Tuesday, 8 October 2013

jejak Atjeh di tanah Arab


"Jejak ATJEH di Tanah ARAB."

”Asyi” Sebutan bangsa Aceh dikalangan orang Arab. Gelaran Asyi (Aceh dalam bahasa Arab) ini adalah merupakan sebuah identitas bagi setiap orang Aceh di Arab Saudi yang terhormat, sehingga gelaran "Al Asyi" ini boleh dikatakan sebagai salah satu keturunan bangsa Atjeh yang ada di Tanah Arab. Sebutan Negara Atjeh adalah tidak Asing bagi sebagian orang Arab, walaupun sekarang hanyalah salah satu Propinsi di negara kepulauan Hinduweda (Indos Nesos) itu. Kerana inilah, saya memandangkan bahwa kemuliaan orang Aceh di Arab Saudi sangat luar biasa. Lagipun gelaran
macam ini tidak begitu banyak, namun mengingat kontribution para Asyi ini kepada kerajaan Arab Saudi, saya berkeyakinan bahwa
ada hubungan yang cukup kuat, secara Rasional antara tanah
Arab dengan tanah Serambi (Atjeh). Banyak sekali orang Arab berketurunan Aceh, mendapat kedudukan yg bagus di kerajaan Arab Saudi, seperti Alm Syech Abdul Ghani Asyi mantan ketua Bulan Sabit Merah Timur Tengah, Alm Dr jalal Asyi mantan wakil Menteri Kesehatan Arab Saudi, DR Ahmad Asyi mantan wakil Menteri Haji dan Wakaf, begitu juga banyak sekali harta wakaf negara Atjeh, sekarang masih ada disana. Kita akan mendedahkan tradisi
sumbang menyumbang
masyarakat Aceh di Tanah Hijaz itu (Mekkah, Saudi Arabia) pada abad ke-17 M. Ini menarik agar kita tahu bagaimana kontribusi Aceh di atas tanah hijaz (sekarang bernama Saudi Arabia, red), Orang Aceh bukan hanya mewakafkan tanah saja, melainkan
juga emas yang didatangkan khusus dari Bumi Serambi Mekkah ke
Negeri Mekkah Al-Mukarramah ini. Di riwayatkan bahwa pada tahun 1672 M, Syarif Barakat penguasa Mekkah pada akhir abad ke 17
beliau mengirimkan duta besarnya ke timur. Bagi mencari sumbangan untuk
pemeliharaan Masjidil Haram. Kerana kondisi Arab pada waktu itu
masih dalam keadaan miskin. Kedatangan mereka ke Aceh setelah Raja Moghol, Aurangzeb (1658-1707), tidak mampu memenuhi keinginan Syarif Barakat itu. Dia saat itu belum sanggup memberi sumbangan seperti biasanya ke Mesjidil Haram. Setelah empat tahun rombongan Mekkah itu terkatung-katung di New Delhi India. Atas nasehat pembesar di sana, rombongan ini berangkat ke Aceh dan tiba di Aceh pada tahun 1092 H (1681M). Sudah sampai di Aceh, duta besar Mekkah
ini disambut dan dilayani dengan
baik dan hormat, Oleh Sri Ratu Zakiatuddin Inayatsyah (1678-1688 M). Di luar dugaan, kedatangan utusan syarif Mekkah
itu menyulut semangat kelompok wujudiyah yang anti pemerintahan perempuan. Namun, kerana sosok Sultanah Zakiatuddin yang ‘alim dan mampu berbahasa Arab
dengan lancar. Bahkan menurut sejarah, dia berbicara dengan para tetamu ini dengan menggunakan
tabir dari sutra Dewangga (Jamil: 1968). Utusan Arab sangat gembira diterima oleh Sri Ratu Zakiatuddin, kerana mareka tidak mendapat pelayanan serupa ketika di New
Delhi, India. Bahkan empat tahun mereka di India, tidak dapat bertemu Aurangzeb.
Ketika mereka pulang ke Mekkah, Sri Ratu Zakiatuddin InayatSyah, memberi mereka cendra mata (hadiah) untuk rombongan dan Syarif Mekkah itu, juga sumbangan untuk
Masjidil Haram dan Masjidil Nabawi di Madinah. Terdiri dari:
tiga kinthar emas murni, tiga rathal kamfer, kayu cendana dan civet (djeubeuët musang), tiga gulyun
(alat penghisap tembakau) dari emas, dua lampu kaki (panyeöt-deông) dari emas, lima lampu
gantung dari emas untuk Masjidil Haram, lampu kaki dan kandil dari emas untuk Masjid Nabawi. Pada tahun 1094 (1683 M) mereka kembali ke Mekkah, dan sampai di Mekkah pada bulan Sya’ban 1094 H (September 1683 M). Dua orang bersaudara dari rombongan duta
besar Mekkah itu, yakni Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim, tetap menetap di Aceh atas permintaan para pembesar negeri Aceh, kerana pada saat itu banyak anti raja perempuan (Jamil:1968). Mereka dipujuk untuk tetap
tinggal di Aceh, sebagai orang
terhormat dan memberi pelajaran
agama, dan salah satu dari mereka, kahwin dengan Kamalat Syah, adik Zakiatuddin Syah.
Lima tahun kemudian setelah duta besar Mekkah kembali ke Hijaz dengan meninggalkan Syarif
Hasyim dan Syarif Ibrahim di Aceh,
Sultanah Sri Ratu Zakiatuddin InayatSyah wafat, tepat pada hari Ahad 8 Zulhijjah 1098 H (3 Oktober 1688 M). Pemerintahan Aceh digantikan oleh adiknya yaitu Seri
Ratu Kamalatsyah yang bergelar juga Putroe Punti. Dia diangkat menjadi Ratu pemerintahan
kerajaan Atjeh atas saran Syeikh Abdurrauf Al Fansury, yang bertindak pada saat itu sebagai Waliyul-Mulki (Wali para Raja). Baru setelah meninggalnya Syeikh Abdurrauf pada malam isnin 23
Syawal 1106 H (1695M), konflik mengenai kedudukan
pemerintahan Aceh dibawah pemerintahan ratu, yang telah berlangsung 54 tahun sejak Safiatuddin Syah (1641-1675M ) terguncang kembali. Hal ini dipicu oleh fatwa dari Qadhi Mekkah yg tiba ketika itu. Menurut sejarah, “fatwa import” ini tiba dengan "jasa baik" dari golongan Oposisi ratu. Lalu pemerintah Aceh, diserahkan kepada penguasa yang berdarah Arab, yaitu salah satu dua utusan
Syarif dari Mekkah,




MurtawaFz

No comments:

Post a Comment

RUMUS MENGETAHUI JATUHNYA MALAM LAILATUL QADAR

Menurut Imam Al Ghazali Cara Untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari permulaan/hari pertama bulan Ramadhan : 1. Jika hari pertama ...