengan sengaja tidak menyerang kalian, karena itu, Islamlah kalian…!"
            Mereka memenuhi anjuran wanita tersebut, dan bersama-sama mereka memeluk Islam.


MurtawaFz

Penjamu Tamu Rasulullah S.A.W

Penjamu Tamu Rasulullah SAW


          Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW untuk suatu keperluan. Setelah selesai, beliau ingin menjamu tamunya tersebut, tetapi ternyata istri-istri beliau tidak mempunyai persediaan makanan kecuali hanya air putih. Maka beliau bersabda,"Siapakah yang akan menjamu orang ini malam ini?" 
Seorang lelaki Anshar menyanggupi, dan setelah berpamitan kepada Nabi SAW, ia mengajak orang tersebut ke rumahnya. Tiba di rumah, ia berkata kepada istrinya, "Muliakanlah tamu Rasulullah ini!"
Tetapi jawaban yang diperolehnya sungguh mengejutkan, istrinya berkata, "Tidak ada makanan kecuali hanya satu piring untuk anak kita!"
Terlanjur berjanji kepada Nabi SAW, sahabat Anshar ini meminta istrinya untuk menidurkan anaknya, setelah itu menyiapkan makanan bagi tamu Rasulullah tersebut dan dua piring kosong untuk mereka berdua. Saat mereka bersiap untuk makan, ia berpura-pura membetulkan lampu, yang sebenarnya malah memadamkan lampu tersebut. Kemudian mempersilahkan tamunya untuk makan, sementara ia dan istrinya juga berpura-pura sedang makan dari dua piring kosong di hadapannya. Malam itu tamu Rasulullah SAW tidur nyenyak di rumahnya dengan perut kenyang, sementara sahabat Anshar ini beserta istri dan anaknya tidur dalam keadaan lapar.         
Keesokan harinya ketika bertemu Rasulullah SAW, beliau tersenyum dan bersabda kepadanya, "Tadi malam Allah tertawa, Dia takjub dengan apa yang kalian lakukan…" 
Maka turunlah ayat al Qur'an, surah al Hasyr ayat 9 yang menunjukkan pujian atas sikap mereka, "Wa yu'tsiruna 'alaa anfusihim wa lau kaana bihim khashaashah." {Dan mereka mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri walau mereka juga memerlukan).
Tidak ada kejelasan, siapa nama sahabat tersebut. Sebagian riwayat menyatakan, dia adalah Tsabit bin Qais al Anshari RA, sebagian lagi Abu Thalhah.  Ada juga yang menyebutkan Sa’d bin Abi Waqqash, padahal dia adalah sahabat Muhajirin.




MurtawaFz

Tsabit Bin Dahdahak R.A

Tsabit bin ad Dahdahak RA


Tsabit bin ad Dahdahak, atau dalam beberapa riwayat lain disebut Tsabit bin ad Dahdah, adalah seorang sahabat Anshar. Pada perang Uhud, ketika terjadi kekacauan dan kebingungan pasukan muslim karena berhembusnya berita bahwa Nabi SAW telah terbunuh, Tsabit berteriak keras, "Wahai orang-orang Anshar, mendekatlah kepadaku! Aku adalah Tsabit bin ad Dahdahak, sekiranya Muhammad SAW telah tewas, sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak akan mati. Karena itu berperanglah semata-mata untuk agama kalian. Sungguh Allah akan memenangkan dan memberikan pertolongan kepada kalian…"
Beberapa sahabat Anshar lainnya bergabung dengan Tsabit, mereka menyerang pasukan musyrik dengan garangnya. Sekelompok pasukan Quraisy bersenjata lengkap, antara lain Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Ikrimah bin Abu Jahal, Dhirar bin Khaththab dan lain-lainnya lagi menghadapi para sahabat Anshar ini. Akhirnya Khalid bin Walid melepaskan tombaknya dan mengenai Tsabit sampai tembus dan tewas seketika. Parasahabat Anshar yang mengikutinya pada akhirnya menemui syahid juga.
            Menurut sebagian riwayat, para sahabat Anshar ini merupakan orang-orang yang terakhir menemui syahidnya di Perang Uhud. Riwayat lainnya menyebutkan, tujuh orang sahabat Anshar di sekitar Nabi SAW, yang terakhir Umarah bin Yazid bin as Sakan, yang menjadi syahid-syahid terakhir di peperangan itu. Atau bisa jadi menjadi syahid dalam waktu yang hampir bersamaan karena keadaan pasukan muslim saat itu terpecah-pecah dan porak poranda. Setelah itu keadaan berbalik, pasukan muslim kembali menyusun kekuatan, setelah tahu dan yakin bahwa Nabi SAW masih hidup walaupun dalam keadaan terluka. Dan akhirnya mereka berhasil mengusir pasukan kafir Quraisy.


MurtawaFz

Safinah R.A

Safinah RA


           Safinah adalah bekas budak Rasulullah SAW, yang adalah milik Ummu Salamah, istri beliau. Nama aslinya adalah Ahmar. Nama "Safinah" adalah pemberian beliau. Suatu ketika Sa'id bin Jumhan bertanya tentang namanya tersebut, yakni Safinah yang berarti kapal atau perahu. Safinah-pun menceritakan kisahnya. 
Suatu ketika Ahmar mengikuti rombongan Nabi SAW dan beberapa sahabatnya dalam suatu perjalanan atau peperangan. Beberapa sahabat merasa berat dengan barang bawaannya, apalagi saat itu akan menyeberangi suatu lembah atau sungai. Maka Nabi SAW bersabda kepada Ahmar, "Bentangkan kainmu!"
Setelah ia membentangkan kainnya, Nabi SAW memerintahkan para sahabat untuk meletakkan barang-barang yang telah memberatkan tersebut di atas kainnya, kemudian beliau bersabda, "Bawalah!! Tidaklah kamu pada hari ini melainkan Safinah!!"
Entah karena memang Ahmar mempunyai kekuatan lebih dalam mengangkat barang, atau memang sabda Rasulullah SAW tersebut yang memberikan berkah kekuatan kepadanya, ternyata ia mampu mengangkatnya. Padahal beberapa orang sahabat merasa payah mengangkatnya walau hanya sebagian.  
Sejak saat itulah ia lebih dikenal dengan nama Safinah. Kemudian Safinah berkata pada Sa'id, "Sekiranya waktu itu dibebankan kepadaku barang-barang yang dibawa seekor atau dua ekor unta, bahkan lima atau enam ekor unta, aku pasti mampu membawanya."


