Sambungan Atjeh di tanah Arab.. Menurut sejarah:
Sebenarnya bukan hanya wakaf
habib Bugak yang ada di Mekkah,
yang sekarang hasilnya sudah
dapat dinikmati oleh para jama'ah
haji dari Aceh tiap tahunnya lebih
kurang 2000 rial perjama'ah.
Peninggalan Aceh di Mekkah
bukan hanya sumbangan emas
pada masa pemerintahan ratu ini
juga harta harta wakaf yang masih
wujud sampai saat ini seperti :
1. Wakaf Syeikh Habib Bugak Al
Asyi',
2. Wakaf Syeikh Muhammad Saleh
Asyi dan isterinya Syaikhah Asiah
(sertifikat No.
324) di Qassasyiah,
3. Wakaf Sulaiman bin Abdullah
Asyi di Suqullail (Pasar Seng),
4. Wakaf Muhammad Abid Asyi,
5. Wakaf Abdul Aziz bin Marzuki
Asyi,
6. Wakaf Datuk Muhammad Abid
Panyang Asyi di Mina,
7. Wakaf Aceh di jalan Suq Al Arab
di Mina,
8. Wakaf Muhammad Saleh Asyi di
Jumrah ula di Mina,
9. Rumah Wakaf di kawasan Baladi
di Jeddah,
10. Rumah Wakaf di Taif,
11. Rumah Wakaf di kawasan Hayyi
al-Hijrah Mekkah.
12. Rumah Wakaf di kawasan Hayyi
Al-Raudhah, Mekkah,
13. Rumah Wakaf di kawasan Al
Aziziyah, Mekkah.
14. Wakaf Aceh di Suqullail, Zugag
Al Jabal, dikawasan Gazzah, yang
belum diketahui
pewakafnya.
15. Rumah wakaf Syech
Abdurrahim bin Jamaluddin
Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe
Geutah, Peusangan) di Syamiah
Mekkah,
16. Rumah Wakaf Syech
Abdussalam bin Jamaluddin
Bawaris Asyi (Tgk di Meurah,
Samalanga) di Syamiah,
17. Rumah Wakaf Abdurrahim bin
Abdullah bin Muhammad Asyi di
Syamiah
18. Rumah Wakaf Chadijah binti
Muhammad bin Abdullah Asyi di
Syamiah.
Inilah bukti bagaimana generous
antara ibadah dan amal shaleh
orang Aceh di Mekkah. Mereka
lebih suka mewakafkan harta
mereka, ketimbang dinikmati oleh
keluarga mereka sendiri. Namun melihat pengalaman Wakaf Habib
Bugak, agaknya rakyat Aceh sudah
boleh menikmati hasilnya sekarang.
Fenomena dan spirit ini memang
masih sulit kita jumpai pada orang
Aceh saat ini, kerana tradisi wakaf
tanah tidak lagi dominan sekali.
Kerana itu, saya menganggap
bahwa tradisi leluhur orang Aceh
yang banyak mewakafkan tanah di
Arab Saudi perlu dijadikan sebagai
contoh tauladan yang amat tinggi
maknanya. Hal ini juga dipicu oleh
kejujuran pengelolaan wakaf di negeri ini, dimana semua harta
wakaf masih tercatat rapi di Mahkamah Syariah Saudi Arabia.
Sebagai bukti bagaimana
kejujuran pengelolaan wakaf di Arab Saudi, Pada tahun 2008
Mesjidil haram diperluas lagi
kekawasan Syamiah dan Pasar Seng. Akibatnya ada 5 persil tanah wakaf orang Aceh terkena
pengusuran. Tanah wakaf tersebut adalah kepunyaan
Sulaiman bin Abdullah Asyi, Abdurrahim bin Jamaluddin
Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awè Geutah, Peusangan), Syech
Abdussalam bin Jamaluddin
Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga), Abdurrahim bin
Abdullah bin Muhammad Asyi dan
Chadijah binti Muhammad bin
Abdullah Asyi. Di Mekkah juga penulis sempat bertemu dengan Saidah Taliah
Mahmud Abdul Ghani Asyi serta Sayyid Husain seorang pengacara terkenal di Mekkah untuk mengurus pergantian tanah wakaf yang bersetifikat no 300 yang terletak di daerah Syamiah yang
terkena pergusuran guna perluasan halaman utara Mesjidil haram Mekkah al Mukarramah yang terdaftar petak persil
penggusuran no 608. Yang diwakafkan oleh Syech Abdurrahim Bawaris Asyi (Tgk Syik
di Awè Geutah, Peusangan) dan adiknya Syech Abdussalam Bawaris
Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga).
Memang pada asalnya 75 persen tanah di sekitar Mesjidil Haram
adalah tanah wakaf apakah itu wakaf khusus atau wakaf umum. Dan sebagiannya ada milik orang orang Aceh dulu dan ini bagian
dari kejayaan Aceh yang pernah masuk dalam 5 besar negara Islam di dunia bersama "Turki, Morroko, Iran, Mughal India dan Aceh
Darussalam di Asia tenggara." Menurut peraturan pemerintah
Saudi Arabia para keluarga dan nadhir dapat menuntut ganti rugi dengan membawa bukti
kepemilikan (tentu memerlukan proses yang lama ia menelusuri siapa nadhir tanah wakaf tersebut, penunjukan pengacara dll) dan
boleh menghadap pengadilan agama Mekkah menuntut ganti rugi dan pergantian di kawasan lain di
Mekkah sehingga tanah wakaf tersebut tidak hilang. Kalau
seandainya tidak ada keluarga pewakaf lagi khusus untuk wakaf
keluarga maka sesuai dengan ikrar wakaf akan beralih milik mesjidil haram atau baital mal. Inilah
pelajaran atau hikmah tradisi wakaf di Mekkah yang semoga
boleh menjadi contoh yang baik bagi pengelolaan wakaf di Aceh. Itulah secuil catatan yang tercecer,
tentang wakaf orang Aceh di Tanah Arab, walaupun generasi
sekarang hanya mengenal bahwa
Aceh adalah Serambi Mekkah. Namun sebenarnya ada rentetan sejarah yang menyebabkan Aceh
memang pernah memberikan kontribusi penting terhadap pembinaan sejarah Islam di Timur
Tengah. Karena itu, selain Aceh memproduksi Ulama, ternyata dari segi material, rakyat Aceh juga memberikan sumbangan dan
wakaf yang masih boleh ditelusuri
hingga hari ini. Kerana itu, saya menduga kuat bahwa tradisi Islam memang telah dipraktek-kan oleh...
MurtawaFz.
No comments:
Post a Comment