Tuesday, 8 October 2013

 SEJARAH ATJEH 



Sejarah Aceh
Isi Surat Misterius Kematian Snouck Hurgronje
Akan Dibuka Setelah 100 tahun Kematiannya
Snouck Hurgronje. Nama itu tak asing lagi dalam
sejarah perjuangan di masa penaklukan Acheh
oleh kolonial Belanda. Berkat informasi yang
dipasok orientalis yang menguasai Budaya Acheh
dan Islam itu. Dan, pasukan Kolonial Belanda
berhasil “menguasai” Acheh.
Rupanya, kiprah warga Belanda itu tak hanya
tercatat di bumi Serambi Mekkah saja. Jejak kaki
Hurgronje (1857-1936) juga sampai ke Mekkah,
Arab Saudi. Demi mempelajari Islam, ritual haji,
dan kehidupan masyarakat di Mekkah, lulusan
Jurusan Teologi di Universitas Lieden, seorang
anak dan cucu pendeta Protestan ini pernah
tinggal selama sekitar tujuh bulan di Kota Suci itu.
Pria yang lahir di Oosterhout, Belanda, pada 1857
memiliki nama lengkap Christiaan Snouck
Hurgronje. Ini, bahkan dikabarkan sampai
mengubah keyakinan agamanya alias menjadi
Muallaf, demi bisa menetap di Kota Mekkah.
Semua itu dilakukannya agar bisa mempelajari
Islam langsung di “jantungnya”.
Photo-photo karya Hurgronje saat menetap di
Mekkah pernah dipamerkan di Dubai Financial
Center dengan diberi judul 'Mekkah, Sebuah
Petualangan Berbahaya'. ''Dia terpesona dengan
berbagai macam agama, tetapi secara khusus
tertarik pada ajaran dan sistem kepercayaan
Islam. Dia juga fasih berbahasa Arab,'' ujar Elie
Domit, seorang kurator galeri.
Pada 1880, Hurgronje menulis Tesis Doktornya
berjudul "Het Mekkansche Feest" (Pesta Mekkah)
yang menggambarkan ibadah haji dan adat
istiadatnya. Pada waktu itu, pemerintah di
negara-negara Eropa mulai melihat dukungan
yang diberikan penduduk Muslim bagi upaya
kemerdekaan bagi wilayah koloni Eropa dan
Belanda. Mekkah dipandang sebagai tempat
berkumpulnya para pejuang Muslim fanatik.
Pada 1884, berkat didanai Pemerintah Belanda,
Hurgronje dikirim ke Jeddah untuk meneliti
kehidupan Muslim fanatik di Mekkah. Namun dia
juga memiliki kepentingan pribadi untuk
memasuki Tanah Suci. Karena bukan seorang
Muslim, dia pertama kali berangkat ke Jeddah
dengan maksud mendekati kalangan elit di sana.
Demi bisa memasuki Mekkah dan mendapatkan
kepercayaan dari warga serta pejabat pemerintah
disana. Hurgronje secara terbuka mengumumkan
keputusannya untuk menjadi pemeluk Islam.
Bahkan kemudian dia dikenal dengan sebutan
Abd Al-Ghaffar. Berkat cara itu, dia akhirnya
diizinkan untuk memasuki Mekkah dan
perjalannya diatur pada 21 Januari 1885.
Selama tujuh bulan, Hurgronje tinggal di Mekkah.
Meski terbilang singkat, dia mengamati, mencatat,
dan mempelajari kehidupan masyarakat lokal.
''Waktu itu, Mekkah memiliki salah satu pasar
budak terbesar di dunia. Dan, Hurgronje kagum
dengan perlakukan manusiawi yang diberikan
kepada budak karena budak-budak itu
diperlakukan sebagai anggota keluarga,'' ujar
Domit.
Hurgronje juga mengamati kehidupan wanita di
Mekkah. Persoalan status sosial, rasa mode, dan
kebebasan yang diberikan kepada kalangan
wanita ini dibandingkannya dengan wanita di
kota-kota di Timur lainnya.
Minatnya yang begitu besar terhadap Mekkah
membuat curiga pemerintah negara Eropa yang
lain. Setelah itu terungkap bahwa Hurgronje
adalah seorang mata-mata, penipu, sekaligus
sebagai sedikit dari kalangan orientalis kala itu.
Tak lama usai menikahi wanita Ethiopia, dia
dideportasi dari Arab Saudi atas permintaan
Pemerintah Prancis yang menuduhnya telah
mencuri batu Taima.
Akibatnya, Hurgronje harus segera meninggalkan
Mekkah. Dengan tergesa, dia mengumpulkan
catatan dan photo-photo yang diperolehnya
selama tinggal di Mekkah. Namun peralatan
kamera ditinggalnya dan dititipkan kepada
temannya yang seorang mahasiswa photografi, Al-
Sayyid Abd Al-Ghaffar.
Hurgronje kemudian balik ke Belanda dan mulai
menulis berbagai artikel mengenai Mekkah. Dia
tetap menjalin kontak dengan temannya, Al-
Sayyid untuk bertukar informasi dan
mendapatkan photo-photo terbaru mengenai
Mekkah, termasuk photo-photo mengenai jamaah
haji.
Sekembalinya di tanah kelahirannya, tak diketahui
kabar selanjutnya, apakah dia masih memegang
agama Islamnya, atau kembali ke agama asalnya.
Namun, banyak karya yang dibuatnya mengenai
Islam dan budaya Mekkah. Mungkin karena itu
pula, hubungan dia dengan petinggi Arab Saudi
bisa terjalin baik. Sebagai pertanda eratnya
hubungan itu, Pangeran Saud dari Kerajaan Saudi
sampai tiga kali mengunjungi Belanda selama
kurun waktu 1926-1935.