MurtawaFz

Dihyah Al Kalbi R.A

Dihyah al Kalbi RA


           Dihyah al Kalbi RA adalah seorang sahabat yang mempunyai wajah, janggut (jenggot), perawakan dan usia yang menyerupai Malaikat Jibril AS saat berwujud sebagai manusia. Usai perang Khandaq, dimana Nabi SAW dan para sahabat beristirahat, datanglah Malaikat Jibril AS dalam ujud manusia menemui Nabi SAW, dan berkata, "Apakah engkau telah meletakkan senjata?Jangan demikian! Para malaikat sama sekali belum meletakkan senjata! Keluarlah engkau menuju Bani Quraizhah, dan perangilah mereka!"
Ketika Nabi SAW melewati Bani Ghanm, penduduk sekitar masjid yang dilewati kalau menuju rumah beliau, beliau bertanya tentang siapa yang baru saja lewat, merekapun berkata, "Telah melewati kami, Dihyah bin Kalbi!"
Dalam riwayat lain disebutkan, saat itu Nabi SAW sedang bersama istri beliau, Ummu Salamah RA, Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dalam wujud manusia. Setelah Malaikat Jibril berlalu, Nabi SAW bertanya kepada istrinya itu tentang siapa tamu yang baru datang, Ummu Salamah menjawab, "Dia adalah komandan tentara, Dihyah…"
Nabi SAW tersenyum dan menjelaskan bahwa tamu tersebut adalah Malaikat JibrilAS.
Inilah kesaksian tentang kesamaan Dihyah al Kalbi dengan penjelmaan Malaikat Jibril sebagai manusia.
Dihyah al Kalbi RA diutus Nabi SAW untuk menemui Kaisar Romawi, Hiraqla (secara umum dikenal dengan nama Hiraklius) dengan membawa surat Nabi SAW tentang ajakan untuk masuk Islam. Surat yang dibacakan di dalam majelis Kaisar Hiraqla, juga dihadiri Abu Sufyan dan teman-temannya yang sedang berdagang di Syam, tidak memperoleh tanggapan positif dari pembesar-pembesar Romawi yang hadir. Sedangkan Hiraqla sendiri melihat adanya kebenaran atas apa yang diserukan Rasulullah SAW, apalagi setelah tanya jawabnya yang panjang lebar dengan Abu Sufyan tentang pribadi dan latar belakang kehidupan Nabi SAW.
Hiraqla memanggil Uskup kota Iliya di Syam, Ibnu Nathur, yang biasanya menjadi rujukan dalam soal keagamaan, dan juga mendatangkan Dihyah al Kalbi dalam pertemuan tersebut. Ibnu Nathur ini di samping sebagai uskup, juga sahabat Hiraqla. Setelah mendengar penjelasan Hiraqla dan juga Dihyah, Ibnu Nathur membacakan beberapa ayat-ayat injil, dan akhirnya membenarkan kenabian Nabi Muhammad SAW dan seketika memeluk Islam. Tetapi Hiraqla sendiri tidak mau mengikuti sikap uskup ini walau sebenarnya kebenaran itu makin menguat di hatinya. Tidak ada lain yang menghalanginya memeluk Islam kecuali takut kehilangan kekuasaannya. Bahkan beberapa panglima perangnya sudah mengancam tidak akan mengakui kedudukannya jika ia memenuhi seruan Nabi SAW. 
Dihyah al Kalbi sering menemui sang uskup untuk lebih mengenalkan dan mengajarkan Islam. Pada hari ahadnya, sang uskup tidak hadir untuk memberikan ceramah dan nasihat seperti biasanya, padahal orang-orang Romawi yang menjadi jamaahnya telah berkumpul. Begitupun berulang pada beberapa hari ahad berikutnya, sehingga akhirnya orang-orang Romawi mengancam untuk membunuhnya jika tidak keluar.
Sang uskup, Ibnu Nathur menitipkan surat pada Dihyah untuk Nabi SAW tentang keislamannya, dan menyampaikan pada Nabi apa yang dilihatnya. Setelah itu Ibnu Nathur keluar menemui orang-orang Romawi, tidak dengan pakaian gereja kebesaran seperti biasanya, tetapi memakai pakaian putih. Ia mengucapkan syahadat di hadapan mereka sehingga mereka begitu murka dan akhirnya membunuh sang Uskup yang selama ini dipatuhi dan mereka dengar dan patuhi nasehat-nasehatnya.
Dihyah al Kalbi yang menjadi saksi langsung peristiwa mengenaskan tersebut, menceritakan peristiwa itu kepada Nabi SAW sekaligus menyerahkan surat sang Uskup, Ibnu Nathur untuk beliau. Surat tersebut dibacakan untuk Nabi SAW, dan mendoakan kebaikan dan keberkahan untuk Ibnu Nathu


MurtawaFz

Dhamrah Bin Ibnul Ishaq R.A

Dhamrah bin Ibnul Ishaq RA


            Dhamrah bin Ibnul Ishaq atau Dhamrah bin Jundub, adalah seorang lelaki dari Bani Laits yang telah tua dan buta matanya, tetapi kaya raya. Ia memeluk Islam sejak awal didakwahkan di Makkah. Ketika turun perintah hijrah ke Madinah, ia dengan segera menyambutnya. Tetapi orang-orang di sekitar, baik teman atau kerabatnya, berusaha untuk menahannya untuk tetap tinggal di Makkah karena keadaannya yang telah tua dan buta, sekaligus sakit-sakitan. 
Karena dorongan keimanan telah begitu merasuk dan mengental dalam jiwanya, walaupun dengan keadaannya itu ia diberi keringanan (rukhshah) untuk tidak berhijrah, dengan tegas ia berkata, "Aku tidaklah termasuk yang diberikan keringanan itu, karena aku bisa membiayai perjalananku dengan hartaku. Bawalah dan keluarkanlah aku dari negeri orang-orang musyrik ini menuju Rasulullah SAW. Aku tidak ingin bermalam lagi di tempat ini…"
Kemudian Dhamrah memerintahkan budak-budaknya mempersiapkan perbekalan dan tandu untuk membawanya menuju Madinah, dan langsung berangkat tanpa menunda-nundanya lagi. Tetapi di tengah perjalanan, yakni di Tan'imia meninggal dunia dan dimakamkan disana.
            Beberapa sahabat di Madinah yang mendengar kabar kewafatannya, sempat menyesalkan keadaannya, karena ia belum sampai berhijrah dengan sempurna hingga menemui Nabi SAW di Madinah. Karena kesedihan para sahabat atas musibah yang dialami Dhamrah ini dan status hijrahnya, turun firman Allah QS an Nisa ayat 100 yang menyatakan bahwa ia telah memperoleh pahala sebagai muhajirin secara sempurna. Sebagian riwayat menyebutkan, ayat tersebut telah diturunkan sebelumnya  berkenaan dengan sahabat lainnya dalam peristiwa yang hampir sama, dan Nabi SAW membacakannya untuk menghibur kesedihan para sahabat tersebut.


