Perjalanan HasanTiro
“Catatan
Harian yang
belum
Selesai” (1)
Teungku Hasan
Muhammad di Tiro,
tokoh Proklamator
Kemerdekaan Aceh
ternyata
penulis catatan harian
yang baik. Itu bisa
dibaca dalam karyanya
"The Price of Freedom:
The Unfinished Diary".
Di sini kita
akan menukil satu
persatu isi buku
yang berkisah tentang
perjalanan Hasan Tiro
ketika pulang ke Aceh
36 tahun lalu. Setelah
kepulangannya itu ia
menulis:
" Catatan Harian yang
belum Selesai" itu.
Berikut ini nukilan
buku itu yang dimuat
secara bersambung.
HARI itu, 4
September 1976. Satu
pesawat meninggalkan
New York, Amerika
Serikat (AS). Seorang
penumpangnya adalah
Tengku Hasan
Muhammad di Tiro.
Penerbangan itu
menempuh rute
Seattle - Tokyo -
Hongkong, dan
wilayah-wilayah Asia
Selatan lainnya. Itulah
perjalanan yang
membawa Hasan Tiro
pulang ke Aceh untuk
mewujudkan
impiannya, "Memimpin
rakyat dan negara
saya". Dalam pesawat,
pikiran Hasan Tiro
menerawang jauh.
Namun, ia pun dapat
melupakan semua
kemewahan di tempat
"pengasingan". Anak
satu-satunya dan istri
tercinta yang cantik
jelita, dengan berat
hati harus berpisah.
Meski pun
berada dalam
pengintaian
pemerintah Indonesia,
selama di AS, Hasan
Tiro merasa dirinya
sukses besar dalam
dunia bisnis. Ia masuk
ke jaringan bisnis
besar dan berhasil
menembus lingkaran
pemerintahan di
banyak negara seperti
di AS, Eropa, Timur
Tengah, Afrika, dan
Asia Selatan. Ia
mengecualikan
Indonesia. Ia
menghindar
berhubungan dengan
Indonesia. Dari hasil
keuletannya itu, Hasan
Tiro memiliki relasi
bisnis dekat dengan 50
pengusaha ternama
AS. Perusahaan-
perusahaan mereka
bergerak dalam bidang
petrokimia,
pengapalan,
konstruksi,
penerbangan,
manufaktur, dan
industri pengolahan
makanan. Hasan Tiro
punya hubungan
kerjasama dengan
beberapa perusahan
itu.
Sebagai seorang
konsultan, dia banyak
memimpin delegasi-
delegasi pengusaha AS
untuk bernegosiasi
dalam transaksi bisnis
besar di Timur Tengah,
Eropa, dan Asia. Salah
satu kunjungan adalah
tahun 1973. Hasan Tiro
melawat ke Riyadh
dan disambut Raja
Faisal.
Ada dua hadiah
yang dipersembahkan
Hasan Tiro kepada
Raja Arab Saudi itu.
Satu potret Raja Faisal
berlatar belakang
industri Arab Saudi.
Dan, satu lagi adalah
album koleksi
perangko bergambar
Al- Malik Tengku Tjhik
di Tiro. Ini diberikan
untuk mengingatkan
Raja Faisal akan
kepahlawanan Aceh,
sekaligus kakek buyut
yang dikaguminya.
Meskipun Hasan Tiro
datang sebagai ketua
konsorsium pengusaha
Amerika, dia masih
tetap seorang Aceh,
bukan warga
Indonesia.
Hasan Tiro
tidak pernah
mencampur urusan
bisnis dengan politik.
Rekan-rekan bisnisnya
tidak tahu apa yang
ada dalam benak
pengusaha di
pengasingan itu.
Terutama tentang
ambisinya
mewujudkan
kemerdekaan Aceh
Sumatera. Ia tidak
pernah meminta
simpati, nasihat, dan
dukungan mereka.
Karenanya, nama dan
perusahaan para
pengusaha AS itu tidak
disebutkan Hasan Tiro
dalam buku hariannya
yang belum selesai
tersebut.
Pesawat terus
membawa Hasan Tiro
semakin dekat dengan
Aceh. Ia teringat mati
ketika melongo ke
bawah. Ia takut mati
bukannya karena
kehilangan nyawa, tapi
belum melakukan
sesuatu yang harus
dilakukannya kepada
tanah leluhur dan
rakyatnya.
Lalu, pikirannya
teringat akan musibah
yang pernah
dialaminya. Suatu
ketika di puncak
Pegunungan Rianier,
jet berkapasitas empat
orang mesinnya tiba-
tiba mati mendadak.