Sosok Lain dari Snouck Hurgronje
Dari sejarah, terutama di periode Perang Acheh
(1879-1904), kita tentu mengenal tokoh ini,
Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936). Inilah
tokoh yang sangat berpengaruh bagi Belanda
untuk mengakhiri perang 25 tahun itu, salah satu
perang terlama buat Belanda.
Hidup Snouck Hurgronje penuh warna. Dia:
ilmuwan ahli agama (Islam dan Kristen),
kebudayaan dan bahasa-bahasa Timur; pahlawan
bagi Belanda sebagai penasihat perangnya;
pengkhianat tanpa tanding bagi Rakyat Acheh;
oportunis berkedok ilmuwan bagi para ilmuwan
lawannya; juga menikah empat kali dengan
perempuan Arab, Sunda (2x) dan Belanda.
Dengan kemampuannya fasih berbahasa Arab,
Acheh, Melayu, Jawa dan Sunda; Snouck
Hurgronje sukses menjalani kehidupannya yang
penuh warna itu. Ia diterima di kalangan para
bangsawan dan ulama besar Turki, Arab, Acheh
dan Sunda. Mengganti namanya menjadi Abdul
Ghaffar dan mengganti agamanya dari Kristen
menjadi Islam saat belajar Sastra Arab dan agama
Islam di Mekkah mungkin adalah usaha-usahanya
yang sistematik dan terencana baik dari awal
untuk tahun-tahun ke depannya. Tahun
1884-1905 petualangan Snouck dalam berbagai
bidang itu terjadi di Mekkah, Batavia, Banda
Acheh dan Bandung. Tahun 1906 ia mengakhiri
petualangannya kembali ke Belanda, menikahi
istri terakhirnya (yang ke-4), seorang anak
pendeta, dan dikukuhkan sebagai Guru Besar di
Leiden dan pada 1907 dan sampai akhir hidupnya
(1936) berprofesi sebagai Penasihat Menteri
Urusan Koloni Kerajaan Belanda.
Selama di Indonesia (1889-1905) Snouck
Hurgronje sempat tinggal di Jawa Barat (Bandung
khususnya). Sebagai seorang ilmuwan dan
orientalis serta mungkin berpikir akan ada
gunanya kelak, Snouck mengumpulkan naskah-
naskah Sunda. Hasil kumpul-kumpul ini
menghasilkan koleksi naskah Sunda yang sangat
signifikan, sebanyak 371 naskah (total naskah
Sunda diperkirakan ada 785 naskah–menurut Edi
S Ekajati dkk, 1998 – Naskah Sunda: Inventarisasi
dan Pencatatan), maka yang berhasil dikumpulkan
Snouck itu hampir setengahnya. Untuk
mendapatkan naskah-naskah tersebut, Snouck
bisa membeli atau diberi. Selama berada di Tatar
Sunda, ia sangat dekat dengan para menak atau
bangsawan, juga dengan para penghulu dan
pemuka agama.
Snouck dua kali menikahi gadis Sunda. Dari
masing-masing istri ia mempunyai keturunan.
Pernikahan pertama dengan Sangkana, anak Haji
Muhammad Taib, penghulu besar Ciamis tahun
1889 (tahun 1890 menurut sumber lain – jadi
Snouck menikah begitu ia masuk ke Indonesia
melalui Batavia). Sangkana meninggal setelah
keguguran anaknya yang kelima.
Pernikahan kedua Snouck adalah dengan Siti
Sadiah, anak Haji Muhammad Sueb, yang terkenal
dengan sebutan Kalipah Apo (ingat di Bandung
ada jalan Kalipah Apo, kalipah maksudnya adalah
kalifah –sebenarnya seorang penghulu) di
Bandung tahun 1898. Dari pernikahan itu mereka
dikarunai seorang anak bernama Raden Joesoef.
Namun setelah itu, Snouck Hugronje dipanggil
pulang ke Belanda saat anaknya berumur 1,5
tahun. Raden Joesoef sendiri kemudian memiliki
11 orang anak. Yang paling sulung adalah Eddy
Joesoef, pemain bulu tangkis yang pada tahun
1958 berhasil merebut Piala Thomas di Singapura.
Tidak diketahui apakah Snouck membawa isteri
dan anaknya itu saat dipanggil pulang ke Belanda
atau tidak sebab di Belanda Snouck menikah lagi
dengan anak seorang pendeta. Yang jelas, saat
pulang ke Belanda Snouck tidak lupa memboyong
semua naskah Sunda koleksinya. Di Belanda
Snouck pun tetap mendapatkan kiriman naskah
dari teman- temannya di Tatar Sunda.
Snouck Hurgronje meninggal pada 16 Juli 1936.
Menurut Sasmita (2006 – Koran Kompas edisi
Jawa Barat 6 April 2006) Snouck menulis surat
wasiat yang tidak boleh dibuka selama 100 tahun
setelah kematiaanya. Surat wasiatnya itu konon
sampai kini masih tersimpan di kantor KITLV
(Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volken-
Kunde atau Lembaga Kerajaan Belanda untuk
Ilmu2 Bahasa, Geografi dan Antropologi) di
Leiden.
_____________________________________________________
Dua puluh tahun lagi, tahun 2036, surat wasiat
Snouck Hurgronje itu baru boleh dibuka. Apa
isinya? Misterius!!!

MurtawaFz

No comments:

Post a Comment

RUMUS MENGETAHUI JATUHNYA MALAM LAILATUL QADAR

Menurut Imam Al Ghazali Cara Untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari permulaan/hari pertama bulan Ramadhan : 1. Jika hari pertama ...