MurtawaFz

Ikrimah Bin Abu Jahl R.A

Ikrimah bin Abu Jahl RA


            Saat Fathul Makkah, Ikrimah bin Abu Jahl berusaha melarikan diri karena takut dengan pembalasan, akibat kerasnya sikap permusuhan yang dilakukannya kepada kaum muslimin. Di pesisir Tihamah, ia menaiki sebuah kapal yang akan membawanya ke daerah Yaman. Nakhkoda kapal terus mengatakan kepadanya agar ia menyucikan dirinya, ketika ditanyakan tentang apa yang harus dilakukannya, sang nakhkoda berkata, "Ucapkanlah kalimat Laa ilaaha illallaah." 
"Tidak ada yang menyebabkan aku melarikan diri dari negeriku, kecuali dari kalimat tersebut," Kata Ikramah.
Nakhkoda tetap berkeras, kalau tidak, ia tidak akan membawanya berlayar. Dalam keadaan ini, tiba-tiba ada suara memanggilnya, yang ternyata istrinya sendiri, Ummu Hakim binti Harits bin Hisyam, yang telah memeluk agama Islam. Ikrimah menghentikan pertengkarannya dengan sang nakhkoda dan berpaling pada istrinya.
Ummu Hakim setengah berteriak berkata, "Wahai putra pamanku, aku telah datang kepadamu dari sisi orang yang paling banyak menyambung silaturahmi, sebaik-baiknya manusia dan semulia-mulianya manusia, janganlah engkau binasakan dirimu sendiri."
Setelah dekat, ia berkata lagi, "Sesungguhnya aku telah meminta jaminan keselamatan untukmu dari Rasulullah SAW."
"Engkau telah melakukannya?" Kata Ikrimah setengah tidak percaya.
Istrinya menjawab, "Ya, aku telah berbicara dengan Nabi SAW dan meminta jaminan keselamatan untukmu. Dan beliau memberikan jaminan keselamatan itu untukmu!"
Tampaknya tidak banyak pilihan bagi Ikrimah, karena nakhkoda kapal sendiri menolak membawanya kecuali jika ia membaca syahadat, yang artinya harus memeluk Islam. Padahal hal itu menjadi sakah satu sebab ia ingin lari ke Yaman. Ikrimah memenuhi permintaan istrinya, dan mereka berdua berjalan kembali ke Makkah.
Ummu Hakim menceritakan kalau budak Rumawi yang mengantarkannya mencoba untuk menodai kehormatannya, kemudian ditolong oleh orang-orang dari Bani 'Akk, yang menangkap dan mengikatnya. Ikrimah menjadi marah, dan setelah menemui budaknya itu dan membunuhnya. Ketika Ikrimah ingin menggauli istrinya, Ummu Hakim menolaknya dan berkata kalau dia masih musyrik sedang dirinya seorang muslimah. Ikrimah berkata, "Sesungguhnya perkara (agama) yang menghalangimu untuk kugauli itu sangatlah besar." 
Di Makkah, Nabi SAW yang telah mengetahui bahwa Ummu Hakim berhasil membawa kembali suaminya, bersabda kepada para sahabat, “Ikrimah bin Abu Jahl akan datang kepada kalian sebagai orang yang beriman dan berhijrah, maka janganlah kalian mencaci bapaknya, karena cacian terhadap mayat akan menyakiti orang yang hidup, dan cacian tidak akan sampai kepada si mati."                                                                                              
            Ikrimah belumlah menyatakan beriman dan memeluk Islam. Ia kembali ke Makkah hanya karena ada jaminan keselamatan seperti yang dikatakan istrinya. Tetapi pandangan Rasulullah SAW memang bisa “menembus” ruang (tempat) dan waktu. Ketika melihat kedatangannya, Rasulullah SAW melompat mendekatinya dengan penuh gembira, sampai beliau tidak sadar bahwa bahu beliau terbuka tanpa kain selendang yang menutupinya.
Ketika telah berhadapan, Ikrimah menanyakan tentang kebenaran jaminan keselamatan dirinya yang diminta oleh istrinya, dan Nabi SAW membenarkannya. Ikrimah bertanya lagi tentang risalah yang dibawa Nabi SAW, dan beliau menjelaskannya dengan panjang lebar pokok-pokok ajaran agama Islam. Perkataan beliau yang bijak tanpa tidak ada nada paksaan tampaknya membuka pintu hatinya. Setelah penjelasan beliau tersebut, Ikrimah berkata, "Demi Allah, apa yang engkau seru adalah kebaikan, dan kepada urusan yang indah lagi baik. Demi Allah, sebelum engkau menyeru kami kepada risalah yang engkau bawa, engkau adalah orang yang terpercaya dan paling baik di antara kita."
Nabi SAW merasa senang dengan penuturan Ikrimah ini, dan ketika Ikrimah meminta Nabi SAW untuk mengajarkan kebaikan yang harus ia katakan lagi, Rasulullah memintanya membaca dua kalimah syahadah. Ternyata ia memenuhi permintaan Nabi SAW, diucapkannya dua kalimah syahadah tanpa keraguan sedikitpun. 
Belum cukup juga, ia bertanya kepada beliau tentang apa yang harus dikatakan untuk menunjukkan kemantapannya memeluk Islam, Nabi bersabda, "Katakanlah, aku mengambil Allah sebagai saksi, dan aku bersaksi di hadapan orang-orang yang hadir, bahwa aku adalah seorang Islam yang berjihad dan berhijrah."                                                                                             
            Ikrimah mengucapkan perkataan yang diajarkan Nabi SAW tersebut dengan penuh keyakinan. Dan Nabi SAW tampak begitu gembira, sehingga beliau menyatakan akan memenuhi apapun permintaan Ikramah sejauh yang beliau bisa berikan pada seseorang. Mendengar penuturan ini, Ikrimah berkata, "Ya Rasulullah, hendaknya engkau memohonkan ampunan bagiku atas setiap permusuhanku terhadapmu, atas setiap perjalanan yang untaku kupacu kencang untuk memusuhimu, atau dimanapun aku menemuimu untuk menyakitimu, juga atas setiap ucapan yang keluar dari mulutku, di hadapanmu atau di belakangmu."
Nabi SAW pun mendoakan keampunan seperti yang diminta Ikrimah, dan para sahabat yang hadir mengamininya.
"Aku telah ridlo, ya Rasulullah," Kata Ikramah, kemudian melanjutkan, "Demi Allah, ya Rasulullah, aku akan mengorbankan hartaku di jalan Allah, dua kali lebih banyak daripada harta yang kupakai untuk menghalangimu di jalan Allah sebelum ini. Dan aku akan berperang di jalan Allah, dua kali lebih banyak daripada peperangan yang telah aku lakukan untuk menghalangimu di jalan Allah sebelum ini."
Sesuai dengan janjinya, Ikrimah selalu menyertai Rasulullah SAW dalam setiap peperangan yang terjadi setelah keislamannya itu. Dalam perang Hunain, dimana pada awalnya pasukan muslim sempat terdesak dan kocar-kacir, Suhail bin Amr yang menyertai perang itu walau belum memeluk Islam, berkomentar dengan sinis, "Muhammad dan para sahabatnya tidak akan bisa memperbaiki apa yang telah hilang dari mereka, dan tidak akan pernah bisa mendapatkannya lagi."
Mendengar perkataan Suhail tersebut, Ikrimah membantahnya dengan berkata, "Ini bukanlah ucapan yang tepat dan urusan ini sedikitpun bukan hak Muhammad. Jika hari ini ia dikalahkan, maka besok ia akan memiliki kesudahannya sendiri."
Mendengar perkataan Ikrimah ini, dengan keheranan Suhail berkata, "Demi Allah, sesungguhnya jaman dimana engkau memusuhi Muhammad baru saja engkau tinggalkan."
"Hai Abu Yazid," Kata Ikrimah, "Demi Allah, dulu itu kita telah memacu kuda kita untuk tujuan yang sia-sia, sedang akal kita adalah akal kita sendiri. Kita dulu menyembah batu yang tidak bisa memberi manfaat dan madharat apapun pada kita."
Suhail tak mampu lagi mendebat pernyataan Ikrimah tersebut.
Ikrimah pernah ditugaskan Rasulullah SAW menjadi pemungut zakat dari Bani Hawazin ketika beliau sedang berhaji. Bahkan ketika Nabi SAW wafat, ia sedang mengemban tugas Nabi SAW di daerah Tabalah, sebuah kota di Yaman yang cukup terkenal. Ikrimah sendiri akhirnya mati syahid dalam pertempuran Ajnadain, pertempuran melawan pasukan Romawi pada jaman Khalifah Abu Bakar. Tetapi sebagian ulama menyatakan bahwa Ikrimah syahid pada pertempuran Yarmuk pada jaman Khalifah Umar bin Khaththab.        
Pada riwayat yang menyebutkan ia syahid pada perang Yarmuk, ketika itu ia menyongsong musuh dengan beberapa sahabat, Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan sempat mencegahnya,       "Jangan berbuat begitu, sungguh kematianmu akan terasa berat bagi kaum muslimin…"
Ikrimah dengan tegas berkata, "Biarkan aku, ya Khalid, sungguh engkau telah sempat berjuang bersama Rasulullah SAW, sedang aku dan ayahku berada pada barisan yang paling keras menentang beliau…"
Kemudian ia berseru pada orang-orang yang memngikutinya untuk berba'iat atas maut (syahid) bersama dirinya, di antaranya adalah pamannya Harits bin Hisyam dan Dhirar bin Azwar, dan mereka mengikutinya. Ketika pertempuran berakhir, tiga orang terluka parah berdekatan, Ikrimah, Harits bin Hisyam dan Ayyasy bin Abi Rabiah. Harits meminta air untuk minum, ketika dibawakan, ia melihat Ikrimah dan berkata, "Berikan air ini pada Ikrimah!"
Airpun dibawa ke Ikrimah. Ketika hampir minum, Ikrimah melihat Ayyasy dan berkata, "Berikan air ini pada Ayyasy!"
            Airpun dibawa ke Ayyasy, tetapi Ayyasy telah meninggal sebelum air sampai kepadanya. Ketika dibawa ke Ikrimah lagi, ia juga wafat, begitu juga ketika akan dibawa ke Harits, ternyata ia telah meninggal.


