Tuesday, 8 October 2013

"SUMATERA, SIAPA PUNYA?"


UCAPAN ini saya tujukan kepada Saudara - saudara saya bangsa Sumatera, dari Atjeh sampai ke Lampung, dari Sabang sampai ke Bangka dan Belitung. Perjumpaan kita hari ini bermakna: saya sudah datang untuk mengunjungi Saudara - saudara sekalian, dan masing - masing, dimana saja Saudara - saudara berada: di rumah, di pejabat, di pasar, diatas tanah Ibu Sumatera, atau di perantauan. Mengapa saya lakukan ini? Sebab saya menghargai dan memuliakan Saudara - saudara saya se-Sumatera: Setiap anak Sumatera mempunyai nilai yang tinggi dalam perhitungan saya; Setiap orang Sumatera berat yang menentukan dalam neraca saya. Saudara - saudara bukan hanya satu angka yang tidak berarti apa - apa dalam statistik, sebagaimana dibuat oleh perampok - perampok Jawa selama 46 tahun akhir - akhir ini, yakni sejak tahun 1945. Dalam statistik mereka, kita semua akhirnya jatuh dalam keranjang sampah minoriti yang tetap walaupun kita berjumlah 25 juta jiwa. Kita yang hidup atas tanah kita sendiri tetapi dinamakan minoriti dari satu bangsa lain, yang hidup di pulau/negeri lain, di seberang lautan, yang tidak ada hubungan apa - apa dengan kita. Bangsa Jawa tidak ada hak untuk memerintah di pulau Sumatera. Walaupun mereka lebih banyak dari pada kita, sebagaimana bangsa China tidak ada hak untuk memerintah bangsa - bangsa lain di Asia, Walaupun mereka berjumlah lebih 1000 juta jiwa. Hak kita untuk merdeka sendiri di Sumatera adalah mutlak, tidak ada sangkut - pautnya dengan bangsa Jawa. Mereka tidak boleh meminoriti - kan kita di atas Tanah Ibu kita sendiri, Sumatera. Dalam sistem demokrasi, konsep minoriti itu diterima dengan syarat bahwa minoriti itu dapat menjadi mayoriti sesewaktu dan dengan pasti - pasti. Tetapi dibawah penjajahan Jawa yang bernama 'INDOS NESOS', ini tidak bisa terjadi sebab bangsa Jawa mahu menjadi mayoriti yang tetap selama - lamanya. Mereka memakai nama 'demokrasi' hanya untuk propaganda dan penipuan politik semata - mata.
Pada tanggal 4 Desember, 1976, 15 tahun yang lalu saya sudah menyatakan kepada dunia bahwa Atjeh mahu Merdeka kembali sebagai sediakala: bahwa penjajahan bandit - bandit Jawa dari Jakarta yang sudah terjadi selama 46 tahun yang akhir - akhir ini tidak dapat menghapuskan Sejarah Negara Atjeh Merdeka yang sudah lebih 1000 tahun itu, dan diakui oleh dunia! 46 tahun penjajahan bandit - bandit Jawa tidak mungkin dapat menghapuskan 1000 tahun Sejarah Atjeh Merdeka! Dan Sejarah Atjeh Merdeka sama dengan Sejarah Sumatera Merdeka!
Sejarah Atjeh Merdeka tidak dapat dihapuskan lagi sebab sejarah ini sudah berurat dan sudah berakar sampai kehati bumi! Ini di tangan saya ada satu dokumen yang diterbitkan dalam surat kabar Inggeris, THE TIMES (London), pada tanggal 28 Januari, 1991. Dokumen ini di tanda tangani oleh 4 orang anggota Parlemen Inggeris yang paling terkemuka, yaitu: Lord Avebury, Anggota House of Lords, Majlis Tinggi Parlemen Inggeris. Beliau adalah Ketua dari pada Badan Urusan Hak Manusia dari Parlemen Inggeris. Kemudian dokumen ini ditanda tangani oleh Sir Bernard Braine, Wakil Ketua I dari pada Badan Urusan Hak Manusia Parlemen Inggeris itu; kemudian ditanda tangani oleh Mr. Lloyd, Wakil Ketua II dari Badan Parlemen itu; dan oleh Mr. Anthony Coombs, Sekretaris Jenderal dari Badan Parlemen itu.

Isi ini dari pada dokumen Wali Negara Atjeh Sumatera Merdeka, Allahyarham Duli Yang Maha Mulia Paduka Wali Nanggroé Teungku Sjih Prof. Dr. Hasan Muhammad di Tiro..


MurtawaFz

No comments:

Post a Comment

RUMUS MENGETAHUI JATUHNYA MALAM LAILATUL QADAR

Menurut Imam Al Ghazali Cara Untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari permulaan/hari pertama bulan Ramadhan : 1. Jika hari pertama ...