Hasan Tiro dan rekan
bisnisnya, DC, duduk
di depan. Di bagian
belakang duduk VDL
dan MP. DC adalah
pemilik perusahaan
pesawat terbesar di
dunia kala itu. Ia juga
mantan pilot yang
sangat handal.
Tujuan perjalanan
mereka adalah
meneliti satu kawasan
di Oregon.
Hasan Tiro
berdoa kepada Allah
agar ia dan tiga rekan
bisnisnya selamat dari
musibah. Ia bahkan
bernazar. Jika selamat
akan segera pulang ke
Aceh sebelum 4
September 1976,
bertepatan dengan
hari ulang tahunnya
ke-46. Hasan Tiro dan
rekan-rekannya
terlepas dari
cengkeraman maut.
Akibat insiden
tersebut, mereka tak
sempat mengikuti satu
acara yang khusus
dipersiapkan di sebuah
hotel mewah di
Seattle.
Nazar yang
diucapkan Hasan Tiro
tidak diurungkannya
lagi. Namun yang
sangat berat baginya
untuk melaksanakan
tugas "membebaskan
Aceh dari penjajahan"
adalah harus
meninggalkan
keluarganya. Ia harus
meninggalkan bocah
laki-lakinya semata
wayang, Karim, yang
saat itu baru berusia
enam tahun. Ia juga
terpaksa membiarkan
istrinya, Dora,
kesepian di tengah
keramaian Kota New
York.
Karim sangat
berkesan bagi Hasan
Tiro. Kemanapun dia
pergi, Karim selalu
dibawa. Karim
mendapat tempat
istimewa dalam
unfinished diary.
Bahkan, ketika Hasan
Tiro sudah berada di
Aceh, salah satu kamp
di hutan dinamakan
sebagai Karim.
Bocah Karim
telah menunjukkan
watak tertentu saat
berusia empat dan
lima tahun. Ceritanya,
ketika Karim dibawa
ke sebuah toko
permen, segerombolan
anak-anak mencoba
mencuri permen.
Penjaga toko tidak
mengetahuinya. Hasan
Tiro yang sedang
melihat-lihat beragam
permen berpikir untuk
melakukan sesuatu.
Tapi belum sempat ia
berpikir, telah ada
bunyi peluit.
Gerombolan itupun
lari pontang-panting .
Saat menoleh ke arah
bunyi tersebut, ia
melihat Karim dengan
sebuah peluit di
tangannya. Wanita tua
penjaga toko itupun
berterima kasih pada
Karim.
Di lain
kesempatan, cerita
Hasan Tiro, Karim
diajaknya ke masjid
untuk shalat Jumat.
Karim selalu menjadi
pandangan orang dan
bahkan dipeluk para
diplomat yang shalat
di gedung PBB, New
York. Diajaknya Karim
shalat di tempat itu,
untuk membuat dia
mengerti akan
perintah agama. Suatu
ketika, Hasan Tiro
sedang berjalan-jalan
dengan Karim di Fifth
Avenue, New York.
Banyak orang yang
mendekati bocah itu
untuk sekedar
berbicara atau
memegang pipinya.
Bila berjalan-jalan
bersama Karim, Hasan
Tiro merasa dirinya
seperti mendampingi
orang penting.
Karena
putranya selalu
menjadi perhatian
para pejalan kaki lain.
Di lain hari, Karim
ditinggalkan ayahnya
di lobi Hotel Plaza.
Hasan Tiro pergi
sebentar untuk
menelepon seseorang.
Belum selesai
menelepon, ia melihat
senator Eugene
McCarthy, yang
kemudian menjadi
seorang calon Presiden
AS, berbicara dengan
Karim. Senator itu
kemudian
menghampiri Hasan
Tiro untuk memberi
pujian kepada Karim.
"Saya harus
menghampiri dan
berjabat tangan
dengan putra Anda,
sebab ia terlihat
tampan sekali!" kata
senator itu seperti
dikutip Hasan Tiro.
Mengenang itu
semua, Hasan Tiro
galau. Tapi, kini
pesawat telah tiba di
sebuah negara Asia,
Hasan Tiro mengatur
rencana agar dapat
masuk ke Aceh.
Selama beberapa
pekan, ia
memantapkan
rencananya. Tepat 30
Oktober 1976, Hasan
Tiro berhasil
menyusup ke Aceh
dengan sebuah kapal
motor kecil. Ia
mendarat dengan
selamat di Pasi Lhok,
Kembang Tanjong,
Pidie. ( Bersambung)
(MeunaSAH,
16/3/1999)
MurtawaFz
MurtawaFz
.jpg)
No comments:
Post a Comment