MurtawaFz

Abdullah Bin Hudzaifah As Sahmi R.A

Abdullah bin Hudzaifah As Sahmi RA


          Dalam suatu pertempuran melawan orang-orang Romawi, Abdullah bin Hudzaifah as Sahmi tertangkap oleh pasukan musuh bersama beberapa orang Islam lainnya. Pasukan Romawi menyiapkan wajan tembaga besar yang diisi oleh minyak yang mendidih. Tawanan muslim ditawari untuk masuk agama Nashrani, jika menolak, ia akan dilemparkan. Beberapa orang telah menjadi syahid karena tidak sudi menjual keimanan dan keyakinannya. 
Ketika tiba pada giliran Abdullah bin Hudzaifah, dengan tegas dia menolak permintaan mereka. Tetapi ketika dia diangkat untuk dilemparkan, tetapi tiba-tiba Abdullah menangis. Panglima Romawipun berkata, "Ia telah gentar dan menangis, kembalikan !"
Tetapi kemudian Abdullah berkata, "Jangan kalian pikir aku menangis karena takut dengan apa yang kalian perbuat. Tetapi aku menangis karena aku hanya mempunyai satu nyawa, yang aku persembahkan kepada Allah. Aku berharap mempunyai nyawa sebanyak rambutku, dan kau paksa aku, dan kau lakukan seperti itu satu persatu pada semua nyawaku."
Sang panglima begitu terkejut dan takjub dengan ucapan Abdullah, sehingga ia bermaksud melepaskannya, ia berkata pada Abdullah, "Ciumlah kepalaku, dan aku akan melepaskanmu!"
Abdullah menolak. Tetapi penolakannya tersebut tidak membuat sang panglima marah, tetapi malah menambah kekagumannya. Ia berfikir, alangkah baiknya jika orang seperti Abdullah bin Hudzaifah dengan kepribadian yang begitu mengagumkan tersebut menjadi saudaranya atau menjadi orang dekatnya. Sang panglima berkata lagi, “Masuklah ke dalam agama Nashrani, akan kunikahkan kau dengan putriku, dan kuberikan separuh dari kekuasaanku."
Abdullah tetap menolak. Karena sudah berniat untuk melepaskannya, sang panglima berkata lagi, "Ciumlah kepalaku, dan akan kubebaskan engkau dan delapan puluh temanmu yang masih kutawan."
Kali ini Abdullah menerima tawaran tersebut. Ia mencium kepala sang panglima dan kemudian pulang kembali ke pasukannya beserta delapanpuluh orang temannya. Peristiwa tersebut terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab.
Sekembalinya ke Madinah, ia menceritakannya kepada Umar. Umar begitu takjub dengan peristiwa ini dan ia berkata, "Wajib bagi orang muslim yang hadir saat ini untuk mencium kepada Abdullah, dan aku orang pertama yang akan melakukannya…."
            Umar bangkit dari duduknya dan mencium kepala Abdullah, diikuti oleh kaum muslimin lainnya yang hadir saat itu.            


MurtawaFz

Amru Bin Murrah Al Juhaini R.A

Amru bin Murrah al Juhaini RA


            Amru bin Murrah RA berasal dari Bani Rifaah dari kabilah Bani Juhainah. Pada masa jahiliah, ketika sedang berhaji di Makkah bersama jamaah dari bani Juhainah, ia bermimpi melihat cahaya keluar dari Ka'bah. Cahaya ini menerangi gunung-gunung di Yastrib dan Asharu Juhainah, dan dari cahaya itu keluar suara, "Kegelapan telah sirna digantikan cahaya terang benderang, penutup para Nabi telah diutus."
            Kemudian ia melihat lagi cahaya keluar dari Ka'bah, kali ini tampak istana-istana di Hiirah (Yaman), dan putihnya istana-istana di Madain (Persia/Iran). Dari cahaya itu juga keluar suara, "Islam telah menang, berhala-berhala telah dihancurkan dan silaturahmi telah dijalin." 
Setelah itu Amru terbangun dari mimpinya dengan ketakutan, ia merasa akan terjadi sesuatu dengan kaum Quraisy, yang membuat goncang istana-istana di Yaman danPersia. Ketika kembali ke perkampungan bani Juhainah, ia mendengar berita tentang seorang lelaki yang mengaku sebagai Nabi. Ia segera melacak kebenaran berita tersebut, yang akhirnya membawa langkahnya menuju Madinah. Saat bertemu Nabi SAW, ia menceritakan mimpinya tersebut, dan dengan gembira Nabi SAW berkata. "Selamat datang wahai, Amru…"
Nabi SAW menjelaskan risalah Islam dengan panjang lebar kepada Amru, dan menyerunya untuk memasuki agama Islam. Tanpa ragu lagi Amru menyambut seruan beliau, ia mengucapkan kalimah syahadat dan berba'iat untuk menjalankan ajaran-ajaran Islam.
Amru memohon ijin Rasulullah SAW untuk mendakwahi kaumnya dan beliau mengijinkannya. Sayangnya hanya beberapa orang saja yang menyambut seruannya. Adasatu orang yang membantahnya dengan keras, bahkan menganggapnya murtad, pendusta, dan memecah belah kaumnya. Atas sikap permusuhannya yang begitu keras, Amru berkata, "Seorang pendusta, salah satu di antara aku atau engkau akan dimusnahkan oleh Allah, dikelukan lidahnya, dan dibutakanlah matanya…."
            Lelaki tersebut mati beberapa waktu kemudian. Sebelum kematiannya, mulutnya menjadi hancur sehingga ia tidak bisa menikmati makanan apapun, matanya buta dan akalnya juga rusak.     


MurtawaFz

Abdullah Bin Atik R.A

Abdullah bin Atik RA


            Suku Aus dan Khazraj adalah dua suku yang selalu bermusuhan semasa jahiliah. Ketika cahaya Islam menyinari dan menghilangkan permusuhan mereka, sikap saling bersaing tidak bisa hilang begitu saja. Hanya saja persaingan mereka kini dalam menunjukan bakti dan perjuangan serta pembelaan kepada Nabi SAW dan Islam. 
Ketika Suku Aus yang diwakili Muhammad bin Maslamah dan teman-temannya berhasil membunuh musuh Islam, Ka'b bin Asyraf, seorang tokoh yahudi yang sering menghasut dan menyakiti orang-orang Islam, Suku Khazraj berusaha untuk bisa "mengimbangi" prestasi tersebut. Mereka teringat pada Abu Rafi Sallam bin Abu Huqaiq, tokoh Yahudi yang tinggal di Khaibar, yang juga sangat memusuhi Nabi SAW dan orang muslim lainnya. Mereka meminta ijin kepada Nabi SAW untuk membunuhnya, dan beliau mengijinkannya.
Lima orang dari Bani Salimah dan Bani Aslam, yakni Abdullah bin Atik, Mas'ud bin Sinan, Abdullah bin Unais, Abu Qatadah Harits bin Rib'i dan Khuzai bin Aswad R.hum berangkat ke Khaibar untuk melaksanakan tugasnya. Nabi SAW menetapkan Abdullah bin Atik sebagai pimpinan rombongan tersebut, dan beliau melarang membunuh wanita dan anak-anak.
Mereka tiba di benteng Abu Rafi ketika matahari telah tenggelam, dan pintu benteng hampir ditutup. Ibnu Atik berkata kepada teman-temannya, "Tetaplah kalian disini, aku akan menyiasati penjaga pintu gerbang agar aku dibolehkan masuk!"
Abdullah bin Atik duduk tak jauh dari pintu gerbang dan menutupi dirinya dengan kain seolah-olah sedang buang hajat, sementara orang-orang telah masuk semuanya. Melihat masih ada orang di luar, penjaga itu berteriak, "Hai hamba Allah! Jika engkau hendak masuk, segeralah, karena aku akan mengunci pintu ini!"
Ibnu Atik segera saja masuk dan bersembunyi. Ketika penjaga telah berlalu, ia mengambil kunci yang ditaruh pada sebuah kayu pancang dan membuka pintu benteng sehingga teman-temannya bisa masuk. Mereka mendatangi rumah Abu Rafi, tetapi masih ada tamunya. Ketika tamu itu pulang, mereka memasuki rumah dan menuju kamar Abu Rafi yang berada di lantai atas. Setiap melalui pintu, mereka menguncinya sehingga akan mempersulit bantuan kalau mereka ketahuan.
Ketika sampai di kamarnya, keadaan sangat gelap sehingga sulit diketahui dimana Abu Rafi berada. Ibnu Atik berinisiatif memanggil namanya. Abu Rafi balik bertanya, "Siapa itu?" 
Abdullah bin Atik segera saja menebaskan pedang ke arah suara itu. Terdengar jeritan, tetapi tampaknya itu belum membunuh tokoh Yahudi tersebut. Ia diam-diam keluar kamar, sesaat kemudian masuk lagi seolah-olah datang untuk membantu. Ia berkata, "Suara apa yang tadi aku dengar, wahai Abu Rafi!"
"Celakalah ibumu," Kata Abu Rafi, "Barusan ada lelaki yang memukulku dengan pedang!"
Kali ini posisinya cukup dekat, mereka berlima memukulnya beberapa kali, dan terakhir menusuk perut Abu Rafi hingga tembus ke belakang. Setelah itu mereka segera keluar dari kamar dan rumah tersebut, tetapi Ibnu Atik kurang hati-hati sehingga terjatuh ketika menuruni tangga, betisnya retak dan ia membalutnya dengan sorban.
Beberapa saat kemudian orang-orang berkumpul ke rumah Abu Rafi karena adanya keributan, dan mereka mendapati salah satu tokohnya telah mati. Istri Abu Rafi menceritakan apa yang terjadi, ia juga sempat berkata, "Saat itu aku mendengar suara Ibnu Atik, tetapi aku menafikannya. Apa mungkin Ibnu Atik ada disini?"
Mereka berlima tidak langsung kembali ke Madinah, tetapi menunggu sampai pagi di luar dinding benteng untuk meyakinkan diri bahwa tokoh yahudi itu sudah mati. Ketika seseorang telah mengumumkan kematian Abu Rafi, mereka segera pulang. Tiba di Madinah, saat itu Nabi SAW sedang berdiri di atas mimbar, beliau langsung menyambutnya dengan bersabda, "Wajah-wajah yang telah memperoleh kemenangan!"
"Wajah engkau juga memperoleh kemenangan, Ya Rasulullah!!" sahut mereka.
Nabi SAW meminta pedang-pedang mereka untuk memastikan kematian musuh Allah tersebut, dan beliau bersabda, "Benar, ia telah mati, ini ada bekas makanannya di bagian mata pedang!!" 
Nabi SAW mengusap kaki Ibnu Atik yang sakit, dan seketika itu sembuh.
Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa mereka berlima mengklaim dirinya yang membunuh Abu Rafi. Setelah memeriksa pedang-pedang mereka yang masih membekas darahnya, Nabi SAW menyatakan pedang Abdullah bin Unais yang membunuhnya, karena ada bekas sisa makanannya.


MurtawaFz

Muhammad Bin Maslamah R.A

Muhammad bin Maslamah RA


          Muhammad bin Maslamah RA adalah seorang Anshar dari Suku Aus. Ketika seorang pimpinan Yahudi bernama Ka'b bin Asyraf sering menghasut dan menyakiti kaum muslimin, Rasulullah SAW memutuskan agar ia dibunuh, beliau SAW bersabda, "Siapakah yang siap membunuh Ka'b bin Asyraf, sungguh ia telah menyakiti Allah dan RasulNya!!" 
Muhammad bin Maslamah secara spontan bangkit dan berkata, "Aku, wahai Rasulullah, aku akan membunuhnya untukmu. Aku akan membunuhnya!"
"Lakukanlah, jika engkau sanggup melakukannya!!" Kata Nabi SAW.
Mungkin karena kecintaan dan ketaatannya kepada Nabi SAW, membuatnya begitu saja menyanggupi tanpa dipikirkan lebih dahulu. Mungkin juga ia khawatir kedahuluan orang lain dalam menyenangkan hati Rasulullah SAW. Setelah kembali ke rumah, barulah ia menyadari betapa berat tugas untuk membunuh Ka'b, apalagi ia kenal cukup baik dengan tokoh Yahudi itu. Tiga hari tiga malam ia tidak makan minum kecuali untuk sekedar bisa hidup.
Keadaannya ini dilaporkan kepada Nabi SAW, dan beliau memanggilnya untuk menghadap. Ketika beliau bertanya tentang apa yang dilakukannya, Ibnu Maslamah berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah mengucapkan suatu perkataan kepadamu (untuk membunub Ka'b bin Asyraf), sedangkan aku tidak tahu, apakah aku dapat melakukannya atau tidak!!"
Nabi SAW hanya tersenyum mendengar perkataannya, kemudian bersabda, "Kewajibanmu tidak lain adalah berusaha dengan sungguh-sungguh!!"
Ucapan Nabi SAW yang singkat ini telah membangkitkan semangatnya. Muncul suatu siasat di benaknya, ia berkata kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, Izinkanlah aku mengatakan sesuatu kepadanya (yakni Ka'b bin Asyraf)."
Nabi SAW memberikan ijin. Hal itu ia perlukan karena muslihat yang akan ia lakukan, walau sedikit tetapi mengandung unsur kebohongan, bahkan bagi orang yang tidak tahu, bisa jadi ia dianggap murtad. Ia segera melangkahkan kakinya ke kediaman tokoh Yahudi tersebut.
Ketika telah bertemu dengan Ka'b, ia menceritakan kesusahannya dalam mengikuti Nabi SAW karena beban zakat, dan ia menemuinya untuk meminjam gandum. Ka'b meminta jaminan pinjamannya tersebut, yakni istri Ibnu Maslamah, tetapi ia menolaknya. Ia juga menolak ketika Ka'b meminta anaknyasebagai jaminan. Tetapi Ibnu Maslamah menjanjikan senjatanya sebagai jaminan dan Ka'b setuju, dan mereka sepakat untuk bertemu pada suatu malam.
Pada malam yang ditentukan, Muhammad bin Maslamah bersama dua atau tiga temannya berangkat menemui Ka'b di bentengnya, salah satunya adalah Ibnu Na'ilah, saudara sepersusuan Ka'b. Ia berkata kepada teman-temannya, bahwa nanti ia akan mencium dan memegang kepada Ka'b, dan saat itu hendaklah mereka menyabetkan pedangnya ke leher Ka'b. Setelah sepakat merekapun berangkat.
Nabi SAW sempat menyertai mereka sampai di Baqi al Gharqad, dan beliau melepas kepergiannya dengan ucapan, "Pergilah kalian dengan nama Allah!!" 
Dan beliau mengiringi dengan doa, "Ya Allah, bantulah mereka!!"
Ketika sampai di benteng kaum Yahudi tersebut, mereka dipersilahkan masuk. Ka'b sempat diperingatkan istrinya ketika akan menemui tamu-tamunya, bahwa ia merasa ada seseorang yang akan berbuat jahat. Tetapi Ka'b berkata dengan tenangnya, "Sesungguhnya hanya saudaraku Muhammad bin Maslamah dan saudara sepersusuanku, Ibnu Na'ilah yang akan datang. Sesungguhnya seorang yang mulia, jika diajak berkelahi pada malam hari, ia pasti akan menyambutnya!"
Setelah beberapa perbincangan, Ibnu Maslamah meminta ijin untuk mencium kepada Ka'b sebagai suatu bentuk penghormatan di kalangan orang-orang Arab kepada orang yang dimuliakan. Ka'b mengijinkannya. Begitulah, saat mencium kepala Ka'b, Ibnu Maslamah segera memegangnya dengan erat dan dengan cepat teman-temannya menyabetkan pedangnya sehingga Ka'bpun terbunuh. 
Begitu pimpinannya terbunuh, orang-orang Yahudi di benteng tersebut begitu ketakutannya dan tidak bisa berbicara apa-apa, sehingga Ibnu Maslamah dan teman-temannya bisa keluar dengan selamat dari benteng tersebut. Tentu ini tidak lepas dari doa Nabi SAW ketika melepas kepergian mereka. 
Tiba di Baqi al Gharqad, merekapun bertakbir, dan takbir ini didengar oleh Nabi SAW yang sedang shalat malam. Ketika sampai di hadapan Nabi SAW, beliau memuji Allah, menyambutnya dengan ucapan gembira, "Wajah-wajah ini telah mendapat kemenangan!"
"Juga wajah engkau, ya Rasulullah!!" Kata Muhammad bin Maslamah dan teman-temannya.
Ketika orang-orang yahudi dari Bani Nadhir mengkhianati perjanjian damai dengan Nabi SAW, dan bermaksud membunuh beliau, Nabi SAW mengerahkan pasukan mengepung perkampungan Yahudi tersebut. Muhammad bin Maslamah ditunjuk Nabi SAW menemui orang-orang yahudi tersebut untuk menyampaikan pesan kepada mereka, "Keluarlah kalian dari negeri Madinah ini, dan jangan kalian tinggal bersama kami setelah kalian merusak perjanjian antara kita. Kuberi kalian waktu selama tiga hari!"
            Ketika terjadinya Perang Tabukia ditunjuk Nabi SAW sebagai pimpinan di Madinah, tetapi menurut riwayat lain, yang ditunjuk Nabi SAW adalah Siba' bin Urfuthah al Ghifary RA


MurtawaFz

Salamah Bin Akwa R.A

Salamah bin Akwa RA


             Salamah bin Amr bin Akwa al Aslami RA, atau lebih dikenal dengan nama Salamah bin Akwa, nama kunyahnya Abu Iyas, berba'iat kepada Nabi SAW bersama-sama kaumnya dari Bani Aslam. Setelah selesai berba'iat, ia berteduh di bawah bayang-bayang sebuah pohon. Setelah orang-orang semakin sedikit, tiba-tiba Nabi SAW memanggilnya, "Hai Ibnul Akwa, maukah kamu berba'iat!" 
"Aku telah berba'iat, Ya Rasulullah!" Jawab Salamah.
"Berba'iatlah sekali lagi…" Kata Nabi SAW.
Salamah menghampiri Nabi SAW, kemudian beliau menjabat tangan Salamah untuk berba’at dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam. Kemudian beliau memba'iat Salamah lagi, tetapi kali ini ba'iat atas maut, yakni bersedia berkorban nyawa dalam membela dan mempertahankan Islam.
            Salamah bin Akwa RA, seorang anak berusia 12 atau 13 tahun yang mempunyai kemampuan berlari sangat cepat, bahkan melebihi kecepatan kuda yang berlari. Ia juga mempunyai ketrampilan memanah yang sangat baik.
Suatu ketika ia berjalan-jalan melewati Ghabah, suatu tempat di luar kota Madinah, dimana unta-unta Nabi SAW dan beberapa penduduk Madinah digembalakan. Ia melihat sekelompok orang kafir yang dipimpin oleh Abdurrahman Fazari merampok unta-unta gembalaan itu dan membunuh para gembalanya.
Salamah berlari ke suatu bukit dan berteriak sekuat tenaga ke arah Madinah untuk memberitahukan perampokan ini.  Setelah itu ia berlari mengejar para perampok yang mulai kabur. Setelah agak dekat, ia juga memanah para perampok beberapa kali dengan berpindah-pindah tempat, sambil bersembunyi di balik pohon. Karena panah yang menyerang mereka dari berbagai tempat, para perampok ini sama sekali tidak menyangka kalau penyerang mereka hanya satu orang, mereka berlari ketakutan, beberapa ekor kuda yang ditungganginya roboh terkena panah.            
Tak lama berselang datang kelompok perampok lain yang dipimpin Uyainah bin Hishin, yang membantu kelompok Abdurrahman, hingga mereka mengetahui bahwa penyerangnya hanya satu orang, merekapun mengejar Salamah. Salamah lari ke arah Madinah dan menaiki sebuah bukit, dan mereka terus mengejar, tetapi tidak mudah menangkap Salamah karena kemampuan larinya yang amat luar biasa.
Ketika Salamah melihat sekelompok orang datang dengan menunggang kuda dari Madinah, seketika ia berhenti dan menghadap ke arah para perampok itu, ia bekata, "Tunggulah kalian di sana! Tahukah kalian siapa aku?"
 "Siapakah engkau?" Tanya para perampok itu. 
        "Aku adalah Ibnu Akwa, demi Allah yang menguasai jiwa Rasulullah SAW, jika kalian ingin menangkapku, kalian tidak akan berhasil. Tetapi jika aku ingin menangkap salah satu dari kalian, pasti dia tak akan lolos dariku." 
             Ketika itu, orang pertama dari Madinah telah sampai, yaitu Akhram Asadi RA. Salamah memintanya menunggu teman-teman lainnya sebelum menyerang perampok itu, tetapi Akhram berkata, "Biarlah aku mati syahid karenanya…!" 
 Setelah itu, ia menghambur dengan kudanya ke arah para perampok. Abdurrahman menyambut serangannya dan ia berhasil menyabet kaki kuda Akhram hingga terjatuh, dan segera menyerangnya lagi sehingga Akhram menemui syahidnya. Tak lama kemudian datanglah Abu Qatadah RA yang langsung menyerang, tetapi sekali lagi Abdurrahman berhasil menyabet kaki kuda Abu Qatadah hingga terjatuh. Tetapi kali ini Abu Qatadah cukup sigap, sambil terjatuh ia masih bisa menyerang Abdurrahman dan pada akhirnya berhasil memenggal lehernya. 
             Abu Qatadah, Salamah dan beberapa temannya menyerang para perampok kafir itu hingga banyak yang tewas, ketika makin banyak orang-orang Madinah yang datang, para perampok itu melarikan diri.

MurtawaFz

Suraqah Bin Malik Bin Ju'syum R.A

Suraqah bin Malik bin Ju'syum RA

Suraqah bin Malik bin Ju’syum merupakan seorang tokoh terkemuka di daerahNajd yang berasal dari Bani Kinanah, dan sangat dihargai oleh kaum Quraisy Makkah. Karena itulah ketika Iblis ingin tampil sebagai manusia dalam mendukung permusuhannya kepada Nabi SAW, ia mewujudkan diri sebagai Suraqah bin Malik 
Dua kali iblis muncul dalam wujud sahabat ini, pertama saat kaum Quraisy bermusyawarah di Darun Nadwah, saat itu ia mendukung dan menguatkan pendapat Abu Jahal untuk membunuh Nabi SAW. Kedua pada saat perang Badar. Ketika pasukan kafir Quraisy ragu-ragu untuk meneruskan pertempuran, sekali lagi Iblis dalam bentuk Suraqah ini mendukung dan menguatkan mereka. Tetapi ketika iblis melihat pasukan malaikat yang dipimpin Malaikat Jibril, ia segera berlari terbirit-birit. Harits bin Hisyam sempat memegang tangannya dan berkata, “Wahai Suraqah, bukankah engkau berkata akan mendukung kami dan tidak akan meninggalkan kami!!”
Tentu saja Harits mengira dia adalah benar-benar adalah Suraqah bin Malik. Iblis memukul dada Harits hingga ia terjengkang, dan berkata, “Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, siksaan Allah benar-benar sangat pedih…!!”
Sebagai hasil kesepakatan dari pertemuan kaum Quraisy di Darun Nadwah, para pemuda dari beberapa suku Arab berkumpul di depan pintu rumah Nabi SAW dengan satu tujuan,  membunuh beliau. Tetapi tentu saja dengan mudah Allah menyelamatkan Nabi SAW, beliau melewati mereka, bahkan sempat menaburkan pasir di setiap kepala mereka tanpa mereka menyadarinya (sebagian riwayat menyebutkan mereka tertidur), kemudian beliau berangkat hijrah bersama Abu Bakar.
Tetapi kegagalan tersebut tidak menyurutkan maksud kaum kafir Quraisy untuk menghabisi Nabi SAW. Mereka terus melakukan pencarian dan bahkan mengadakan sayembara, siapapun yang bisa membawa atau menunjukkan keberadaan Nabi SAW akan memperoleh hadiah 200 ekor unta.
Salah seorang yang berhasil menelusuri jejak perjalanan Nabi SAW adalah Suraqah bin Malik. Ia memperoleh informasi salah seorang dari kaumnya, Bani Mudlij, yang melihat sekelompok orang berjalan di pesisir, yang dikiranya adalah rombongan Nabi SAW yang dicari-cari kaum Quraisy. Suraqah membenarkan dalam hatinya, tetapi karena tidak ingin kedahuluan orang lain untuk memperoleh hadiah yang dijanjikan, ia berkata kepada orang itu, "Bukan, mereka adalah Fulan bin Fulan yang pergi karena tidak ingin kita lihat."
Tetapi diam-diam ia menyuruh pembantunya untuk menyiapkan kuda dan perlengkapannya. Ketika tidak ada orang yang melihatnya, ia segera memacu kendaraannya ke pesisir yang ditunjukkan orang tersebut. Suraqah mengendarai kuda yang cepat, sehingga ia bisa mengejar rombongan hijrah Nabi SAW tersebut dan jaraknya semakin dekat. Nabi Saw tetap tenang, sementara Abu Bakar yang duduk di boncengan unta Nabi SAW, terlihat cemas dan berkali-kali melihat ke belakang.
Setelah jarak makin dekat, tiba-tiba kuda Suraqah terjerembab jatuh, Nabi SAW terus saja berjalan tanpa memperdulikan Suraqah yang mengejarnya. Setelah berhasil mendekati lagi, Suraqah menyiapkan anak panahnya, tetapi lagi-lagi kudanya terjerembab, sementara Nabi SAW terus berjalan. Masih juga penasaran, setelah berhasil membebaskan kudanya, ia mengejar lagi, tetapi untuk ketiga kalinya, kudanya terjerembab dan kali ini diikuti dengan debu yang bertaburan di udara. Sadarlah Suraqah bahwa orang yang dikejarnya bukanlah orang sembarangan.
Setelah berhasil membebaskan kudanya dan tidak ada lagi niat untuk menangkap atau membunuh Nabi SAW, ia berhasil mendekati rombongan beliau dan memanggilnya. Setelah berhadapan dengan Nabi SAW, ia meminta maaf dan memohon untuk tidak diapa-apakan. Ia juga menawarkan untuk memberikan perbekalan yang dibawanya. Nabi SAW memaafkannya tetapi menolak pemberiannya, hanya saja beliau meminta untuk merahasiakan pertemuannya itu.
Suraqah meminta jaminan keamanan dari Nabi SAW, dan beliau menyuruh Amir bin Fuhairah untuk menuliskannya di sebuah kulit, dan menyerahkannya kepada Suraqah. Sesaat kemudian Rasulullah SAW berkata pada Suraqah, "Wahai Suraqah, bagaimana perasaanmu jika engkau memakai dua gelang Kisra?"
            "Kisra bin Hurmuz?" Suraqah tercengang tak mengerti.                                                                    Nabi SAW tersenyum memandang ekspresi Suraqah, tetapi beliau tidak menjelaskan lebih lanjut. Kemudian beliau meninggalkannya meneruskan perjalanan hijrah.       
Begitulah waktu berlalu, di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, datang ghanimah dari Persia yang telah dikalahkan pasukan muslim. Umar teringat akan kisah Rasulullah SAW bersama Suraqah, ia mencari dua gelang Kisra di antara tumpukan ghanimah. Setelah ditemukan, Umar memanggil Suraqah dan berkata, "Pakailah dua gelang ini, naiklah ke mimbar dan angkat tanganmu, lalu katakan, : Mahabenar Allah dan RasulNya."      
Suraqah maju ke mimbar, ia melakukan apa yang diperintahkan Khalifah Umar dengan penuh haru. Terbayang di matanya apa yang dikatakan Nabi SAW bertahun yang lalu ketika beliau hijrah. Sungguh sangat tidak terbayangkan saat itu, bahwa orang-orang muslim akan mampu mengalahkan dan menghancurkan imperium besar yang telah berusia ratusan tahun, Kerajaan Persia.
           Tidak ada kejelasan riwayat, apakah Suraqah memeluk Islam saat bertemu dengan Nabi SAW di perjalanan hijrah tersebut atau waktu lainnya. Sebagian riwayat menyebutkan ia memeluk Islam ketika Nabi SAW kembali dari Haji Wada’ ketika beliau berada di Ji’ranah. Tetapi yang jelas pada akhirnya  ia memeluk Islam telah menjadi saksi dari kebenaran "ramalan" beliau SAW.


MurtawaFz

RUMUS MENGETAHUI JATUHNYA MALAM LAILATUL QADAR

Menurut Imam Al Ghazali Cara Untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari permulaan/hari pertama bulan Ramadhan : 1. Jika hari pertama ...